Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata....

Selasa, 2009 Juni 09

Ribuan Massa Hadiri Deklarasi Mega-Prabowo


Hentakun
Borneo Tribune, Pontianak


Deklarasi Tim Kampanye Capres Megawati-Prabowo di Kalbar hari ini, Rabu (10/6) akan dihadiri ribuan massa yang datang dari 14 Kabuppaten/Kota se Kalbar. Rencananya, acara deklarasi itu dibuka Ketua DPD PDIP Kalbar, Cornelis, sebagai penanggung jawab Tim Kampanye Mega-Prabowo di Kalbar.
Demikian disampaikan ketua Tim Kampanye Daerah Kalbar untuk pemenangan capres Megawati-Prabowo, M. Kebing L. di Pontianak, Selasa (9/6).

Deklarasi dilaksanakan di Grand Mahkota Hotel, dimulai pukul 13.00 WIB, dilanjutkan pembekalan tim kampanye dari partai pengusung.
Adapun partai pengusung adalah PDIP dan Gerindra, yang didukung PSI, Partai Buruh, Partai Merdeka, PPNU, PNI Marhaen, Pakarpangan, Partai Kedaulatan.
Hadir juga dari Tim Kampanye Pusat, ketua bidang advokasi Tim Kampanye Mega-Prabowo, Firman Jaya Delli yang kesehariannya menjabat ketua Bidang Advokasi DPP PDIP.
Lebih jauh caleg terpilih DPRD Provinsi dari PDIP Dapil Kalbar 7 (Sintang-Melawi dan Kapuas Hulu) itu, mengatakan, massa yang datang dari seluruh Kabupaten/Kota dan ditambah ketua, sekretaris dan bendahara masing-masing partai pengusung dan pendukung. Untuk Kota Pontianak, setiap kecamatan ada perwakilan.
”Ini basis kita, tahun 2004 kita menang dalam pilpres, sekarang harus sapu bersih lagi, tekad kita menangkan Mega-Prabowo,” tegas Kebing.
Untuk pilpres 2004 putaran I di Kalbar, Megawati-KH Hasyim Muzadi unggul telak dengan para pesaingnya dengan memperoleh suara 821.577 suara. Jauh meninggalkan pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid dengan 415.492 suara, M Amien Rais-Siswono Yudo Husodo dengan perolehan suara 185.097, Hamzah Haz-Agum Gumelar dengan 113.244 suara dan terbanyak kedua yakni Susilo Bambang Yudhoyono-M Jusuf Kalla dengan 477.724 suara.
”Perolehan suara pilpres 2004 itu jadi patokan, sehingga kita tetap yakin mampu mendulang dukungan suara di Kalbar,” tegas Kebing lagi.

Baca Selengkapnya...

Minggu, 2009 Februari 01

Lomba Sampan Tradisional TMP Kalbar


SAMPAN TRADISIONAL
Peserta lomba dayung yang akan diresmikan oleh Karolin Margret Natasa, Ketua DPD Taruna Merah Putih Kalbar. Foto Rosalinda/Borneo Tribune
================
Terik panas matahari yang menyengat tidak menyurutkan niat warga untuk menyaksikan lomba sampan tradisional tingkat provinsi yang dilaksanakan di Jalan Ya’M.Sabran Gg Manunggal Kelurahan Tanjung Hulu Kecamatan Pontianak Timur, Minggu(1/2).Mulai dari jalan gertak hingga rumah-rumah penduduk di sekitar lokasi lomba di padati pengunjung yang terdiri dari berbagai kalangan.

Lomba Sampan Tradisional yang dilaksanakan oleh DPC Tarunaq Merah Putih Kota Pontianak dibuka oleh Ketua DPD Taruna Merah Putih Kalbar dr Karolin Margret Natasa dengan menggunakan speed boat yang disambut antusias oleh penonton disepanjang sungai Landak ini.
Menurut Karol lomba sampan tradisional ini merupakan salah satu bentuk perhatian dari DPC Taruna Merah Putih Kota terhadap tradisi masyarakat kota Pontianak, dan kami juga mengharapkan masyarakat juga dapat memberikan perhatian lebih, khususnya kepada lomba tradisioanl karena ini merupakan cirri khas dan tidak ada disetiap daerah, dan lomba sampan tradisional ini sebenarnya ada di hati masyarakat hal ini terlihat dari antusias warga untuk menyaksikan lomba ini.
“ Kita juga berharap nantinya ada banyak pihak yang menaruh perhatian terhadap lomba ini sehingga nantinya tetap bisa lestari bahkan mampu membawa nama Kalbar dalam tingkat Nasioanal maupun Internasional, seperti saat di Malaysia kita sering menang untuk lomba sampan tradisional ini”, ungkap Karol yang juga Caleg DPD RI no 3 dari PDI Perjuangan Kalbar ini.
Gubernur Kalbar Cornelis yang menyempatkan diri untuk melihat secara langsung sebagai bentuk perhatian pemerintah provinsi untuk olah raga lomba sampan tradisional inipun menyatakan kekagumannya terhadap antusias warga dan semangat para peserta lomba. Bahkan saat menyaksikan lomba ini gubernur mengatakan,” Seru, olah raga ini seru, nanti kita akan hitung-hitungan, saya sudah perhatikan tadi, kita akan tambah” uncap Gubernur trkait masalah anggaran untuk olah raga dan lomba tradisional.
Sememtara itu menurut ketua Panita Lomba Sampan Tradisional M Yusuf mengatakan lomba ini diikuti oleh 4 Kabupaten dan Kota yang terdiri dari Pontianak 14 peserta, Kubu Raya 7 peserta, Landak 7 peserta, Sambas 4 peserta, dengan hadiah berupa uang tunai dan piala bahkan kita baru mendapatkan tambahan hadiah dari Gubernur Kalbar dalam bentuk uang, sehingga juara 1 yang seharusnya mendapatkan uang tunai sebesar Rp 2,5 juta menjadi Rp 6 juta”.
“Selain itu acara ini berjalan sesuai dengan rencana bahkan melebihi target dari 21 peserta, ternyata yang mengikuti sampai teknikal metting kemarin menjadi 32 peserta, dan kita akan berusaha menjadikan kegiata ini rutin setiap tahunnya”, Ungkap Yusuf

Baca Selengkapnya...

Pucak Peringatan HUT Pemprov ke 52


Puncak dari rangkaian kegiatan HUT Pemprov yang ke 52 ini digelarnya Dispora Sport Festifal yang berlangsung di kantor Gubernur Kalbar, Sabtu (31/1).

Berbagai kegiatan Dispora sprort Festifal dilakukan mulai dari Senam, gerak jalan sehat, tarik tambang putra, terompah panjang putri, sumpit exsibisi utk ekselon I dan II, Lomba bola dangdut dan lomba untuk anak-anak, serta Lomba membuat tumpeng,dinas instansi dan lembaga ormas perempuan, serta membuat kue sukun, kabupaten kota dan dinas, selain itu juga dilakukan lomba makanan khas kalbar rumah makan dan restoran serta hotel.
Selain Dinas serta Badan dilingkungan Pemrov, hadir pula anggota kepolisian serta Angkatan Udara yang memenuhi halaman Kantor Gubernur Kalbar
Menurut Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga Provinsi Kalbar Utin Kusumawati yang ditemui usai acara mengatakan Kegiatan ini khususnya lomba yang bertanggung jawab adalah wakil ketua II yaitu Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga. Jadi hari ini kita padukan disamping kegiatan olah raga, ada juga permainan, dan juga lomba masak bagi Dharma Wanita dan PKK, serta Dinas Instansi
Kita berharap kedepan Pemuda harus maju, dan olahraga kita harus jaya sesuai dengan Yel-yel kita bahwa Pemuda Maju Olah Raga Jaya tentunya dengan berbagai program yang tidak sendiri, tapi harus bekerja sama dengan semua komponen masyarakat.
Kalau bicara olah raga dulunya kami berada di Badan yang sifatnya lebih ke koordinasi, nah saat ini kita lebih mengarah ke Implementasi jadi lebih ke pengembangan olah raga kajian-kajiannya akan lebih kita tekankan, agar pemuda itu bisa mandiri, professional, sehingga mereka harus bisa kreatif
Sementara itu Gubernur Kalbar Cornelis yang juga turut mengikuti kegiatan ini mengatakan HUT Pemprov ke-52 kali ini memang diadakan secara sederhana, tapi cukup meriah. Gubernur berharap dalam setahun ini kita harus bekerja lebih baik, kalau dulu bisa santai saat ini tidak bisa lagi, mulai dari disiplin jam kerja.

Baca Selengkapnya...

Selasa, 2009 Januari 27

Stop Pertanyakan Nasionalisme Tionghoa

CHRISTIANDY: KAMI BUKAN CHINA


OPEN HOUSE
Gubernur Kalbar Cornelis beserta keluarga berkunjung ke rumah Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya yang merayakan Imlek, Senin (26/1). FOTO Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune
============
Budi Rahman
Borneo Tribune, Pontianak

Langit kota diwarnai bunga api, membawa keriangan anak negeri. Meski beda adat dan tradisi mereka bangga menjadi anak negeri.
Suasana perayaan pergantian tahun menjelang musim semi berlalu semarak di seluruh penjuru kota. Tahun baru Imlek 1560 di Kota Pontianak menghadirkan kemeriahan dan kesenangan bagi yang merayakan atau sekedar turut menyaksikan. Pemandangan dan kesemarakkan itu terpancar sejak hari menjelang senja.

Perayaan Imlek masyarakat Tionghoa di Kalbar seperti menemukan momentumnya tahun ini. Meski sempat diwarnai riak-riak kecil dengan adanya ancaman gesekan sosial di level grass root malam perayaan Imlek tetap berjalan meriah. Tradisi yang mewarnai datangnya hari besar warga Tionghoa itupun tersaji indah.
Pesta kembang api hampir semalam suntuk menghiasi langit Kota Pontianak. Sambut menyambut cahaya kembang api membuncah seperti pelangi di malam hari. Tak terhitung jumlah titik dan jumlah nyala kembang api yang menjadikan langit Kota Pontianak indah di malam itu.
Pendopo Gubernur Kalbar di Jalan Ahmad Yani menjadi salah satu sentra peluncuran kembang api di malam tahun baru Imlek. Gubernur, Wakil Gubernur dan sejumlah pejabat teras provinsi hadir pada malam itu. Seperti halnya pada malam-malam istimewa bagi warga Kalbar penganut agama dan tradisi lainnya, malam Imlek juga dirayakan di rumah rakyat itu. Barongsai, kembang api, lampion dan simbol-simbol etnik Tionghoa lainnya ditata dengan indah.
Sejak naiknya Cornelis sebagai orang nomor satu di Kalbar, semua entitas diberikan ruang gerak dan kebebasan berekspresi yang sama porsi dan perhatiannya. Tidak muncul kesan diskrimasi dan “penganak emasan” terhadap salah satu entitas. Itu terlihat dengan mata telanjang, nyata dan bukan sekedar retorika.
Terbukti, pada saat Natal, Gubernur yang seorang Dayak--Katolik ini merayakannya dengan wajar di Pendopo. Pun begitu pada saat Idul Fitri, ia yang bukan seorang Muslim tetap ikut memfasilitasi perayaan itu di Pendopo. Bersama Ketua DPRD Kalbar, Zulfadhli, pada malam takbiran ia membunyikan meriam karbit di Pendopo. Meriam karbit sebuah tradisi orang Melayu-Islam menyambut Lebaran ia “gotong” ke Pendopo. Ini belum pernah terjadi pada gubernur-gubernur Kalbar sebelumnya.
Lebaran, Natal, Imlek atau hari besar lainnya merupakan media, ruang untuk mengekspresikan keyakinan dan kegembiraan para penganut agama atau budaya. Ia menjadi sebuah penyaluran terhadap ekspresi keyakinan dan keimanan para penganutnya. Sudah selayaknya memang bagi Negara yang menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan memberikan kemerdekaan bagi warganya untuk merayakan hari besar itu.
Perayaan Imlek di Indonesia paska gerakan reformasi semakin mendapatkan ruang yang luas. Kebijakan pemerintah di zaman Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) yang mencabut Kepres yang mengekang kebebasan dan adat istiadat masyarakat Tionghoa di Indonesia menjadi momentum bangkitnya budaya Tionghoa di Indonesia.
Membincang tentang ruang ekspresi warga Tionghoa di Indonesia memang tidak bisa lagi berangkat dari paradigma zaman kolonial. Di zaman penjajahan prasangka dan kecurigaan antar entitas menjadi panglima dan struktur politik yang dibangun oleh penjajah. Dengan modal politik pecah belah devide et impera, Belanda sukses membungkam potensi besar bangsa Indonesia. Persatuan adalah musuh besar pemerintah Hindia Belanda. Sangat disayangkan bila kebijakan dan model politik itu masih dikembangkan oleh pemerintah di era kemerdekaan.
Wakil Gubernur, Christiandy Sanjaya menentang keras pandangan politik yang masih meragukan nasionalisme etnis Tionghoa di kancah politik nasional. Ia menyayangkan masih adanya paradigma pra kemerdekaan yang dipakai sebagian pihak untuk menilai etniknya.
“Kita tidak bisa pungkiri di masa lalu ada pertikaian antar anak bangsa, itu bagian dari sejarah. Tapi kita tidak bisa hidup dengan praduga seperti itu selamanya,” kata Christiandy saat berbincang dengan rombongan jurnalis Borneo Tribune menghadiri open house di kediamannya, Jalam GM Said.
Christiandy di tengah-tengah acara Imlek yang dihadiri sejumlah petinggi provinsi tampak berbincang serius dengan jajaran redaksi Borneo Tribune. Isu keretakan sosial yang membayangi momentum perayaan Imlek dan Cap Go Meh mendapat apresiasi serius darinya.
Christiandy sebagai wakil warga Tionghoa Kalbar yang kini duduk di kursi eksekutif tertinggi, berharap prasangka dan kecurigaan terhadap warga Tionghoa bisa dikesampingkan. Secara geneologis Ia menilai tak ada yang terlalu dipersoalkan antara Tionghoa dan anak bangsa lainnya. “Saya baca tulisan Pak Suwito, rupanya China itu yang Melayu juga. Itu kan artinya tidak ada perbedaan antara kita,” katanya.
Meski begitu, secara etnisitas Christiandy menyebut dirinya lebih merasa dihargai disebut sebagai Tionghoa, bukan China.
“Kami bukan China. Ini soal nasionalisme, kalau China kan ada negaranya. Sedangkan kita sudah menjadi bagian dari negeri ini. Tidak mungkin kita juga mengaku sebagai China sementara kita hidup sebagai warga Negara Indonesia,” seru pemilik nama asli Bong Hong San ini.
Harapan Christiandy terhadap identitas budaya dan nasionalismenya sebagai warga Negara bukan sautu bentuk utopia atau euphoria. Secara kultural asimilasi budaya juga telah merasuk dalam raga warga Tionghoa. Proses kawin mawin antar warga telah terjalin antara warga Tionghoa dengan etnis lainnya.
“Paman saya kawin dengan orang Melayu Sambas. Saya manggilnya Pak Long. Kita sudah lama punya ikatan dengan saudara-saudara kita yang kebetulan Melayu. Jadi kalau sama-sama kita kok ada bertikai, saya merasa heran,” ujar Wagub di hadapan para tamu-tamunya yang lain.
Jika menilik perjalanan sejarah bangsa ini, secara jujur harus diakui peran warga Tionghoa untuk republik tidak sedikit. Sama seperti warga peranakan lainnya, seperti Arab atau Eropa. Nama-nama seperti John Lie, perwira militer di Angkatan Laut RI di zaman kemerdekaan, Soe Hok Gie, aktivis idealis, atau Yap Thiam Hien sang pejuang HAM tidak diragukan dedikasi dan nasionalisme mereka. Masih banyak deretan nama-nama tokoh Tionghoa lainnya yang telah dan akan memberikan kiprah dan perjuangan mereka bagi republik ini. Alangkah naifnya jika, sesama anak bangsa kita menghalangi mereka memberikan darmanya pada ibu pertiwi.

Baca Selengkapnya...

Kunjungan Kerja Gubernur Kalbar (6)

DAMRI TERGELINCIR, CORNELIS TURUN TANGAN



Borneo Tribune, Sintang

Sebuah Bis Damri dengan nomor polisi KB 7787A yang dipenuhi dengan penumpang tergelincir dan menutupi jalan di Dusun Lengkenat Kecamatan Sepauk Kabupaten Sintang, Sabtu (24/1).

Bis yang dipenuhi oleh penumpang jurusan Sintang-Pontianak ini tergelincir diduga akibat kelalaian sang supir saat mengemudi, sehingga saat melewati jembatan mobil ini tidak dapat dikendalikan dan keluar dari batas aspal.
Rombongan Gubernur yang akan pulang ke Pontianak juga ikut tertahan tepat di samping bis tersebut. Gubernur Kalbar Cornelis pun akhirnya harus turun tangan karena tertahan selama 2 jam.
Kepala Dusun Kamung Lengkenat Kecamatan Sepauk Safril pun dipanggil Gubernur untuk menebang semak-semak yang berada di depan bis yang sudah tak berdaya ini. Setelah dibantu oleh sepuluh orang warganya untuk membuka jalan tepat di depan Bis ini, akhirnya kendaraan roda dua dan roda empat dapat melewati bis yang melintang ini.
Sebelum melanjutkan perjalananya kembali Gubernur Cornelis sempat berbincang-bincang dengan warga setempat serta para penumpang Bis Damri, dan Cornelis meminta melalui Kepala Dinas Perhubungan yang saat itu ikut dalam rombongan untuk melakukan kordinasi dengan pihak Bis Damri dan menindak tegas supir yang lalai dan membahayakan penumpang ini.

Baca Selengkapnya...

Senin, 2009 Januari 26

Pertemuan Gubernur Kalimantan dengan DPD-RI

KALIMANTAN TUNTUT KEADILAN


GUBERNUR KALIMANTAN
Gubernur Kalteng, Teras Narang, bersalaman dengan Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya, dan Gubernur Kaltim Awang Farouk, pada pertemuan empat Gubernur Kalimantan dengan DPD RI, Jumat (23/1). FOTO Citra/Humas Pemprov Kalbar
=============
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terus berupaya mendorong percepatan pembangunan di segala sektor baik di bidang peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), peningkatan ketahanan pangan, perdagangan dan industri, sarana perhubungan darat, udara dan laut seperti rencana pembangunan pelabuhan bertaraf Internasional, dan lain sebagainya.

Namun lagi-lagi kendala yang dihadapi adalah minimnya insfrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, irigasi, energi listrik, termasuk air bersih.
Hal itu dikatakan Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya, pada pertemuan empat Gubernur se-Kalimantan dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI) di Jakarta, Jumat (23/1).
Adanya gagasan mempersatukan empat Provinsi di wilayah Kalimantan ini suatu langkah maju untuk menjawab segala permasalahan yang ada. Untuk itu bersama DPD RI dan pihak-pihak terkait lainnya kita perlu menyampaikan beberapa usulan kepada Pemerintah Pusat tentang langkah-langkah percepatan pembangunan di wilayah Kalimantan baik di bidang infrastruktur, perekonomian, sumber daya manusia, tata ruang maupun regulasi, sambung Christiandy.
“Kalimantan bersatu wujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya demi kejayaan NKRI” itulah tema yang diusung dalam pertemuan empat Gubernur se-Kalimantan dengan DPD RI yang berlangsung di Gedung Nusantara V DPR RI.
“Kita tidak bisa biarkan wilayah Kalimantan yang merupakan salah satu dari NKRI ini tertinggal jauh terus menerus dalam berbagai aspek pembangunan. Sudah saatnya kita bertindak dan bersatu menyatukan langkah untuk menuntut perhatian serius pemerintah pusat agar bertindak adil dalam menjalankan amanat UUD 1945,” katanya.
Selama ini Pemerintah Pusat kurang serius memberikan perhatian tehadap pembangunan di wilayah Kalimantan. Sungguh sangat ironis jika Kalbar, Kateng, Kalsel dan Kaltim yang kaya akan sumber daya alam justru masyarakatnya hidup dalam lingkaran kemiskinan.
Gubernur Kalteng, Teras Narang, yang juga selaku Ketua FKRP2RK, mengatakan, Kalimantan telah memberikan konstribusi yang besar terhadap Negara. Sebagai contoh di bidang sumberdaya batu bara berdasar data tahun 2007 produksi batubara Nasional sebesar 216 juta ton, 94,4% diantaranya dari Kalimantan. Sementara ekspor mencapai 158,8 juta ton (71% dari total konsumsi) 96,4% eksport tersebut berasal dari Kalimantan.
Begitupun konsumsi dalam negeri sebesar 64, 1juta ton (29% dari total konsumsi), dimana 86,5% diantarnya dari Kalimantan. Sumbangan pertambangan atas PNB (2007) sebesar 8,7 trilyun, 61% diantaranya berasal dari batubara, paparnya.
“Untuk itu melalui pertemuan ini kita mengharapkan agar DPD-RI ikut sama-sama berjuang agar aspirasi yang kita sampaikan ini bebar-benar bisa terealisasi,” tegas Teras Narang.
Pertemuan tersebut dibuka oleh Ketua DPD-RI Ginanjar Kartasasmita dan dihadiri Gubernur/Wakil Gubernur dan Bupati/Walikota se-Kalimantan. (Citra/Humas Pemprov Kalbar)

Baca Selengkapnya...

PLB Badau Segera Dibuka


POSA LINTAS BATAS
Gubernur Kalbar Cornelis menijau Pos Lintas Batas Badau, dan patok batas Indonesia-Malaysia, Sabtu (24/1) FOTO: Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune
==========
Keinginan Bupati Kabupaten Kapuas Hulu, H. Abang Tambul Husin, serta masyarakat Kapuas Hulu yang mendesak kepada pemerintah provinsi Kalimantan Barat untuk segera membuka pintu pos lintas batas (PLB) Badau, akan segera terwujud.

Gubernur Kalbar Cornelis yang merupakan wakil dari pemerintah pusat di daerah menegaskan akan segera membuka pintu PLB secepatnya.
“Kita sudah menghitung untuk membangun sarana, prasarana, serta infastruktur sepanjang perbatasan Kalbar dengan negara asing (Malaysia) ini menghabiskan dana sekitar Rp4,7 Triliun, dan saat ini kita sudah mengajukannya kepada Pemerintah Pusat di Jakarta,” ungkap Cornelis saat meninjau dan melihat langsung kondisi di PLB Badau, Sabtu (24/1).
Hal itu sangat penting dalam membantu percepatan pertumbuhan perekonomian masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu terutama di wilayah perbatasan. PLB Badau merupakan salah satu pilar utama bagi Kabupaten Kapuas Hulu untuk mengembangkan berbagai sektor pembangunan terutama sektor pariwisata.
Selain itu, dibukanya PLB Badau akses ke luar negeri menjadi lebih mudah dan antara pemerintah pusat dan daerah diharapkan tidak adanya lagi tarik ulur mengenai PLB Badau ini seperti yang lalu-lalu.

Baca Selengkapnya...

Kunjungan Kerja Gubernur Kalbar (5)

Rp10 Miliar untuk Jalan Badau


ADAT MELAYU
Gubernur Kalbar Cornelis beserta rombongan disambut dengan adat Dayak Iban dan Melayu saat tiba di Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Jumat (23/1). Gubenur akan meninjau Pos Lintas Batas Badau sebelum mengakhiri kunjungan kerjanya di kabupaten paling timur Kalbar itu. FOTO Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune
==============
Lukas B Wijanarko
Borneo Tribune, Badau


Di hari terakhir kunjungan kerjanya Gubernur Kalbar Cornelis, beserta rombongan menuju kecamatan Badau melewati Jalan Raya Lintas Utara dengan jarak sekitar 200 Kilometer dari Kota Putusibau.

Kondisi jalan hingga ke Badau hampir seluruhnya rusak berat dan hanya bisa dilalui mobil-mobil doble gardan atau 4WD.
Di Desa Langan Baru Kecamatan Balau Hulu, sekitar 90 Km dari Putusibau, Gubernur menyinggahi sebuah warung milik Hermanus dan berbincang-bicang seputar kondisi jalan. “Kita sudah siapkan dana sebesar Rp10 miliar untuk memperbaiki jalan di Badau ini, dana ini berasal dari APBD 2009 dan sudah diketok palu,” ungkap Cornelis.
Setibanya di Badau Gubernur disambut dengan prosesi adat Dayak Iban dan Melayu, dilanjutkan dengan dialog bersama masyarakat Badau di gedung Serba Guna Kecamatan Badau.
Masyarakat banyak mempertanyakan keberadaan mobil asing yang berkeliaran di sekitar Badau, infastruktur, serta Alokasi Dana Desa (ADD). Masyarakat juga memuji Gubernur beserta rombongan yang mau mengunjungi dan melihat langsung kondisi masyarakat di daerah perbatasan, apalagi melewati jalur darat yang kondisinya rusak parah.
Gubernur mengatakan masalah mobil asing kita akan melihat dan akan mempelajarinya dulu seperti kondisi di Kota Batam. “Kalau di Batam bisa kena disini tidak kita lakukan, tapi kalau ilegal tetap harus ditangkap,” katanya.
Sebelum meninggalkan Badau Gubernur meninjau Pos Lintas Batas dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju Kecamatan Lupar Kabupaten Kapuas Hulu untuk melakukan penancapan tiang pertama pembangunan Rumah Betang Sumpak Sengkuang.
Gubernur beserta rombongan kembali ke Pontianak melalui Lanjak dan menggunakan Long Boat sekitar tiga jam perjalanan, melewati Pulau Melayu menuju Semitau disana sudah menunggu kendaraaan yang akan membawa rombongan pulang ke Pontianak.

Baca Selengkapnya...
 
Copyright  © 2007 | Design by uniQue             Icon from : FamFamFam             Powered by Powered By Blogger