Sejuta Asa Tertuju pada Gubernur Baru
Andry
Borneo Tribune, Pontianak
Terpilihnya Drs. Cornelis, MH dan Drs. Christiandy Sanjaya, SE, MM menjadi pasangan gubernur dan wakil gubernur Kalbar periode 2008-2013, dalam pesta akbar demokrasi 15 Nopember lalu menyisakan sejuta asa bagi warga Kota Pontianak dan Kalbar. Mereka berharap agar gubernur terpilih dapat menyelesaikan beragam persoalan yang masih mendera di bumi Borneo Barat, seperti krisis energi listrik, pengangguran, pendidikan, perekonomian dan lain sebagainya.
“Kalau kame’ sih berharap agar lampu di Kote Pontianak ni tak usah mati-mati. Sangsot kalau lampunye mati teros. Banyak pencuri dan susah kite nak njalankan usahe rental PS (PlayStation),” kata Bob yang berprofesi membuka rental PS di Kelurahan Sungai Jawi Dalam Kecamatan Pontianak Barat, Jumat (30/11) kemarin. Intonasi bicaranya khas dialek Kota Pontianak.
Bob juga mengatakan sesungguhnya ia tidak peduli siapa pun yang terpilih menjadi gubernur pada Pilgub 15 Nopember lalu. Baginya yang terpenting adalah ia dapat terus menjalankan usahanya dengan membuka rental tanpa harus merasakan lampu yang hidup mati.
“Kalau saye pengen mendapat kerjaan Bang. Maklomlah tamat dari SMA kame masih nganggor ni Bang. Terserahlah kerje apepon yang penting halal,“ kata Yanto yang mengaku tinggal di Jeruju. Ia pun mengaku telah 2 tahun menganggur lantaran tidak mendapat pekerjaan, walau ia telah berusaha melamar ke berbagai instansi mulai dari pemerintah maupun swasta.
Lain halnya dengan Efendi. Pria paruh baya ini mengatakan bahwa Cornelis harus mampu membuktikan kinerjanya lebih baik dari Usman Ja’far. Karena Cornelis telah dipilih oleh masyarakat Kalbar secara langsung, maka semestinya Cornelis harus sungguh-sungguh memperhatikan kehidupan masyarakat Kalbar. “Cornelis tidak boleh membeda-bedakan suku maupun agama dari masyarakat yang dipimpinnya. Pak Cornelis harus adil dan bijak,“ kata mantan kuli di Pelabuhan Pontianak ini dengan nada serius.
Lain pula halnya dengan pandangan A Liong, seorang keturunan Tionghoa yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang tampal ban di depan kampus Universitas Panca Bhakti. Ia mengatakan bahwa gubernur dan wakil gubernur terpilih harus dapat memberikan bantuan kredit dengan bunga rendah kepada semua pedagang kecil yang ada di Pontianak dan Kalbar. Hal itu penting guna memberikan stimulan kepada para pedagang kecil agar tetap bersemangat menjalankan roda usahanya. “Kami mohon Pak Cornelis dan Pak Christiandy dapat memperhatikan para pedagang kecil. Kami mohon,” ujarnya.
Sementara itu, Akhmadi yang berprofesi selaku tukang becak di prapatan Jl. Jeranding mengatakan, dengan terpilihnya Cornelis dan Christiandy Sanjaya selaku pasangan gubernur, ia berharap akan ada suatu kebijakan dari gubernur baru yang dapat memberikan kesempatan bagi warga Madura untuk dapat kembali lagi ke daerah Sambas. “Karena banyak harta dan peninggalan yang masih tersisa usai konflik beberapa tahun lalu. Tolonglah Pak Cornelis,“ ujarnya penuh harap. □
Jumat, 30 November 2007
Harapan Warga Pada Cornelis-Christiandy (1)
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
17.19
0
komentar
Kamis, 29 November 2007
Ruai dan Naga Kecil
41 Tahun dalam Lumpur
Oleh Moses Are
Sayap dan kepalanya sulit bergerak
Matanya tertutup karena takut
Tangannya terikat terpatri kekuasaan
Ruai dan Naga dianggap bau dan kotor
Karena tertanam dalam Lumpur diskriminasi
Tak ada kesempatan untuk membuka mata dan menjadi manusia intelek
Karena diskriminasi dan pembodohan
Ruai dan Naga kecil itu pelan tapi pasti
Berteriak lantang menyerukan perubahan martabat dan kedaulatan kaumnya
Nyanyian Ruai dan Naga kecil di bumi ini
Saling bersahutan menghantarkan tekad
Bersatu kita menang
Bersatu kita menang
Bersatu kita menang
Bersatu kita menang
Oh……bangsa dan kaumku
41 tahun aku menunggu kepastian itu
Keterbelakangan dan pembodohan yang aku dapatkan
Maka dari itu bangkitlah kita untuk bersatu
Dengan rasa persatuan dan demokrasi untuk kesejahteraan rakyat Kalbar
Puisi karangan seniman asal Bengkayang, Moses Are, yang dibacakan saat kampanye Drs Cornelis MH di Anjungan, Jumat, 2 November 2007.
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
08.12
0
komentar
Selasa, 27 November 2007
KPU Tetapkan Cornelis Gubernur Terpilih, UJ Pamitan
.jpg)
Safitri Rayuni dan Andry
Borneo Tribune, Pontianak
Usai KPU Kalbar menetapkan pasangan Cornelis-Christiandy sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Terpilih, Usman Ja`far, "berpamitan" kepada anggota DPRD Kalbar dan pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi, Selasa (27/11) kemarin.
"Kontrak sebagai Gubernur Kalbar berakhir tahun ini," kata Usman dalam rapat paripurna di Gedung DPRD Kalbar tentang Nota Keuangan RAPBD Tahun Anggaran 2008 di Pontianak. Usman menyatakan penyampaian rancangan tersebut merupakan kesempatan terakhirnya.
Dia menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih kepada anggota DPRD serta jajaran pemerintahan yang selama 5 tahun membantunya melaksanakan APBD Kalbar. Gubernur sangat bersyukur karena Pemilu Gubernur berjalan lancar dan aman.
"Kalbar dikenal sebagai daerah bekas konflik. Tapi ternyata Pemilu berjalan lancar dan aman," katanya.
Ia mengaku gembira melihat tingkat partisipasi yang tinggi dari publik dalam Pilgub kemarin.
"Apa pun hasilnya, itu keputusan terbaik pilihan rakyat yang harus dihormati," kata Usman legowo.
Tak lupa ia mengucapkan terima kasihnya kepada seluruh penyelenggara Pemilu baik di tingkat TPS hingga Provinsi Kalbar serta petugas keamanan yang all out menjaga Kalbar sehingga tetap aman dan kondusif.
Rapat terbuka KPUD Kalbar yang berlangsung di Ruang Serbaguna DPRD Kalbar sore kemarin menetapkan pasangan Cornelis - Christiandy Sanjaya sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih periode 2008-2013. Hadir hampir seluruh anggota KPUD masing-masing kabupaten, sejumlah anggota DPRD Provinsi Kalbar, tim sukses, tokoh masyarakat.
Pukul 15.09 Cornelis yang dijuluki Sang Ruai, beserta putri tercinta dr. Karolin Margaret Natasa memasuki ruang pleno.
Di lantai satu gedung DPRD, puluhan massa riuh bertepuk tangan. Beberapa di antaranya berjingkrak-jingkrak gembira menyambut kedatangan Sang Ruai. Setelah pleno penetapan usai, suasana lebih ramai lagi. Cornelis melintas menuju mobil diiringi pengawalan ketat. Massa pendukung tak henti-hentinya bertepuk tangan. Senyumnya mengembang, melambai dan sesekali menunduk hormat saat melintasi kerumunan. Tiba di pelataran, Cornelis berseru,” Bersatu kita menang!” Suaranya sangat khas, sekali lagi tangan kanannya teracung ke udara dengan jempol menekuk, sisa empat jari teracung.
Aida mengingatkan bahwa KPUD Provinsi Kalbar akan menyampaikan berita acara kepada Ketua DPRD Kalbar. Nantinya diteruskan kepada Presiden Republik Indonesia melalui Menteri Dalam Negeri untuk mendapat pengesahan pengangkatan yang disampaikan KPUD Kalbar setelah jangka waktu tiga hari sejak penetapan. Hal tersebut kata Aida diatur dalam pasal 89 ayat (2) Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 2005 tentang pemilihan, pengesahan pengangkatan, dan pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah.
”Namun karena tiga hari setelah hari ini adalah hari libur, Sabtu dan Minggu, maka jika tidak ada keberatan atau gugatan terhadap hasil dari pasangan calon lain, kami akan menyerahkan berita acara tersebut pada Senin 3 Desember 2007,” terangnya.
Dari Hasil Pleno, Cornelis- Christiandy yang diusung PDI Perjuangan meraih 930.679 suara atau 43,67 persen dari 2.131.089 suara sah. Jumlah tersebut mengungguli pasangan incumbent Usman Ja`far-LH Kadir yang hanya mengantongi 659.279 suara atau 30,94 persen.
Pasangan UJ-LH Kadir ketika itu diusung Koalisi Harmoni, yakni gabungan Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), PAN (Partai Amanat Nasional), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Damai Sejahtera (PDS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Merdeka.
Sementara dua calon lainnya yakni pasangan Oesman Sapta - Ignatius Lyong mendapat 335.368 suara (15,74 persen) dan Akil Mochtar - AR Mecer 205.763 suara atau 9,66 persen.
Surat suara tidak sah 34.460. Warga yang mempunyai hak pilih namun tidak menggunakan hak pilihnya 788.482 orang.
Berdasarkan Undang-Undang, pemenang Pemilu gubernur ditetapkan dari perolehan suara terbanyak yakni 50 persen plus satu. Namun kalau tidak terpenuhi, maka yang melebihi 25 persen ditetapkan sebagai calon terpilih.
Dalam jumpa pers di kediamannya, sehari sebelum Pleno, Cornelis mengatakan dua kandidat lain sudah menghubungi dan mengucapkan selamat kepadanya secara pribadi via telepon. Yang dimaksud Cornelis adalah Oesman Sapta dan Akil Mochtar.
Menurutnya tidak ada yang kalah atau menang dalam percaturan politik, dirinya terpilih pun karena amanat rakyat. ”Jadi hidup saya pun untuk rakyat,” ujarnya.□
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
18.21
1 komentar
Senin, 26 November 2007
Cornelis Gubernur Kalbar
*Pleno Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Rampung
Perolehan Suara Pilgub Kalbar
1. UJ-LHK = 659.279 (30,94%)
2. OSO-Lyong = 335.368 (15,74%)
3. Akil-Mecer = 205.763 (9,66%)
4. Cornelis-Christiandy = 930.679 (43,67%)
Andry
Borneo Tribune, Pontianak
Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Provinsi Kalbar menggelar pleno terbuka rekapitulasi hasil penghitungan suara pemilu gubernur dan wakil gubernur Kalbar 2007.
Proses itu dilaksanakan di ruang serbaguna gedung DPRD Kalbar, oleh penyelenggara pemilu tingkat provinsi karena KPUD kabupaten/kota seantero Kalbar terlebih dahulu merampungkan proses yang sama di wilayahnya masing-masing.
Hadir Ketua dan anggota KPUD Kalbar, Muspida Kalbar, Ketua dan anggota KPUD kabupaten/kota, Ketua dan Sekretaris partai politik, Ketua dan Sekretaris tim kampanye pasangan calon, lembaga pemantau pemilu, para panelis debat publik dan lainnya. Hadir pula kandidat gubernur, Drs. Cornelis, MH dan saksi dari pasangan calon, yaitu M Ali M Nur selaku saksi dari UJ-LHK, Yahya Sacawiria saksi OSO-Lyong, Silvianus Sungkalang saksi dari pasangan Akil-Mecer dan Agustinus saksi dari pasangan Cornelis-Christiandy, Senin (26/11) kemarin.
Awalnya suasana di gedung DPRD tidak tampak seperti biasa, dan malah serasa menegangkan. Ratusan aparat keamanan tampak berjaga-jaga di setiap jengkal rumah rakyat ini. Terlebih di muka pagar sebelum memasuki gedung, Polisi melakukan pemeriksaan ektra ketat dengan menggunakan alat pendeteksi logam maupun memeriksa setiap kendaraan yang masuk, baik mobil maupun kendaraan bermotor. Tak peduli anggota dewan, KPU, wartawan dan masyarakat pun tak luput dari pemeriksaan. “Hebat gumamku dalam hati”. Pun ketika hendak memasuki ruangan serbaguna, semua pihak mesti digeledah dan diperiksa dengan melewati alat pendeteksi. “Seberapa parah ancaman proses kegiatan ini, kembali aku bergumam didalam hati”.
Pleno itu dipimpin langsung Ketua KPUD Kalbar, Aida Mokhtar, S.Ag, M,Hum. Usai memberikan kata pengantar dan membacakan 14 poin tata tertib dalam proses pleno terbuka. Akhirnya, pukul 09.52 WIB ia pun mengetuk palu sidang sebanyak 3 kali sebagai tanda proses ini telah dibuka secara resmi. Dan proses selanjutnya, Aida lantas memberikan kesempatan kepada Ketua Pokja penghitungan perolehan suara, Nazirin, SH, untuk memimpin jalannya proses ini.
Mantan aktivis mahasiswa ini tahu benar membuat suasana menjadi cair agar tidak tegang. Ia lantas mengatakan bahwa semua proses tahapan Pilgub yang terjadi di kampung halaman Pak MS Budi di Sungai Kunyit, Pak Baringan di Kapuas Hulu dan Sungai Burung di kampung halamannya sendiri, dan semua itu muaranya berada di KPU Provinsi Kalbar. “Dan semua hasil dari proses itu sekarang telah berada di dalam kotak suara yang saat ini berada di depan kita,” ujarnya seraya mendapat sambutan hangat dari para peserta yang hadir.
Usai mencairkan suasana forum, ia pun lantas meminta bantuan kepada anggota KPU Kalbar untuk membuka kotak suara dan mengambil hasil rekapitulasi penghitungan suara oleh KPU kabupaten/kota, lalu memperlihatkannya kepada para saksi dan Panwas lalu kemudian menyerahkan map yang masih tersegel itu kepada Ketua KPU Kalbar, untuk dibuka dan dibacakan oleh anggota KPU. P Baringan didaulat untuk membuka kotak suara dari Kota Pontianak, Kota Singkawang dan Kabupaten Pontianak, RE Nyarong membuka kotak suara Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Sambas, dan Kabupaten Landak, MS Budi mendapat kesempatan untuk membuka kotak suara dari Kabupaten Sekadau, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang, sedangkan Nazirin mendapat kesempatan untuk membuka kotak suara dari Kabupaten Melawi, Kabupaten Kapuas Hulu dan yang terakhir adalah Kabupaten Ketapang.
Selanjutnya, hasil rekapitulasi penghitungan suara tersebut, pasangan dengan nomor urut 1, UJ-LHK memperoleh 659.279 atau sebesar 30,94 persen suara pemilih. Selanjutnya pasangan calon dengan nomor urut 2, OSO-Lyong memperoleh 335.368 atau sebesar 15,74 persen suara pemilih. Kemudian pasangan dengan nomor urut 3, Akil-Mecer memperoleh 205.763 atau sebesar 9,66 persen, sedangkan pasangan dengan nomor urut 4, Cornelis-Christiandy berhasil memperoleh 930.679 atau sebesar 43,67 persen sekaligus mengantarkan pasangan ini menuju kursi KB 1 menggantikan incumbent Usman Ja’far dan LH Kadir selaku gubernur dan wakil gubernur Kalbar periode 2008-2013. Dan Cornelis tampak tersenyum menyaksikan hasil penghitungan suara tersebut. Dan total suara sah pada Pilgub 15 November lalu berjumlah sebanyak 2.131.089 atau 98,41 persen, dan dengan perolehan suara tidak sah sebesar 34.460 atau sebesar 1,59 persen.
Usai berlangsung proses rekapitulasi tersebut, Nazirin lantas mengembalikan proses selanjutnya kepada pimpinan sidang sebelumnya, yaitu Aida Mokhtar untuk kembali memandu jalannya acara. Aida lantas memberikan kesempatan bagi para saksi pasangan calon untuk memberikan tanggapannya. Di dalam forum, M Ali M Nur menyatakan bahwa data yang diterimanya dan data yang diperoleh oleh KPU tidak ada masalah, dan ia menerima hasil tersebut. Sama halnya dengan saksi dari pasangan Akil-Mecer yang diwakili Silvianus Sungkalang.
Ia menyampaikan kutipan pernyataan dari Akil, bahwa didalam permainan sudah barang tentu ada yang menang dan ada yang kalah. “Dan beliau (Akil) mendukung siapa pun yang terpilih didalam permainan tersebut,” kata Sungkalang disambut dengan riuhnya tepukan. Selanjutnya saksi yang mewakili pasangan OSO-Lyong yang diwakili oleh Yahya Sacawiria menyatakan dapat menerima hasil ini, karena sesuai dengan data yang dihimpun oleh tim kampanye mereka. Hanya saja ia memberikan catatan kepada KPU terkait masih banyaknya masyarakat Kalbar yang tidak terdata pada Pilgub 15 November lalu. Begitu pula saksi dari pasangan calon Cornelis-Christiandy yang diwakili oleh Agustinus. Sebelum mengatakan sepakat dan menerima dari hasil rekapitulasi itu, terlebih dahulu ia dengan bersemangat mengatakan, “Adil ka’ talino, bacaramin ka’ suruga, basengat ka’ jubata,” serunya seraya disambut dengan “Aaauuukkk” oleh peserta yang mengerti seruan tersebut.
Usai mendengarkan pandangan dan ungkapan dari para saksi yang mewakili pasangan calon, Aida lantas membacakan berita acara pleno terbuka rekapitulasi hasil penghitungan suara Pemilu gubernur dan wakil gubernur Kalbar 2007. Dan selesai membacakan, sekitar pukul 12.35, dilaksanakan proses penandatanganan berita acara oleh Ketua dan anggota KPU Kalbar dan kabupaten/kota dan para saksi dari pasangan calon. Dan akhirnya, saksi dari pasangan calon UJ-LHK, M Ali M Nur tidak ikut menandatangani berita acara tersebut, lantaran ternyata ia menyatakan tidak dapat menerima hasil dari rekapitulasi penghitungan suara tersebut, di luar ruangan forum.□
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
20.00
0
komentar
Jadi Pemimpin Tak Mesti dari Kalangan Berduit

Judul : Drs. Cornelis, MH; Anak Kolong Jadi Bupati Menuju Kursi Gubernur
Penulis : Drs. M Ikhsan Tanggok
Penerbit : PERAK, Ciputat Jakarta
Halaman : vi + 170; soft cover
Peresensi : Stefanus Akim
“Untuk menjadi pemimpin tidaklah semestinya berasal dari kalangan orang berduit, namun dengan kerja keras dan sungguh-sungguh dalam belajar dapat juga menjadi pemimpin di daerah masing-masing,” tulis Cornelis dalam kata sambutannya dalam buku biografi yang ditulis Drs M Ikhsan Tanggok ini.
Cornelis membuktikan ucapannya tersebut. Meskipun hidup serba kekurangan, tinggal di barak polisi yang sempit bahkan tidur di bawah tempat tidur, namun tak menyurutkan tekadnya untuk menjadi pemimpin. Bahkan mantan Camat Menyuke (Banyuke-Darit) ini dipercaya dua periode sebagai bupati Kabupaten Landak.
Modal dasar untuk menjadi pemimpin kerja keras dan sungguh-sungguh dalam belajar. Ekonomi bukan hambatan untuk mencapai cita-cita, tapi dengan usaha keras dan penuh keyakinan siapapun dapat memperoleh apa yang dicita-citakan.
Cornelis muda merintis karirnya dari keluarga biasa-biasa saja bahkan serba kekurangan. Di usia sekolah ia nyambi sebagai penoreh getah untuk mencari tambahan dan membantu keluarga. Namun masa-masa sulit itulah yang akhirnya menempa Cornelis hingga menjadi pemimpin yang disegani karena kedisiplinannya.
Secara umum buku ini menggambarkan Cornelis dari sejak masa sekolah hingga ia meniti hari-harinya sebagai Bupati Kabupaten Landak. Diceritakan misalnya, Cornelis rela bekerja sebagai kuli sebuah toko karet di Desa Senakin. Untuk melanjutkan sekolahnya di SMA di Pontianak, ia harus bermalam di tengah hutan selama dua bulan bersama tiga orang temannya. Uang hasil menoreh getah itulah yang kemudian dijadikan sebagai modal awal untuk masuk sekolah di SMA St Petrus Pontianak.
Malang, situasi politik berubah begitu cepat. Ayahnya yang anggota polisi dijebloskan ke penjara karena dituduh sebagai penggerak massa melakukan ethnic cleansing terhadap PGRS-Paraku. Meskipun tuduhan itu susah dibuktikan. Cornelis yang sudah terlanjur sekolah di Pontianak harus mencari akal untuk hidup dan membiayai sekolahnya. Berbagai pekerjaan pun dilakoni, diantaranya menjadi kuli angkut di pelabuhan motor air Kapuas Indah. Untuk sekadar mengisi perut. Seiring dengan itu proses belajar mulai terbengkalai. Pada akhirnya karena tak mampu membayar sumbangan uang gedung ia tak naik di kelas 2 SMA.
Beruntung, seorang teman membawanya di sebuah sekolah yang agak longgar dan biaya relatif murah. Hingga akhirnya Cornelis menamatkan sekolahnya di SMA Kapuas Pontianak tahun 1971/1972.
Buku ini juga menyinggung cara kepemimpinan yang diterapkan dalam memimpin Kabupaten Landak. Termasuk menempatkan the right man on the right place – menempatkan seseorang sesuai dengan keahlian dan kemampuannya. Di Landak yang mayoritas Dayak misalnya tak semua pejabatnya orang Dayak. Sejumlah kepala dinas dipegang Melayu, Jawa atau Sunda tanpa memandang latar belakang agama.
Secara umum buku ini memiliki cukup banyak informasi tentang siapa dan bagaimana Cornelis hingga menjadi pemimpin di Landak dan Kalbar. Termasuk sedikit gambaran tentang situasi politik, pendidikan, dan perekonomian di masa-masa Cornelis berjuang kala itu.
Nah, mungkin yang mengganggu dalam buku perpaduan antara foto Cornelis, sang saka merah putih serta berlatar merah darah ini terdapat kesalahan ketik. Termasuk beberapa kali nama Cornelis ditulis Kornelis, termasuk di salah satu caption foto. Meskipun demikian secara umum buku ini menyajikan informasi yang banyak dan padat dan tidak mengganggu isi buku secara keseluruhan.□
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
00.52
0
komentar
Sabtu, 24 November 2007
Pers Sangat Mendukung Suksesnya Pilkada
*Kapolda Kunjungi Borneo Tribune
Nur Iskandar
Borneo Tribune, Pontianak
Sadar akan peran penting dan strategis media massa, Kapolda Kalbar Brigjen Pol Drs Zainal Abidin Ishak berkunjung ke Harian Borneo Tribune, Jumat (23/11) kemarin. Didampingi Kabid Humas AKBP Drs Suhadi SW, M.Si Kapolda berdialog dengan pihak manajemen dan redaktur serta sejumlah wartawan seputar Pilkada Gubernur Kalbar.
Kedatangan Kapolda pada pukul 11.00 WIB tersebut disambut Dirut PT Borneo Tribune Press, W Suwito, SH, MH, Konsultan Bisnis Borneo Tribune Michael Yan Sriwidodo, SE, MM, saya dan sejumlah redaktur dan wartawan.
Disambut di halaman parkir depan kantor, Kapolda memuji, “Baru enam bulan, sudah begini, bagaimana jika setahun?” ungkapnya dengan wajah yang sumringah seraya langkah kaki masuk ke ruang cetak.
Saya menjelaskan bahwa mesin cetak milik Borneo Tribune buatan Jerman, Goss Community dengan kapasitas cetak 15.000 eksemplar per jam. “Kita sudah pernah mencapai oplah cetak tertinggi hingga 25.000 eksemplar.”
Pada musim Pilkada Gubernur tiras cetak meningkat, termasuk volume iklan. “Alhamdulillah koran kita mendapat sambutan positif dari masyarakat Kalbar, padahal usianya baru enam bulan.”
Kapolda mengakui bahwa Borneo Tribune enak dibaca. “Menyajikan berita dengan gaya bercerita adalah style tersendiri. Ini yang bagus, saya suka. Bahkan dari sejak awal Borneo Tribune terbit,” ungkapnya.
“Di masa Pilkada ini berita-berita Borneo Tribune saya amati sudah cukup bagus. Berada pada relnya to inform—untuk menginformasikan, to educate—untuk mendidik, dan to entertein—untuk menghibur,” ungkap Kapolda.
“Peran mendidik menurut saya perlu mendapatkan titik tekan yang utama,” tambahnya.
Michael Yan menimpali, bahwa Borneo Tribune sifatnya mengangkat berita-berita yang positif. Dengan demikian lebih banyak memotivasi daripada mengagitasi, apalagi memanas-manasi. “Kita mengangkat, bukan menjatuhkan,” timpalnya.
Kapolda kagum melihat mesin cetak yang terpasang di lantai dasar Borneo Tribune. Ia melihat-lihat perangkat pendukung printer raksasa tersebut seperti processor dan platemaker.
Rombongan terus dipersilahkan naik ke lantai dua di mana redaksi bekerja. Di sini Kapolda menyaksikan sejumlah wartawan dan wartawati, peserta didik di Tribune Institute dan sejumlah staf yang sedang bekerja. “Berapa komputer di sini?”
“30-an Pak.”
“Bagus. Baru enam bulan saja sudah begini. Berapa dana dibutuhkan membangun seperti ini?” Kapolda terus bertanya.
“Kita patungan dari warga Kalbar sendiri Pak,” jawab Dirut, Suwito yang juga dikenal sebagai advokat di Kalbar. Hari itu Suwito mengenakan jas dengan dasi berwarna merah hati.
Kapolda di ruang redaksi dipersilahkan menikmati juadah yang telah disiapkan La Pisa. Seraya menikmati penganan tersebut ia kembali menekankan bahwa peran media amat penting dan strategis dalam pembangunan. “Saya pun jika pensiun dari polisi, mungkin memilih jadi jurnalis,” ungkapnya.
Kami semua tertawa. “Kalau Bapak mau, bisa menulis di Tribune,” kata saya menggoda.
“Ya, mungkin setelah Pilkada ini selesailah,” katanya seraya senyum.
“Saya sewaktu SMA 2 di Makassar sudah kursus jurnalistik lho. Bisa dicek di sana. Saya sejak remaja sudah suka korespondensi,” imbuhnya.
Kapolda menegaskan dalam menyukseskan Pilkada peran pers sama dengan polisi. Polisi sebagaimana pers juga yakin Pilkada Kalbar akan sukses, aman dan damai. “Kita akan tindak tegas jika ada yang anarkis,” tegasnya.
Kapolda juga menekankan bahwa kini banyak beredar SMS-SMS yang bertujuan mengacaukan keadaan. “Saya selalu menekankan, jika mendapat SMS yang memprovokasi, catat pengirimnya dan laporkan ke polisi. Saya bisa tahu siapa pengirim itu,” jelasnya.
Bagi pengirim SMS provokasi, polisi bisa menangkap karena terbukti bertujuan membuat Kalbar tidak aman.
Kapolda akrab berdiskusi di Borneo Tribune. Ia sempat meladeni foto bersama.
Tepat terdengar azan Jumat, rombongan pun pamitan. Pada hari yang sama, Kapolda juga mengunjungi Harian Equator dan Pontianak Post. ■
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
02.21
0
komentar
Jumat, 23 November 2007
12 KPU Final Pleno
Cornelis-Christiandy Tertinggi
Hartono
Borneo Tribune, Pontianak
Tepat di hari ke delapan pasca pencoblosan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) di 12 kabupaten-kota se-Kalbar merampungkan rapat plenonnya, Jumat (23/11) kemarin.
“Dari hasil pleno tersebut suara Cornelis-Christiandy (C2, red) tertinggi,” kata Kebing, Sekretaris Tim Sukses C2. Hal tersebut diungkapkannya ketika menggelar jumpa pers di Sekretariat PDIP Jalan Ahmad Yani Pontianak kemarin. Kebing sangat yakin kalau pasangan yang diusung PDIP ini menang.
Dari rekapitulasi hasil perhitungan suara bersumber dari hasil Pleno KPU 12 kabupaten-kota yang berhasil dihimpun Tim Sukses C2, hasilnya: UJ-LHK 659.274 atau 30,94%, OSO-Lyong 335.368 atau 15,74%, Akil-Mecer 205.763 atau 9,66%, dan C2 930.679 atau 43,67%.
Menurut Ketua Tim Kampanye C2, Alexander, S.Sos tidak ada konsep Pilkada ulang, sepanjang prosesnya berjalan dengan baik sesuai UU dan ketentuan hukum yang berlaku. Dia meminta semua pihak menghargai pilihan rakyat.
Tak kurang dari 21 anggota Tim Sukses C2 hadir dalam jumpa pers. Sementara dari pihak media hadir, selain Borneo Tribune juga Equator dan Pontianak Post.
Tim Kampanye C2, Drs. Massardy Kaphat menambahkan bahwa hasil penetapan rekapitulasi perhitungan di tingkat desa, kecamatan bahkan kabupaten tidak ada masalah. Semuanya berlangsung relatif lancar, aman dan terkendali.
Kemenangan pasangan C2 menurut politisi senior ini, murni suara rakyat melalui demokrasi sesuai asas langsung, umum, bebas, jujur dan adil. Dia juga melihat pelaksanaan Pilgub Kalbar sudah berjalan baik dan jika ada Pilgub ulang mesti ada dasar hukum yang jelas. Karena itu menurutnya sangat tidak rasional jika ada pihak yang menyatakan Pilkada diulang.
“Munculnya wacana ini dikuatirkan justru bakal memicu permasalahan yang tidak diinginkan,” ungkap Kaphat. Masing-masing tim sukses katanya diharapkan menghargai keputusan yang sudah ditetapkan KPUD.
Martinus Ekok, Tim Sukses C2 lainnya meyakinkan dasar timnya mengeluarkan perhitungan adalah data dari KPU. Demikian menurut Ekok untuk menjawab rasa keingintahuan para simpatisan dan pendukung C2. “Tim mana saja berhak mengeluarkan hasil perhitungan, baik yang bersumber dari KPUD maupun yang bersumber dari Timnya,” katanya.
Lim Piang Pian alias Imam Muliadi salah satu tokoh Tionghoa mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak mudah percaya isu yang tidak jelas dan selalu menjaga suasana aman dan damai di Kalbar. “Cornelis dan Christiandy Sanjaya nantinya bukan gubernur untuk satu kelompok saja, tetapi gubernur seluruh rakyat Kalimantan Barat,” tambah Sumian S.Sos, Ketua Tung Sim yang artinya Sehati.
Di akhir pertemuan, Tim Pakar pasangan C2, Yakobus Frans Layang, SH, MH, menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut serta menyukseskan Pilgub Kalbar 2007. Terutama karena keamanan dan rasa persaudaraan di Kalbar tetap terjaga dengan baik. ”Kita ingin pelaksanaan rapat Pleno KPUD Kalbar, 27Nopember berjalan dengan baik,” pungkasnya. ■
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
22.10
0
komentar
Implisit, Golkar Akui Kemenangan Cornelis
Borneo Tribune, Jakarta
Pengalaman adalah guru terbaik. Apalagi pengalaman kalah dalam sebuah pemilihan kepala daerah (Pilkada) tentu sangat menyakitkan. Itulah yang terjadi di tubuh Partai Golkar. Di masa mendatang, Golkar hanya akan mencalonkan satu kedernya.
"Golkar tidak lagi memajukan dua kader dalam pilkada daerah," ujar ketua OC Rapimnas III Golkar, Syamsul Muarif dalam jumpa pers di arena Rapimnas III Partai Golkar yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (23/11).
Untuk diketahui, dalam beberapa Pilkada, kader resmi yang diajukan Golkar sering kalah. Salah satu penyebabnya, ada kader Golkar lainnya yang diusung oleh partai lain yang lebih menarik bagi massa.
Syamsul berjanji tidak akan memberi izin kepada lebih dari satu kader di daerah dalam pilkada-pilkada yang akan datang. "Makanya Golkar hanya akan mencalonkan satu calon saja," kata Syamsul.
Syamsul mencontohkan, pilkada di Kalimantan Barat 15 November lalu, calon dari Golkar dikalahkan oleh calon yang diusung oleh PDIP. "Itu penyebabnya karena kader kita pecah, ada dua calon dari Golkar," jelas Syamsul.
Golkar yang berkoalisi dengan sejumlah partai dengan mengusung nama Koalisi Harmoni menjagokan incumbent Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar H Usman Ja’far dan LH Kadir. Sementara PDIP menjagokan pasangan Cornelis-Christiandy Sanjaya.
Ia menambahkan keputusan hanya ada satu calon Golkar dalam pilkada ini merupakan bagian dari hasil kesepakatan dalam Rapimnas III yang sedang berlangsung.
(dtc)
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
22.08
0
komentar

Sep 2012
