Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata....

Senin, 21 Januari 2008

PR Buat Cornelis-Christiandy

2007, merupakan tahun pesta demokrasi bagi rakyat Kalimantan Barat. Sebanyak 2,9 juta dari 4 juta lebih penduduk setempat melaksanakan pemilihan umum gubernur dan wakil gubernur. Pasangan Cornelis-Christiandy Sanjaya akhirnya terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur periode 2008-2013.

Proses pelaksanaan Pemilu Gubernur telah dimulai sejak penjaringan bakal calon Juli. Kegiatan terus berlanjut hingga pelaksanaan hari "H" pemilihan, pemungutan suara 15 November.

Sebanyak empat pasangan calon, tampil dalam pesta demokrasi model pemilihan gubernur langsung pertama kali bagi Kalbar tersebut. Pasangan calon datang dari berbagai bidang dan keahlian, semisal pengusaha, politisi, birokrat, dan aktivis pemberdayaan ekonomi. Mereka juga secara tak langsung mewakili tingkat nasional, provinsi dan kabupaten.

Mereka adalah pasangan Usman Ja`far - Laurentius Herman Kadir, yang tak lain "incumbent" atau gubernur dan wakil gubernur periode 2003-2008. Oesman Sapta Odang - Ignatius Lyong, pengusaha yang juga mantan anggota MPR dengan birokrat yang jabatan terakhirnya sebagai Asisten I Sekretaris Daerah Kalbar.

Kemudian pasangan M Akil Mochtar - Anselmus Robertus Mecer, seorang politisi asal Partai Golkar, anggota DPR RI dua periode. Akil berpasangan dengan aktivis pemberdayaan ekonomi masyarakat dan juga mantan dosen di Universitas Tanjungpura.

Pasangan terakhir, Cornelis-Christiandy Sanjaya, duet seorang Bupati dari Landak dengan kepala sekolah dari Sekolah Menengah Kejuruan Imanuel Pontianak.

Pasangan calon tersebut diusung oleh partai-partai yang ada. Pasangan UJ-LHK diusung partai besar seperti Partai Golkar, PPP, PKB, PAN, PKS, PBR, Partai Merdeka dan PDS dengan menyandang nama koalisi, "Koalisi Harmoni" dengan 52,39 persen suara dukungan.

OSO-Lyong diusung Partai Demokrat, PPD, Partai Patriot Pancasila, PNI Marhaenisme, PBSD, PPIB dan PKPB dengan nama "Koalisi Kalbar Maju, Adil dan Sejahtera" dengan 15,45 persen suara dukungan.

Kemudian pasangan Akil-Mecer yang berjuluk Pasangan AR, diusung oleh Partai Pelopor, PBB, PPDK, PNBK, PKPI, PPDI dan PSI, berkoalisi dalam "Koalisi Rakyat Kalbar Bersatu" dan mendapat 15,08 persen suara dukungan. Serta pasangan CC, yang diusung satu partai saja, PDI Perjuangan dengan dukungan suara 17,07 persen.

Data dari KPU tingkat kabupaten/kota mengenai jumlah pemilih untuk Pemilu Gubernur-Wakil Gubernur periode 2008-2013 sebanyak 2.925.018 orang. Jumlah tempat pemungutan suara (TPS) sebanyak 9.654 unit.

Menurut Ketua Komisi Pemilihan Umum Provinsi Kalbar, Aida Mokhtar, biaya pelaksanaan pemilu gubernur tersebut mencapai Rp67 miliar. "Namun belasan miliar lebih dana untuk kabupaten/kota sebagai pelaksana langsung pemilu," katanya.

Cornelis- Christiandy

Rapat pleno terbuka yang dipimpin Ketua KPU Aida Mokhtar 27 November yang kemudian dituang dalam Berita Acara Nomor 21/BA/KPU/KB/XI/2007, menetapkan Cornelis-Christiandy Sanjaya, sebagai pasangan gubernur terpilih periode 2008-2013.

Pasangan bupati-guru tersebut, memperoleh suara 930.679 pemilih atau 43,67 persen, mengungguli tiga pasangan calon lain, pasangan "incumbent" dengan perolehan suara 659.279 pemilih (30,94 persen), Oesman Sapta-Lyong 335.368 pemilih (15,71 persen) dan Akil-Mecer 205.763 pemilih (9,66 persen) dari total suara sah 2.131.089 pemilih.

Cornelis-Christiandy kini menunggu Surat Keputusan Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk dilantik sebagai gubernur dan wakil gubernur 2008-2013 pada 14 Januari 2008.

Cornelis yang kelahiran Sanggau (Kabupaten Sanggau) 27 Juli 1953 dan Christiandy Sanjaya, kelahiran Singkawang (Kota Singkawang) 29 Maret 1964, menang di delapan dari 14 kabupaten/kota. Delapan kabupaten tersebut meliputi, Landak, Sanggau, Sintang, Sekadau, Melawi, Kapuas Hulu, Bengkayang dan Kota Singkawang.

Kemenangan pasangan ini, menunjukkan bahwa calon dari daerah pun dapat bersaing maju dalam pemilihan gubernur-wakil gubernur dan berhadapan dengan incumbent, calon dari tingkat nasional semisal DPR dan calon dengan dana kampanye besar.

Terlepas dari adanya politisasi agama dan etnis (aliran) saat kampanye berlangsung hingga masa tenang, oleh pendukung dan simpatisan para calon gubernur, namun duet Cornelis-Christiandy Sanjaya, yang pada akhirnya menjadi pilihan rakyat.

Cornelis yang ditemui beberapa waktu lalu, menyatakan kemenangan dalam pemilihan gubernur itu hendaknya tidak dianggap sebagai kemenangan partai pengusung (PDI Perjuangan), tetapi secara hakiki merupakan kemenangan dan kehendak rakyat. "Peran Tuhan sangat banyak. Ini suatu mukjizat dari Jubata (Tuhan)," kata Bupati dua periode, 2001-2006 dan 2006-2011 itu.

Cornelis-Christiandy memiliki visi pembangunan masyarakat Kalbar yang cerdas, sehat dan sejahtera. Untuk mewujudkannya, di antaranya dengan peningkatan dana pendidikan 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Cornelis menegaskan pada masa kepemimpinannya, dana pendidikan 20 persen dapat terwujud setelah gaji pegawai aman, artinya tidak kekurangan. Ia juga menyatakan akan melobi Pemerintah di Jakarta agar mendapatkan jatah penambahan guru, guna mempersiapkan guru pengganti bagi yang memasuki masa pensiun.

Pembangunan sekolah juga akan sesuai standar, sehingga kualitas sekolah di kota dan desa tetap sama dan mampu bersaing. Pengadaan tenaga guru dengan memprioritaskan sekolah di pedalaman. Tunjangan khusus tenaga pengajar di pedalaman dan pengangkatan tenaga guru berasal dari daerah setempat yang memenuhi syarat akan menjadi perhatian serius.

Pasangan ini, juga akan membuka peluang kepada masyarakat Kalbar yang kaya untuk ikut berperan aktif dalam membangun daerah. "Silakan saja membangun agar kita tidak kekurangan `duit`," kata Cornelis.

Bagi Cornelis yang sudah hampir 30 tahun mengabdikan diri kepada pemerintah sebagai pegawai negeri sipil, seorang pemimpin semestinya dapat memberikan pelayanan dasar sebuah negara sesuai perundang-undangan. Pelayanan meliputi pendidikan, kesehatan, dan mengatasi kemiskinan, menolong fakir miskin.

Pelayanan tersebut tentu saja telah ditunggu 4 juta jiwa penduduk yang tinggal di wilayah seluas 146.807 kilometer persegi ini.

Dukungan kandidat

Mahmud Akil dalam "Fenomena Etnisitas di Kalimantan Barat", pada buku Kebudayaan Dayak Aktualisasi dan Transformasi, 1994 berkata, "Orang bisa berbeda paham, karena adanya persaingan di bidang ekonomi, politik, maupun sosial budaya, dan ditambah lagi adanya unsur primordialisme yang sering dikembangkan masing-masing pihak."

Akan tetapi dengan adanya saling ketergantungan masing-masing pihak itu dalam bidang yang sama, terjadi pula adanya kerja sama. Kerjasama akan semakin erat jika masing-masing pihak mempunyai visi yang sama tentang bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Agaknya, pernyataan tersebut terjawab ketika Cornelis-Christiandy Sanjaya terpilih.

Karena ketiga pasangan lainnya, menyatakan memberikan dukungan bagi langkah pasangan ini untuk membangun Kalbar menjadi lebih baik dan maju dalam lima tahun ke depan.

Usman Ja`far, yang juga gubernur periode 2003-2008, secara jelas dalam debat kandidat di sebuah hotel di Pontianak 11 Nopember, menegaskan siap mendukung siapa pun yang terpilih menjadi gubernur.

Sementara Oesman Sapta dan Akil Mochtar, dalam kesempatan terpisah juga menegaskan hal yang sama.

Dalam wawancara 18 Desember, Oesman Sapta menyatakan mendukung sepenuhnya kepemimpinan pasangan Cornelis-Christiandy Sanjaya. Mantan anggota MPR itu juga menyatakan rasa salutnya kepada pasangan tersebut karena bisa mengalahkan mantan anggota MPR, anggota DPR dan gubernur yang masih menjabat.

"Ini yang menang anak daerah, putra daerah, kenapa mesti dipersoalkan? Tumbuhkan sportivitas," tegasnya.

Pengusaha dengan modal kampanye terbesar dari tiga pasangan calon lainnya itu, mengakui secara tulus ikhlas menerima kekalahan. "Selama ini saya tidak pernah mengukur. Betulkah rakyat Kalbar mendukung saya? Ternyata benar, rakyat mendukung saya," kata Oso yang memeroleh suara terbanyak di kampung halamannya, Kabupaten Ketapang (dan Kayong Utara).

Bagaimana dengan Akil Mochtar, setelah yakin kalah pada hari kedua setelah pemungutan suara?

"Kita berharap pemimpin yang baru membangun kualitas (masyarakat) Kalbar. Rakyat kita masih miskin, pengangguran di mana-mana," katanya.

Lebih lanjut ia menyatakan, "Kita mempunyai tanggung jawab moral yang sama, membangun Kalbar."

Cornelis, bukanlah orang baru di kancah perpolitikan Kalbar. Ia juga merupakan Ketua Dewan Pengurus Daerah PDI Perjuangan Kalbar. Dalam Pemilihan Umum Presiden 2004, khusus Kalbar, PDI Perjuangan unggul tipis dari Partai Golkar.

Sementara Christiandy Sanjaya yang dikenal sebagai seorang pendidik, adalah pasangan yang tepat bagi Cornelis.

Hal itu pernah diakui putra Dayak Sanggau itu dalam pernyataannya. "Dalam pemilihan, bukan hati nurani, tetapi tingkat rasionalitas yang tinggi," kata Cornelis menjelaskan alasan memilih berpasangan dengan Christiandy, sebagai seorang yang profesional di bidang pendidikan dan ekonomi.

Christiandy, selain sebagai pendidik, pernah pula terjun ke kancah politik lokal, sebagai anggota DPRD Kota Pontianak pada 1989-2004.

Realitas Kalbar
Dalam suatu penyampaian Nota Keuangan RAPBD Tahun Anggaran 2008 di Pontianak, Selasa (27/11), Usman Ja`far mengakui, tidak semua program yang ia susun dan dilaksanakan selama lima tahun telah mencapai hasil yang menggembirakan. Ada dua hal yang membuatnya belum gembira.

"Soal kemiskinan dan pengangguran, itu yang harus menjadi prioritas Kalbar," kata Usman Ja’far. Ia menyadari tidak gampang untuk menuntaskan dua hal itu di Kalbar, mengingat masih banyak penduduk buta huruf, serta keterbatasan infrastruktur terutama di pedalaman dan pehuluan.

APBD Kalbar sejak lima tahun terakhir memang terus meningkat. Pada 2002 angkanya Rp389 miliar dan 2007 melesat menjadi Rp1,2 triliun. Pada 2008 mendatang bahkan ditetapkan Rp1,3 triliun. Komposisi belanja langsung publik maupun tidak langsung diupayakan seimbang atau lebih dominan untuk publik.

Dalam laporan Keterangan Pertanggungjawaban masa akhir jabatan gubernur oleh DPRD Kalbar, tercatat bahwa bidang pendidikan selama kurun waktu lima tahun terakhir mencapai beberapa kemajuan.

Antara lain dapat dilihat dari meningkatnya Indek Pembangunan Manusia (IPM) dari tahun ke tahun, yakni pada tahun 2002 tercatat sebesar 62,9 dan tahun 2005 sebesar 66,2. Peningkatan IPM tersebut mendapat konstribusi yang cukup besar dari sektor pendidikan. Jumlah angka buta huruf juga menurun dari 164.812 jiwa tahun 2005 menjadi 124.268 jiwa pada 2007.

Namun, kalau melihat komposisi tingkat pendidikan, harus diakui bahwa kualitas sumber daya manusia Kalbar masih tergolong rendah karena didominasi penduduk yang tamat SD yakni 61,4 persen dari total sekitar empat juta jiwa. Untuk lulusan SMP 16,6 persen; SMA 19,2 persen; akademi 1,3 persen dan universitas 1,5 persen.

Sementara di "sektor" kemiskinan, mengacu Survei Ekonomi Nasional (Susenas) 2007 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) dan diumumkan 1 Agustus 2007, jumlah penduduk miskin Kalbar berkurang dari 629.900 jiwa menjadi 584.300 jiwa, atau 12,91 persen dari total penduduk Kalbar.

Garis kemiskinan, sebagai acuan untuk menentukan seseorang terkategori miskin, di desa dan kota di Kalbar yakni Rp132.198 (kapita/bulan), meningkat dibanding Juli 2005 sebesar Rp124.804.

Warga pedesaan relatif lebih mampu dalam pemenuhan kebutuhan hidup, karena tingkat kemiskinan di perkotaan di Kalbar lebih parah meski secara kumulatif jumlah penduduk miskin terbanyak ada di daerah pedesaan.

Susenas menunjukkan, pada Maret 2007, Indeks Kedalaman Kemiskinan untuk perkotaan 2,00 sedangkan pedesaan 1,70. Sementara untuk Indeks Keparahan Kemiskinan di perkotaan pada bulan yang sama 0,49 dan pedesaan 0,38.

Angka itu menurun dibanding Juli 2005 dimana Indeks Kedalaman Kemiskinan di perkotaan dan pedesaan masing-masing 2,87 dan 2,28; Indeks Keparahan Kemiskinan 0,82 dan 0,58.

Namun berdasarkan data Pemprov Kalbar untuk jumlah Rumah Tangga Miskin (RTM) yang berhak menerima beras RTM (raskin), tahun 2007 meningkat 26,57 persen dari 285.132 tahun 2006 menjadi 360.905.

Sedangkan angka pengangguran terbuka sebesar 171.724 atau 8,6 persen pada tahun 2005 turun menjadi 139.054 atau 7,1 persen pada tahun 2006.

Serba sulit

Meski anggaran daerah meningkat berlipat-lipat, namun sangat sulit untuk Pemprov Kalbar meningkatkan alokasi di sektor pendidikan sebagai salah satu modal awal mengentaskan kemiskinan dan pengangguran.

Dalam Nota Keuangan RAPBD Tahun Anggaran 2008 yang diajukan Pemprov Kalbar ke DPRD Kalbar, Dinas Pendidikan Kalbar mendapat alokasi Rp44,057 miliar atau 3,81 persen dari total RAPBD yang diajukan Rp1,156 triliun.

Dinas Pendidikan Kalbar kemudian mendapat tambahan Rp11,3 miliar namun APBD 2008 disepakati Rp1,3 triliun. "Untungnya" Kepala Dinas Pendidikan Kalbar, Ngatman mengaku cukup memahami kesulitan Pemprov Kalbar dalam memenuhi UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yakni minimal 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

"Masih banyak jalan yang rusak, jembatan belum ada yang tersebar di Kalbar. Sektor pendidikan cukup toleran dalam hal ini karena dampak dari perbaikan infrastruktur dapat meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat Kalbar," kata Ngatman.

Dinas Pendidikan Kalbar masih cukup beruntung karena mendapat dukungan dari APBN. Untuk tahun 2007 misalnya, Kalbar mendapat alokasi sekitar Rp500 miliar guna membangun sarana pendidikan.

Usman Ja`far mengakui, APBD yang naik berlipat itu diimbangi kebutuhan pembangunan yang besar pula. Pemprov, lanjutnya, masih fokus ke infrastruktur karena dinilai dapat mengungkit sektor ekonomi untuk tumbuh sehingga berdampak ke sektor pendidikan dan kesehatan.

Ruas jalan provinsi di Kalbar sepanjang 1,517,93 kilometer, hampir separuh atau 633,03 kilometer diantaranya mengalami kerusakan. Total panjang negara dan provinsi di Kalbar 3.093,25 kilometer.

Dari jumlah itu sekitar 924,97 kilometer yang mengalami kerusakan. Sedangkan kondisi baik sekitar 1.271,56 kilometer. Namun masih sekitar 510,77 kilometer berupa jalan tanah. Bukan hanya jalan pedesaan saja yang mengalami kerusakan, jalan di dalam kota juga banyak yang rusak.

Untuk penanganan infrastruktur jalan nasional di Kalbar, dana yang dibutuhkan sekitar Rp2,615 triliun sedangkan ruas jalan provinsi Rp3,049 triliun. Angka itu jauh diatas APBD Kalbar.

Status sebagai daerah bekas dan rawan konflik dinilai menjadi salah satu pemicu belum optimalnya pertumbuhan ekonomi. Selain "cap daerah", imbas krisis ekonomi serta kenaikan harga bahan bakar minyak cukup menekan ekonomi Kalbar yang menggantungkan sektor pertanian dan perkebunan serta perdagangan dan jasa. Sektor-sektor yang amat membutuhkan kestabilan keamanan dan dukungan masyarakat.

Kini, menyongsong 2008, pasangan Cornelis-Christiandy siap melangkah membangun Kalbar. Harapan besar tertumpu kepada keduanya, membangun masyarakat Kalimantan Barat yang cerdas, sehat dan sejahtera. Selamat bertugas gubernur dan wakil gubernur periode 2008-2013.□Borneo Tribune

0 komentar:

 
Copyright  © 2007 | Design by uniQue             Icon from : FamFamFam             Powered by Powered By Blogger