Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata....

Jumat, 12 Desember 2008

Malam Renungan AIDS di Pendopo


Keberadaan nelayan asing ilegal seperti dari Thailand, Vietnam dan Singapura ternyata tidak hanya mencuri kekayaan laut saja, tapi dibalik itu mereka juga terindikasi sebagai salah satu penyebar penyakit menular seksual bernama HIV/AIDS.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Kalbar, Syakirman, ketika mewakili Gubernur Cornelis menghadiri malam renungan AIDS di aula Pendopo Gubernur, Rabu (10/12) malam. Acara yang diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Kalbar bersama Taruna Merah Putih (TMP) DPD Kalbar itu dihadiri sebagian besar kaum muda.
Menurut Syakirman, untuk menanggulangi hal tersebut Pemprov sudah berupaya keras agar nelayan-nelayan ilegal tersebut jangan sampai masuk ke wilayah Indonesia terutama Kalbar.
“Jika sampai kecolongan masuk dan tertangkap maka secepatnya di deportasi ke negara asalnya,” ujar Syakirman dengan nada geram.
Tindakan tersebut bukan tanpa alasan, sebab selama ini nelayan asing yang masuk ke wilayah perairan Indonesia selain mengambil ikan (illegal fishing) juga menyebarkan virus penyakit HIV/AIDS melalui hubungan seks bebas dengan “wanita malam” di kota tempat mereka singgah.
Fenomena penyakit Acguired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV) mampu merusak kekebalan tubuh manusia. “Karenanya, perlu diwaspadai generasi muda khususnya di Kalbar yang saat ini menghuni peringkat ke lima kategori penularan HIV/AIDS setelah Papua dan DKI Jakarta,” ungkap Syarif Totok Thaha Alkadrie ditemui usai renungan.
Sehubungan dengan itu, Totok mengharapkan agar wanita penjaja cinta (WPC) yang menjadi biang utama penyakit mengerikan ini supaya mengaku dan menyerahkan diri untuk segera ditangani KPA supaya tidak menular pada yang lainnya.
Kepada generasi muda, Totok mengharapkan jangan sampai penyakit itu hinggap di badan generasi penerus, karena tidak seorangpun dapat mengetahui apakah seseorang sudah terinfeksi HIV atau belum bila hanya menilai dari penampilan saja. Walaupun sudah terinfeksi HIV gejalanya tidak nampak sampai berkembang menjadi AIDS. “Jadi lebih baik mencegah daripada mengobati, untuk itu masyarakat agar lebih berkonsentrasi mengambil langkah pencegahan,” ujar Totok lagi.(Hentakun/Borneo Tribune, Pontianak)

1 komentar:

swisserikin mengatakan...

I hope the authority will look into the numerous cases of the spread of HIV in border areas namely Lubok Antu/Badau, Jagoi and Entekong as well. I can assist to coordinate with the Sarawak authority to promote awareness of HIV.

 
Copyright  © 2007 | Design by uniQue             Icon from : FamFamFam             Powered by Powered By Blogger