Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata....
Tampilkan postingan dengan label Pilkada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pilkada. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Agustus 2008

Sanggau, Antisipasi Pilkada Ulang


Gubernur Kalbar Cornelis mengingatkan untuk mengantisipasi pilkada ulang sehubungan dengan banyaknya calon Bupati (enam pasang) yang maju di pemilihan Bupati Sanggau. Menurut Cornelis, pejabat Bupati hendaknya mampu melakukan langkah antisipasi dan sering meninjau langsung sejauh apa sosialisasi tersebut dipahami dan dimengerti oleh masyarakat. Terlebih lagi persiapan masalah pendanaan yang sudah pasti akan bertambah jika terjadi pilkada ulang, Jumat (15/8)

Serah terima jabatan dari pejabat lama Yansen pada Moses telah dilantik pada tanggal 8 Agustus 2008 oleh Gubernur Drs. Cornelis MH. Hal ini sesuai dengan ketentuan PP No .6 2005 yang disebutkan bahwa dengan mempertimbangkan keadaan atau situasi yang tidak memungkinkan, waktu dan tempat sertijab dapat dilaksanakan selambat-lambatnya satu minggu setelah tanggal pelantikan.
Dalam sambutannya Gubernur Kalbar Cornelis mengatakan, ada dua tugas pokok yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh yaitu melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten Sanggau, dan membantu kelancaran penyelenggaraan pemilihan secara langsung Bupati dan Wakil Bupati yang definitive.
Sementara itu penjabat Bupati Sanggau Drs. Hermanus Munsin MH, usai acara sertijab menegaskan, “Langkah awal, saya akan menata dan konsolidasi ke dalam dulu untuk mengetahui apa yang menjadi kekurangan kita dan yang sudah baik akan kita lanjutkan.
========
Teks Foto:
Gubernur Kalbar Drs. Cornelis, MH menyaksikan serah terima jabatan dari pejabat lama Yansen Akun Efendi kepada Drs, Moses Hermanus Munsin MH. Sebagai Pejabat Bupati Sanggau yang telah dilantik pada tanggal 8 Agustus 2008 di Sanggau. FOTO Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune, Pontianak.

Baca Selengkapnya...

Deklarasi, Setia Kawan Langsung Daftar ke KPU

Pilwako Pontianak 2008


Guyuran air hujan yang membasuh Kota Pontianak tak menyurutkan semangat kader dan simpatisan partai moncong putih. Dengan penuh antusias mereka menyambut dan memberi dukungan kepada pasangan “Setia Kawan” yang akan maju sebagai calon Walikota Pontianak dari PDIP.

Diiringi ratusan massa pendukungnya, Sri Astuti Buchary-Eka Kurniawan yang menyebut nama mereka “Setia Kawan”, melakukan deklarasi dan langsung mendaftarkan diri ke KPU, Jumat (25/7). Disaksikan ribuan massa pendukung, pasangan ini berikrar akan maju dan memenangkan pertarungan politik menuju kursi Walikota Pontianak periode 2008-2013.
Sejak pukul satu lewat konsentrasi massa mulai terjadi di Taman Alun Kapuas, tempat penyelenggaraan kegiatan deklarasi tersebut. Ribuan massa dengan atribut berwarna dasar merah tumpah ruah di sekitar lokasi. Beberapa spanduk raksasa menghiasi panggung. Ada pantun Eka didalamnya, “Kalau hendak memakai baju. Jangan lupa disetrika. Kalau ingin Pontianak maju. Jangan lupa pilih Sri Astuti-Eka” begitu bunyinya.
Kepada massa pendukungnya Eka dan Sri Astuti berorasi penuh semangat. Sebagai Ketua DPC PDIP Eka menerangkan keputusan partainya memilih Sri Astuti Buchary (SAB) bukan tanpa alasan. Sebagai partai nasionalis, PDIP menurut Eka tak membeda-bedakan kelamin dan gender. SAB merupakan sosok yang dinilai tepat untuk memimpin Kota Pontianak yang telah lama tak merasakan sentuhan perempuan. Terakhir kali Pontianak dipimpin perempuan di era tahun 50-an, waktu itu Ny. Rohana Muthalib pernah menjadi kepala daerah.
Lazimnya sebuah keramaian, pada acara deklarasi tersebut massa disuguhi hiburan musik. Berbagai rupa-rupa nyanyian penambah semangat dinyanyikan oleh para biduan dan biduanita yang sengaja ditampilkan untuk menghibur para banteng mania. Massa pun berlipat semangatnya saat mendengar hentakkan musik yang menghangatkan suasana di tengah rinai hujan tersebut.
Menjelang azan Asar Eka mohon undur diri kepada massa pendukungnya. Hari itu juga mereka akan mendaftarkan diri ke KPU Kota Pontianak.
“Terima kasih saya ucapkan kepada kawan-kawan semua. Kami pamit untuk mendaftarkan diri ke KPU. Mohon doa dan dukungannya,” ujar Eka seraya turun panggung bersama pasangannya.
Massa pendukung pasangan Setia Kawan tak membiarkan calon walikota jagoannya berjalan sendiri. Tanpa komando mereka mengiringi keberangkatan Sri Astuti dan Eka ke Kantor KPU dengan suara knalpot sepeda motor meraung memecah dinginnya cuaca. Iring-iringannya massa pendukung Setia Kawan cukup panjang, namun tidak sampai menimbulkan kemacetan karena selain gerimis hujan yang membuat orang malas turun polisi juga stand by mengamankan lalu lintas.
Di Kantor KPU, tiga orang anggota dan beberapa staf dengan jas dan seragam baru bersiap menyambut kedatangan calon walikota pertama dari jalur partai ini. Persiapan penyambutan yang dilakukan oleh KPU sedikit terganggu karena matinya aliran listrik dari PLN. Terpaksa mesin genset dimainkan untuk menyinari ruang dan menghidupkan in fokus. Tetapi karena keterbatasan daya tidak semua sudut ruang bisa diterangi. Suasana di Ruang Rohana Mutahlib, Aula Bappeda tersebut pun menjadi agak remang-remang.
Hefni Supardi, Ketua KPU Kota Pontianak menyambut kedatangan calon walikota. Kepada tamunya Hefni menyampaikan berbagai hal yang terkait jadwal dan tata cara pencalonan dalam Pilwako 2008 ini. Dengan panjang lebar Hefni menjelaskan mekanisme tersebut. Mulai dari persyaratan pencalonan yang berjumlah belasan item sampai pada hal-hal teknis yang terkait dengan fase pencalonan ini.
“Masa pencalonan ini kita mulai sejak hari ini tanggal 25 Juli sampai tanggal 31 nanti. Sesuai dengan SK KPU nomor 12, syarat pencalonan dari jalur partai minimal memiliki 15 persen jumlah kursi di dewan, kalau di Kota Pontianak berarti 6 kursi. Nanti kita akan periksa kembali persyaratan-persyaratan yang kita tetapkan, kalau ada yang kurang akan kita sampaikan kembali kepada pasangan calon yang bersangkutan,” terang Hefni.
Penjelasan yang disampaikan oleh Hefni mendapat tanggap dari Eka Kurniawan. Sebagai calon wakil walikota, Eka bersama pasangannya mengaku ada beberapa item persyaratan yang belum bisa dipenuhi.
“Beberapa berkas telah kami penuhi, tetapi untuk persyaratan lain belum bisa kami penuhi karena menyangkut di pihak ketiga,” jelas Eka.
“Jadi intinya sore ini kami bawa berkas yang mampu kami bawa,” tambah Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak ini.
Di tengah-tengah proses pendaftaran yang cukup protokoler tersebut tiba-tiba muncul dr. Buchary A. Rachman yang tak lain adalah suami Sri Astuti dan masih menjabat sebagai Walikota Pontianak. kehadirannya seolah memberi dukungan moril kepada sang istri.
“Saye cuma mantau jak ni,” ujar Buchary dengan nada khasnya sembari mengambil tempat duduk di sisi sang istri.
Usai pengecekkan syarat-syarat pendaftaran yang langsung ditampilkan di in fokus acara dilanjutkan dengan konferensi pers. Di tempat yang telah disediakan di sudut ruang, pasangan Setia Kawan menggelar konferensi pers dan diikuti puluhan wartawan.
Di hadapan sejumlah wartawan Setia Kawan menyiarkan berbagai hal yang terkait dengan langkah politik mereka setelah secara resmi mendaftarkan diri sebagai calon walikota Pontianak.
“Mulai besok saya akan melepaskan semua fasilitas yang saya dapat sebagai Wakil Ketua DPRD Pontianak,” tegas Eka saat ditanya posisinya di dewan.
Disinggung modal politiknya yang melebihi syarat minimal dukungan sebagai calon walikota Eka menjawab santai.
“PDIP gitu lho,” katanya sebelum menjawab serius tentang peluang dan tantangannya di Pilwako ini. Namun saat disinggung tentang strategi politik yang bakal ditempuh oleh pasangannya, Eka masih belum bersedia membukanya.
“Saya belum bisa memberi tahukan itu karena ini menyangkut strategi perang,” ujarnya.
Meski menolak membuka isu kampanyenya, Eka mengaku akan melibatkan konsultan-konsultan politik yang berkompeten untuk membantunya merumuskan agenda kampanye yang paten.
Sedikit gambaran tentang isu kampanye yang akan dijual kepada publik Kota Pontianak, Eka menyebut akan menerapkan pola sektoral. Bersama pasangannya ia akan menjual isu yang berbeda di masing-masing kecamatan sesuai dengan kebutuhan masing-masing sektor.
Eka juga mengatakan bahwa saat ini mesin politik PDIP sudah berjalan di lapangan. Kedatangan sejumlah fungsionaris pada acara deklarasi tersebut merupakan bukti bahwa sudah beroperasinya mesin partai yang belakangan kerapkali memenangkan Pilkada di beberapa daerah ini.
“Tidak ada kata lain, saya sudah tegaskan kepada semua kader dan fungsionaris partai untuk merebut kemenangan tidak ada cara lain. Kerja, kerja dan kerja,” tegas Eka mengulangi kata-kata yang kerap ia lontarkan untuk membakar semangat pendukungnya.□
==========
Paket calon Walikota Pontianak Sri Asuti Buchary-Eka Kurniawan mendeklarasikan diri sebagai pasangan Setia Kawan di Taman Alun Kapuas. Usai melakukan deklarasi keduanya langsung mendaftarkan diri ke KPU dengan diiringi ratusan massa pendukungnya. FOTO Budi Rahman/Borneo Tribune, Pontianak

Baca Selengkapnya...

DPP PDIP Rekomendasikan Bu Wali


Kamis sore sekitar pukul 17.00 rapat paripurna Dewan Pimpinan Pusat PDIP rampung digelar di Jakarta. Pengurus DPP Mangara Siahaan memberikan kabar baik kepada tiga pasang calon yang diputuskan dalam konfercab beberapa waktu yang lalu.

Di antara tiga pasang calon, DPP akhirnya menetapkan pasangan Ny Dra Hj Sri Astuti Buchary, M.Si-H Eka Kurniawan, MM sebagai yang berhak menggunakan perahu PDIP dalam rangka Pemilihan Wakil Walikota Pontianak yang menurut jadwal KPU dihelat pada 25 Oktober mendatang.
Sri Astuti dikonfirmasi pada Jumat pagi membenarkan rekomendasi pusat tersebut. “Alhamdulillah putusan DPP sudah kami terima secara langsung dan sore hari akan digelar jumpa pers,” ungkapnya dengan nada sangat gembira.
Bu Wali bukan orang baru di kalangan birokrasi Kota Pontianak. Dia adalah first lady atau pendamping hidup dari walikota dua periode dr H Buchary Abdurrachman.
Eka Kurniawan juga bukan orang baru di jajaran legislatif kota Pontianak. Eka selain Ketua DPC PDIP Kota, juga adalah wakil ketua DPRD Kota Pontianak.
Diakui Sri yang akrab disapa sebagai “Bu Wali” ini bahwa langkah lebih lanjutnya adalah menyiapkan langkah-langkah strategis terkait dengan pemenangan Pilkada. “Kita punya semboyan tak tergoyahkan,” ungkapnya.
Tiga paket calon yang diusulkan dalam konfercab selain Sri-Eka, juga Hasan-Banson dan Tommy Ria-Andreas Acui Simanjaya.
Sempat beredar kabar bahwa DPP memutuskan mantan Sekda Kota, Drs H Hasan Rusbini-Drs Ibrahim Banson yang telah ditetapkan, namun Ketua DPC PDIP Kota Pontianak segera menggelar jumpa pers atas rumor yang beredar bahwa keputusan DPP pada 17 Juli. Pada 17 Juli kemarin DPP telah menetapkan pasangan Sri-Eka.
Perahu PDIP tak dapat dipandang remeh dalam setiap Pilkada di tanah air termasuk di Kalbar. Drs Cornelis, MH-Christiandy Sanjaya tampil sebagai pemenang dalam Pilgub Kalbar. Begitupula banyak terjadi di seluruh pelosok nusantara.

Baca Selengkapnya...

Selasa, 19 Agustus 2008

Kecenderungan Nasional PDIP Menang Pilkada


Besar kecilnya peluang para kandidat calon Walikota Pontianak untuk mendapatkan jatah perahu dari PDIP masih menggelinding. Satu dari empat nama yang telah direkomendasikan oleh DPC PDIP Kota Pontianak ke DPP PDIP di Jakarta diprediksi memiliki peluang yang lebih besar.

Pasangan kandidat tersebut adalah paket calon Walikota dan Wakil Walikota bernomor urut satu: Ny. Dra Hj Sri Astuti Buchary M.Si berpasangan dengan H Eka Kurniawan SE, MM (bukan seperti foto yang termuat kemarin—karena salah penempatan foto di mana seyogyanya foto sesuai teks nama masing-masing, red. Pasangan nomor urut satu ini diperkirakan akan memiliki peluang atau kans yang lebih besar. Hal ini didasarkan pada realitas politik dan pengakuan “orang dalam” PDIP sendiri.
Beredar kabar pasca penetapan empat kandidat calon pasangan Walikota PDIP di forum Rakercabsus lalu, sejumlah fungsionaris partai menggelar pertemuan khusus dengan kandidat nomor satu. Bahkan informasinya dalam pertemuan tersebut fungsionaris DPP yang memimpin Rakercabsus juga turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Sebagaimana ditetapkan, berdasarkan Rakercabsus PDIP Kota Pontianak, pasangan Ibu Wali dan Eka Kurniawan menempati nomor pertama. Dari sudut peluang memang tidak disebutkan bahwa calon dengan nomor urut 1dipastikan menjadi kandidat yang pasti diusung. Tapi melihat gelagat dan realitas politik yang terus berkembang peluang kandidat ini terbuka lebar.
Terkait dengan jumlah pasangan yang direkomendir oleh DPC PDIP Kota Pontianak melalui Rakercabsus beberapa waktu lalu jumlah mereka adalah empat pasangan. Seperti disampaikan Martinus Sudarno, fungsionaris DPD PDIP Kalbar yang dihubungi kemarin, bahwa pasangan yang dibawa ke Jakarta berjumlah empat pasang. Sementara adanya info yang menyebut lima pasang yang direkomendir menurutnya kurang tepat. Sebab satu nama pasangan yaitu Injek Barayungk dan M. Rifal, SP tidak direkomendasikan meskipun pasangan ini juga mendaftar. Hal tersebut disebabkan pasangan ini tidak hadir pada saat penetapan nama pasangan.
Disampaikan oleh beberapa pihak yang memiliki kedekatan komunikasi dengan lingkaran dalam PDIP, pasangan nomor urut 1 ini lebih berpeluang. Selain karena pertimbangan nomor urut yang menjadi dasar pertimbangan, pasangan ini memiliki syarat dukungan yang cukup konkret.
Dari segi kekaderan, meskipun Sri Astuti Buchay tidak termasuk fungsionais PDIP tapi Eka Kurniawan adalah Ketua DPC PDIP Kota Pontianak. Dari sini dapat diterka bahwa Eka memiliki peluang yang cukup besar dengan jabatan yang ia pegang saat ini selaku Wakil Ketua DPRD Kota selain Ketua DPC PDIP Kota.
Selain itu, disebutkan pula bahwa fungsionaris DPP PDIP yang hadir di Rakercabsus PDIP Kota Pontianak, Mangara Siahaan lebih apresiate kepada pasangan Ibu Wali dan Eka Kurniawan. Bahkan dikatakan dari lingkaran dalam, bahwa tiga kandidat selain nomor urut 1 hanya sekadar memenuhi persyaratan formalitas.
Seberapa besar kadar kebenaran informasi ini belum dapat dipastikan, yang jelas dari beberapa pertemuan-pertemuan baik yang sifatnya terbuka maupun tertutup nama pasangan ini sering dijagokan.
Masih perlu waktu untuk memastikan pasangan siapa yang berhak menggunakan perahu banteng hitam bermulut putih yang belakangan sering menang di arena Pilkada ini.□Budi Rahman/Borneo Tribune, Pontianak

Baca Selengkapnya...

Rakercabsus PDIP, Menimang Calon Walikota Pontianak


Suasana hangat dan memerah terlihat di sekitar lokasi kegiatan. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kota Pontianak yang punya hajatan untuk memilih calon Walikota dari “kandang banteng”.

Senin, (23/6) ada dua agenda partai yang diselenggarakan oleh PDIP. Satu agenda bertempat di Gedung PCC di mana Pengurus DPD PDIP Kalbar menggelar Rakerda. Sementara di Hotel Kapuas Palace, DPC PDIP Kota Pontianak menggelar Rapat Kerja Cabang Khusus (Rakercabsus) untuk memilih calon walikota dan wakil walikota Pontianak periode 2008-2013.
Suasana rapat terlihat di kedua tempat. Spanduk ucapan selamat datang di depan Hotel Kapuas Palace, hilir mudik peserta dan panitia yang menenteng map dan mengenakan kostum kebesaran partai menguatkan suansana rapat khusus ini. Sementara di PCC bendera dan umbul-umbul partai berbagai ukuran dipasang di arena kegiatan yang dibuka oleh Gubernur Cornelis yang juga Ketua DPD PDIP Kalbar.
Semula Rakercabsus di Hotel Kapuas Palace akan dimulai pada pukul 09.00, namun hingga pukul 10.00 lewat acara belum juga ada tanda-tanda akan dimulai. Hingga pada pukul 10.30 tersiar kabar bahwa acara diundur pada pukul 13.00. Dari informasi yang didapat pengunduran ini terkait dengan belum tibanya salah satu fugsionaris DPP PDIP yang akan memimpin jalannya rapat.
Sejumlah nama yang disebut tengah melirik perahu moncong putih terlihat hadir di arena Rakedasus. Ada mantan Sekda Kota Pontianak, Drs H Hasan Rusbini. Terlihat pula first lady Walikota Pontianak, Ny Dra Hj Sri Astuty Buchary A. Rachman, M.Si. Mereka sempat terlihat beramah tamah dengan sejumlah kader-kader PDIP.
Dari daftar nama peserta Rakercabsus tertera nama-nama pengurus DPC, PAC bahkan ranting. Rakekrcabsus sendiri menjadi forum pengambilan keputusan untuk memilih calon kepala daerah dari PDIP. Sebagai pintu masuk untuk memilih calon kepala daerah dari PDIP sudah barang tentu para kandidat akan berusaha keras mendapatkan simpati dari “warga banteng”.
Menurut salah satu kader PDIP yang pernah duduk sebagai pengurus DPC PDIP Kota Pontianak, Zulfidar Zaydar Mochtar yang ditemui di arena Rakerdasus, ada mekanisme khusus yang dimiliki PDIP untuk menjaring calon kepala daerah. Secara prosedur ada dua tahap yang harus dilalui, yaitu tahap penjaringan dan tahap penyaringan.
Pada tahap penjaringan, pengurus partai di berbagai tingkatan akan menyerap aspirasi dan masukan yang berkembang di masyarakat. Pada tahap ini kader non-partai juga bisa mendekatkan dirinya kepada pengurus partai untuk dicalonkan ke tingkat yang lebih tinggi.
Sementara pada tahap penyaringan, kata Zulfidar nama-nama yang sudah masuk akan disaring dan dipertimbangkan oleh pengurus partai untuk dicalonkan sebagai kepala daerah. Rakercabsus ini sendiri menjadi ajang penyaringan para calon kepala daerah yang masuk lewat PDIP.
Belum diketahui persis siapa calon yang akan diusung oleh kader-kader PDIP. Sebelum pelaksanaan Rakercabsus pengurus dan panitia masih banyak yang tidak bersedia memberikan komentar tentang figur-figur yang mengemuka.
Selain dua nama calon di luar kader yang memiliki hasrat untuk maju menjadi walikota, nama Ketua DPC PDIP Kota Pontianak juga cukup kuat di sebut. Eka Kurniawan sejak beberapa waktu lalu terlihat mulai gencar mensosialisasikan dirinya kepada warga Kota Pontianak lewat sejumlah baliho, spanduk dan stiker.
Rakercabsus PDIP Kota Pontianak ini sendiri diprediksi akan menjadi pembuka pertarungan pemilihan walikota. Dengan telah dimunculkannya calon walikota dari PDIP diperkirakan partai-partai lain juga akan segera memunculkan jago yang sudah sekian lama mereka elus.
Jeda waktu persiapan menjelang pemilihan menjadi pertimbangan untuk menyegerakan proses pemilihan. Selain itu, dengan telah dimunculkannya calon walikota dari moncong putih bisa dpastikan konstelasi politik di Kota Pontianak akan semakin menghangat.□Budi Rahman/Borneo Tribune, Pontianak

Baca Selengkapnya...

Minggu, 16 Maret 2008

Cornelis Minta Kandidat Bupati Pontianak Jaga Persatuan


Gaung pesta demokrasi di Kabupaten Pontianak, khususnya Pilkada Bupati Pontianak sudah bertalu-talu. Pilkada tersebut direncanakan Oktober 2008 ini.

Balon-balon yang telah bermunculan seperti anggota DPRD Kabupaten Pontianak, Maman Suratman, Ketua Gapensi Kalbar, H. Ria Norsan, incumbent, Drs. H. Agus Salim, MM, dan Ketua DPRD Kabupaten Pontianak, H. Rahmad Satria, SH, MH, yang mulai menarik hati masyarakat dengan barbagi program dalam menggalang dukungan.
Namun masih ada beberapa figur yang bakal meramaikan bursa pilkada seperti, Drs. H. Rubijanto, H. Anwar, S.Pd, MH, Eddy Sugito, SH, Camat Toho, Tommy, SH, Camat Jungkat, M. Sholeh, S. Sos, anggota DPRD Fraksi PDIP, Moses Alep, serta Pangeran Ratu Amantubillah, Dr. Ir. Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim.
Untuk itu, Gubernur Kalbar, Drs. Cornelis, MH, sangat antusias menghadiri ritual robok-robok yang merupakan kunjungan resmi pertamanya sejak dilantik menjadi Gubernur Kalbar di Pelabuhan Mempawah Terpadu, Rabu (5/3), kemarin. Gubernur Cornelis mengharapkan, para kandidat untuk tidak saling jelek-menjelekkan antarsatu kandidat dengan kandidat lainnya, sehingga menyebabkan persatuan dan kesatuan di Kabupaten Pontianak menjadi terpecah.
“Ada satu hal yang perlu saya sampaikan, di mana tidak lama lagi Kabupaten Pontianak akan melaksanakan pemilihan kepala daerah. Untuk itu saya berpesan untuk tidak berpecah belah, sehingga tidak menimbulkan kekerasaan di masyarakat yang mengakibatkan terganggunya stabilitas keamanan. Apa yang sudah buat bupati terdahulu maupun sekarang harus kita syukuri karena itu semua merupakan berkah dari Tuhan,” katanya.
Sedangkan ritual robok-robok yang merupakan agenda wisata Kabupaten Pontianak, dia berharap, ke depannya perayaan robok-robok agar dikemas lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya sehingga Kabupaten Pontianak bisa menjadi tujuan wisata baik domestik maupun manca negara.
“Saya bukan orang asing di Kabupaten Pontianak, karena di Kabupaten inilah saya dididik, dibesarkan dan dilatih untuk mengurus pemerintahan, makanya robok-robok ini bukan hal baru bagi saya. Maka saya berharap kegiatan ini ke depan harus lebih baik dari hari ini, sehingga robok-robok dapat kita kembangkan untuk aset budaya yang dapat menarik minat wisatawan,” ucapnya.■Johan Wahyudi/Borneo Tribune

Baca Selengkapnya...

Minggu, 18 November 2007

Cornelis-Christiandy Menang di Delapan Kabupaten

Muhlis Suhaeri/Antara
Borneo Tribune, Pontianak
Dia terlihat santai. Gerak tubuhnya spontan dan reflek. Mengikuti intuisi yang mengalir. Ada sikap natural. Caranya mengungkapkan kalimat, tegas dan berkarakter. Vibrasi dan intonasi suaranya terdengar berat. Khas. Itulah calon gubernur Kalbar periode 2008-2013, Cornelis.


Cornelis menyatakan berdasarkan penghitungan suara yang diperoleh dari beberapa sumber di lembaga pemerintah, ia dan pasangannya, Christiandy Sanjaya telah menang di delapan kabupaten/kota dalam pemilihan umum gubernur-wakil gubernur Kalbar periode 2008-2013.
Sementara hasil perolehan suara yang didata tim Kampanye Cornelis - Christiandy Sanjaya, perolehan suara mencapai 924.418 suara pemilih, sedangkan pasangan Usman Ja`far-LH Kadir 646.080 suara, Oesman Sapta Odang-Ignatius Lyong 332.279 suara, dam M Akil Mochtar-AR Mecer 200.983 suara.
"Kami sudah memperoleh dukungan suara mencapai 43,94 persen. Kami menang di delapan kabupaten/kota," kata Cornelis saat memberikan keterangan pers, Minggu (18/11).
Delapan daerah pemilihan yang dimaksudkannya itu yakni Kabupaten Bengkayang, Landak, Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi, Kapuas Hulu dan Kota Singkawang.
Sedangkan pasangan incumbent, UJ-LHK menang di tiga daerah pemilihan yakni Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Sambas. Satu daerah pemilihan lain, Kabupaten Ketapang, dikuasai oleh pasangan Oesman Sapta Odang-Ignatius Lyong (OSO-Lyong).
"Menurut kami data tersebut sudah final, karena dalam pengumpulan data tidak hanya menggunakan satu sumber melainkan dari banyak sumber resmi," kata Cornelis yang juga ketua Dewan Pimpinan Daerah PDI Perjuangan Kalbar periode 2005-2011.
Ia menyatakan, sumber yang diperolehnya dari berbagai sumber pemerintahan. Setelah dicek ulang dengan sumber yang dimiliki timnya, hasilnya hampir sama.
Padahal dari awal pemilihan, ia tidak memberikan target, berapa persen suara yang bakal diraih. Terserah rakyat yang memberikan suara, kata Cornelis.
Mengenai isu yang beredar bahwa massanya melakukan intimidasi terhadap kelompok tertentu, ia mempersilahkan orang untuk membuktikannya. “Sepanjang Anda bisa membuktikan, silakan saja,” kata Cornelis.
Kepada wartawan ia menyatakan, kunci sukses meraih kemenangan itu, karena semangat dari jargonnya, "Bersatu Kita Menang". Jargon itu ia peroleh dengan memahami ideologi negara, Pancasila, dan UUD 1945. Makna dari sila-sila yang ada, sila pertama dan ketiga, kemudian menggali nilai yang terkandung dalam UUD 1945, yakni kesejahteraan rakyat.
"Itulah yang memunculkan kalimat `Bersatu Kita Menang` sehingga bukan asal saja," katanya.
Ia juga menyatakan bahwa rakyat sudah tahu, siapa kandidat yang berkualitas dan profesional. Berbagai pengalaman sudah terbukti dan sudah dipersiapkan oleh pemerintah melalui berbagai pendidikan pemerintahan. Jadi, tidak karbitan, kata Cornelis.
Cornelis juga menyatakan, kemenangan Cornelis-Christiandy Sanjaya merupakan kemenangan partai (PDI Perjuangan) dan koalisi rakyat. “Itu bukan kerja pribadi. Rakyat yang kerja keras,” kata Cornelis.
"Kalau tidak ada dukungan partai dan rakyat, kami tidak akan mampu melawan incumbent," katanya, juga menyebut, kemenangan itu karena peran Tuhan yang sangat besar. "Kemenangan ini adalah mukjizat," katanya.
Ia kemudian berpesan kepada mendukung dan simpatisannya agar tetap menjaga keamanan dan tidak mudah terprovokasi isu yang menyesatkan. Cornelis mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan berbagai informasi yang dikeluarkan berbagai pihak, mengenai perolehan suara sementara.
Ia mengemukakan, KPU juga menggunakan rasionalitas yang tinggi dan sudah bekerja untuk ini. Kalaupun KPU belum memberikan informasi dengan cepat mengenai perolehan suara, hal itu patut dipertanyakan, karena zaman sudah global. Sehingga arus informasi bisa dilakukan dan diperoleh dengan cepat.
Pengalaman ia menangani 9 kali pemilihan umum, dan dua kali pemilihan kepala daerah membuat Cornelis mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi selama pelaksanaan pemilihan umum tersebut.
Sementara keputusan untuk berpasangan dengan Christiandy Sanjaya yang beretnis Tionghoa, sehingga sangat berbeda dengan tiga pasangan calon gubernur lainnya, Cornelis menyatakan hal itu bukan menjadi landasannya.
Christiandy Sanjaya adalah seorang pendidik dan menguasai masalah ekonomi. Sedangkan saya menguasai urusan pemerintahan dan politik. "Dalam pemilihan, bukan hati nurani. Tetapi berdasarkan tingkat rasionalitas yang tinggi," katanya.
Ketika ditanya tentang kemungkinan merangkul kandidat lain dalam pemerintahannya kelak, ia menyatakan keterbukaan. Yang pasti, syaratnya harus bisa bekerja sama.
Mengenai kekhawatiran sebagian orang dengan naiknya Cornelis menjadi gubernur kelak, ia menegaskan, “Saya menjadi gubernur bukan untuk mengusir saudara saya orang Melayu atau orang Islam. Jadi, jangan berpikiran negatif.”
Cornelis menyatakan, orang tidak perlu khawatir dengan dirinya. Dia juga tidak anti dengan para pendatang. Asalkan mereka tidak datang untuk menjajah, katanya.
Bagaimanapun, ia telah berkiprah di pemerintahan selama 30 tahun. Mulai dari pegawai biasa, camat, hingga jadi bupati dua periode. Semua sudah ada peraturannya. Dan ia akan berpegang teguh pada peraturan yang ada.
Pemilihan umum gubernur - wakil gubernur Kalbar 2008-2013 yang berlangsung 15 November lalu, diikuti oleh empat pasangan calon, terdiri dari nomor urut satu (incumbent) Usman Ja`far - Laurentius Herman Kadir, dua Oesman Sapta Odang - Ignatius Lyong, tiga M Akil Mochtar - AR Mecer, empat Cornelis - Christiandy Sanjaya.□

Baca Selengkapnya...

Selasa, 13 November 2007

Drs. Cornelis, MH


Mengucapkan Terima Kasih Kepada:


1. Pemerintah Kabupaten/ Kota dan Jajarannya se-Kalimantan Barat, atas bantuan fasilitas umum selama masa kampanye Pilgub Kalbar 2007.


2. TNI/ Polri dan Jajarannya se-Kalimantan Barat atas fasilitas pengamanan selama berlangsungnya kampanye, sehingga acara kampanye berlangsung tertib dan lancar.


3. Seluruh Masyarakat Kalimantan Barat atas partisipasinya mengikuti jalannya kampanye serta menjaga keamanan dan ketertiban di Kalimantan Barat, sehingga Kalbar tetap kondusif.

Pada kesempatan ini juga, saya Drs. Cornelis, MH-Drs. Christiandy Sanjaya, SE, MM dan Tim Kampanye menghaturkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Kalimantan Barat, atas ketidaknyamanan selama massa kampanye.


Selanjutnya, apabila selama kampanye ada kata-kata yang kurang berkenan yang menyinggung perasaan bapak, ibu dan saudaraku sekalian, sekali lagi kami mohon maaf.


Tidak ada niat ataupun maksud dari kami untuk menyingung apalagi melukai perasaan bapak, ibu dan saudaraku sekalian. Itu semua semata-mata demi perjuangan untuk membangun Kalimantan Barat yang lebih baik kedepan.


Atas perhatian bapak, ibu dan saudaraku sekalian, diucapkan terima kasih.

Baca Selengkapnya...

Rabu, 07 November 2007

Selamat Datang di Kota Juang



Kandidat Gubernur Kalbar periode 2008-2013, Drs. Cornelis, MH dan rombongan ketika memasuki kota Nanga Pinoh, ibukota Kabupaten Melawi. Kehadirannya sudah dinanti-nantikan puluhan ribu massa fanatiknya, Rabu (7/11) kemarin. Selamat datang di Kota Juang, Nanga Pinoh.

Baca Selengkapnya...

Jumat, 02 November 2007

Jiwa Kepemimpinannya Dibentuk Pemerintah


Oleh: Endang Kusmiyati

Cornelis adalah putra seorang polisi. Kedisiplinan merupakan didikan utama yang diberikan oleh sang ayah. Kendati begitu jiwa pemimpin yang ada pada dirinya menurutnya tidaklah lahir dari didikan orangtuanya, tapi dari pendidikan. Dengan kata lain dibentuk oleh pemerintah lewat Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN).
Begitu juga lingkungannya, Cornelis kecil hidup di tengah-tengah masyarakat Melayu di Sukadana Ketapang. Bahkan menurutnya, Oesman Sapta Oedang yang kini sama-sama maju menjadi kandidat gubernur Kalbar adalah teman bermainnya. ”Dulu waktu kecil saya berteman dengan OSO, kami sering main tinju-tinjuan,”kenangnya sembari mengumbar senyum.
Dari berbagai pendidikan dan pengalaman kerja di pemerintahan inilah yang membuatnya bisa menjadi figure pemimpin yang sangat dicintai masyarakat Landak.
”Cornelis bukan siapa-siapa, saya hanya orang biasa,” katanya menjawab pertanyaan saya di kediamannya Gang Pak Majid, Jalan Danau Sentarum Pontianak, tentang siapa sebenarnya dirinya.
Kesuksesan yang diraihnya menurutnya karena disiplin hidup dan prinsip yang selalu dipegangnya. Yaitu tidak boleh mengambil hak orang lain. Sangat sederhana, namun prinsip tersebut menurutnya menjadi dasar sikap dan pendirian yang diambilnya dalam berbagai situasi dan kondisi.
Tepat pukul 09.15 menit, wawancara berakhir. Cornelis memasang kaos kaki dan sepatunya kemudian berangkat menuju kantor KPUD dengan iringan para ajudannnya. Sebundel map berisi ijazah siap ditunjukkannya kepada ketua dan anggota KPUD yang melalukan verifikasi data dan administrasinya. ”Ini semuanya asli, tidak ada yang beli,” katanya memberi tahu. Entah maksudnya apa.

Visi dan Misi Cornelis-Sanjaya.
Menjadi pemimpin pelayanan adalah cita-cita Cornelis-Sanjaya. Pemimpin pelayanan adalah pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan yang mengutamakan pelayanan bagi masyarakat.
Pemimpin pelayan mampu menghindari pemenuhan kepentingan pribadi dan golongan, tetapi memiliki kemampuan untuk memenuhi dan mewujudkan kepentingan masyarakat luas.
Kepemimpinan pelayanan mempunyai sifat pembaharuan, menggunakan pendekatan yang mendasar dan berjangka panjang. Yang akhirnya memberikan perubahan secara menyeluruh pada kehidupan masyarakat.
Kepemimpinan seperti inilah yang akan diterapkan oleh Cornelis-Sanjaya.
Hal ini bisa tercapai dengan visi dan misi sebagai berikut:
Visi: Masyarakat Kalimantan Barat yang cerdas, sehat dan sejahtera
Untuk mewujudakan visi tersebut, Cornelis mengaku akan menggunakan 7 cara atau misi. Yaitu pengembangan sumber daya manusia, pengembangan kehidupan sosial masyarakat yang toleran, berbudaya, agamis dan memperkuat kedudukan masyarakat adat.
Perwujudan demokratisasi, pemerataan dan keseimbangan pembangunan secara berkelanjutan, peningkatan pembangunan infrastruktur dasar untuk pedalaman dan perbatasan, pengembangan perekonomian yang bertumpu pada ekonomi kerakyatan melalui sinergi berbagai aspek pembangunan dan yang terakhir yaitu pemberdayaan ekonomi masyarakat dan seluruh kekuatan ekonomi daerah, terutama pengusaha kecil, menengah dan koperasi.
Visi dan misi tersebut menurutnya akan dijabarkan dalam berbagai kebijakan. Antara lain kebijakan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), pelayanan publik, pengembangan SDM, pengelolaan SDA, pengembangan ekonomi masyarakat, wilayah perbatasan, infrastruktur, membangun komunikasi publik dan membangun jejaring.”Itu semua untuk masyarakat Kalimantan Barat,” pungkasnya.

Baca Selengkapnya...

Dianugerahi 23 Gelar

Dianugerahi 23 Gelar
Daerah/Kabupaten
Cornelis Tokoh Nasionalis
Wilayah Kalbar
Cornelis Orang Kayo, Abdi Negara Payung Negeri
Ketapang
Cornelis Palangalalok Binua Kalbar
Kabupaten Pontianak
Cornelis Tokoh Pemersatu
Wilayah Kalbar
Cornelis Milik Semua Etnis
Wilayah Kalbar
Cornelis Pejuang Rakyat yang tertindas
Wilayah Kalbar
Cornelis Pejuang wong cilik
Transmigrasi & Pengungsi
Cornelis memiliki jiwa Bung Karno
Transmigrasi
Cornelis Berpengalaman 30 tahun mengurus rakyat
Wilayah Kalbar
Cornelis Bapak Pembangunan
Landak
Cornelis Bupati Teladan
Landak
Cornelis Melayani, Melindungi dengan Hati Tanpa Diskriminasi
Wilayah Kalbar
Cornelis sosok yang Cerdas, berani, berani, jujur, mempunyai wawasan luas
Wilayah Kalbar
Cornelis adalah Oevang Oeraay ke dua: Setelah 40 tahun menunggu muncul Cornelis Putra Asli Kalimantan yang berpeluang menjadi gubernur kalbar.
Kapuas Hulu
Cornelis Pemimpin berhati emas : Cornelis tidak pernah menolak tanggung jawab. Beliau tidak pernah terobsebsi oleh kepentingnya sendiri. Banginya ” Lebih baik mati berkalang tanah, dari pada hidup menanggung malu”
Wilayah Kalbar
Cornelis Pemimpin lembut hati : Cornelis selalu memimpin dengan tulus hati dan mengawasi orang-orang yang dipimpinnya dengan standar yang ketat serta disiplin yang tinggi. Cornelis menyadari kesulitan yang dialami oleh orang-orang yang dipimpinnya dan menghargai pengabdian mereka.
Wilayah Kalbar
Cornelis Pemimpin yang bijaksana : Cornelis pada masa senang ia dapat mengekang diri. Dalam setiap kemenangan Beliau tidak cepat puas. Beliau bijak, namun tidak benyak bicara. Beliau kuat namun rendah hati.
Wilayah Kalbar
Cornelis Pemimpin taktis : Cornelis dalam merencanakan sesuatu sangat kreatif dan berpijak pada gagasannya sendiri. Dalam bertindak beliau memanfaatkan informasi dan imaginasi. Beliau dapat mengubah kemalangan menjadi keberuntungan dan kekalahan menjadi kemenangan.
Wilayah Kalbar
Cornelis Pemimpin yang gagah Perkasa : Hal yang sangat luar biasa dialami oleh cornelis adalah semakin besar tantangani, yang dihadapinya, makin BERANI ia bertindak.
Wilayah Kalbar
Cornelis Pemimpin Besar : Cornelis setiap kali bertemu dengan orang yang cakap selalu memperlakukannya dengan hormat. Beliau sanggup menerima kritik dan saran orang lain. Memiliki sifat toleran namun tegas. Beliau gagah berani dan AHLI STRATEGI.
Wilayah Kalbar
Cornelis Rambang: Panglima Perang
Serawai, Sintang
Cornelis Bujankng Nyangko (Bujakng Nyangko Leluhur Dayak yang Sangat berani dan tidak pernah takut kepada siapapun)
Sajingan, Sambas
Cornelis Raden Cendaga Pangku Banua
Sandai, Ketapang
Cornelis Intan Berlian Kalimantan
Wilayah Kalbar
Gelar-gelar tersebut diberikan oleh masyarakat Kalimantan Barat yang mengundangnya

Baca Selengkapnya...

Cornelis di Mata Orang-orang Terdekatnya


Oleh: Endang Kusmiyati

Frederika (Isteri)
Sosok yang paling dekat dengan Cornelis tentu saja istrinya. Wanita kelahiran Toho 49 tahun ini dinikahi Cornelis pada 20 April 1980. Saat itu Cornelis adalah pegawai kecamatan Mandor.
Pertemuan keduanya terjadi tiga tahun sebelumnya, mana kala Cornelis sedang melakukan riset sebagai mahasiswa APDN Pontianak. Frederika sendiri adalah puteri Camat Menjalin yang sedang menyelesaikan pendidikannya di bangku SMA.
Setelah menikah, mereka tinggal di Mandor karena Cornelis diangkat menjadi pegawai negeri di Kecamatan Mandor Kabupaten Pontianak.
“Uang gaji bapak yang diberikan pertama kali kepada saya Rp 25 ribu. Dengan uang itulah kami memulai hidup,” kenangnya.
Karir Cornelis terus meningkat, sampai akhirnya diangkat menjadi Camat Menjalin. Suka dan duka yang menyertai kehidupan mereka pun dijalani bersama. “Saya selalu mendampingi bapak dalam suka dan duka,” katanya.
Kulihat matanya berkaca, mungkin terbayang perjuangan masa lalunya bersama sang suami.
Ibu yang sedang menunggu cucu pertamanya ini juga mengatakan Cornelis adalah sosok suami yang bijaksana.
Menurutnya sang suami tidak pernah mencampuradukan masalah pekerjaan dengan rumah. Oleh karena itu ketika sang suami memiliki beban yang berat atau masalah, Ia dan ke-2 anaknya kompak menciptakan suasana rumah yang lebih ’sejuk’.
Kala sang suami sibuk dengan pekerjaan, maka dialah yang harus menghandel berbagai masalah rumah tangga. Tapi tetap dengan seizin dari sang suami. ”Istilahnya bapak itu mendelegasikan tugas,” ujarnya.
Menurutnya, ketika tengah menyetir mobil, tiba-tiba suaminya berkata ”tidak pernah terbayangkan olehku dulu, bisa membeli dan membawa kendaraan sendiri.” Mendengar ucapan itu, ketua PKK Kabupaten Landak ini mengaku terharu.
”Ya siapa yang menyangka, dulu lagi zaman susah kita tiap hari makan pakai sayur paku,” tuturnya
Tentang makanan pun, Frederika mengatakan suaminya tidak pilih-pilih makanan. Menurutnya makanan favorit sang suami adalah sayur bening. Selain itu menurutnya Cornelis gemar mongkonsumsi daging.
”Kalau makanan yang satu ini, saya memang agak menguranginya. Tidak setiap hari saya belanja daging. Takut juga bapak kena kolesterol,” ungkapnya.
Susahnya jika suaminya pergi ke daerah, karena apa yang disajikan oleh masyarakat itulah yang disantapnya.
Awalnya, wanita yang mengaku mempunyai 6 saudara ini kurang setuju dengan rencana suaminya untuk ikut pilkada. Karena baru 2 bulan sang suami bertarung dalam pilkada di kabupaten Landak.
Namun, hampir setiap hari masyarakat dari berbagai daerah datang kerumahnya, baik yang di Pontianak maupun yang di Landak. ”Mereka selalu mendesak bapak untuk maju,” katanya.
Melihat tingginya dukungan masyarakat, dan setelah berembuk dengan keluarga akhirnya ia pun rela sang suami maju sebagai salah satu kandidat.
Baginya menang atau kalah tidak menjadi masalah, karena hasil merupakan kehendak Tuhan.
”Menjadi gubernur itu adalah amanah, kalau menang tidak menjadi soal, yang penting bapak telah berusaha,” katanya.

Karolin Margret Natasa (puteri pertama)
”Bapak adalah sosok pekerja keras dan punya integritas yang tinggi,” katanya saat kumintai komentarnya tentang sang Ayah.
Dimata Karolin yang akan segera disumpah sebagai dokter 12 September mendatang, Cornelis adalah sosok yang sangat demokratis. Dalam hal apapun.
Menurutnya sang ayah tidak pernah menetapkan anak-anaknya untuk menjadi apa dan harus bagaimana. Namun, cukup memberikan arahan dan pilihan.
”Jika saya memilih melakukan A, maka saya harus tahu mengapa saya melakukan A. Termasuk segala resiko yang harus saya tanggung,” tuturnya. Begitulah cara sang ayah mendidiknya.
Kendati Cornelis adalah pejabat yang memiliki jam terbang tinggi, namun perhatiannya terhadap keluarga masih cukup besar.
”Untuk setiap urusan/masalah keluarga bapak selalu mengutamakannya,” katanya.
Misalnya ketika dia dan adiknya di wisuda dalam waktu yang tidak jauh berbeda, ditengah kesibukannya sebagai bupati dan pimpinan partai sang ayah masih meluangkan waktu untuk mendampinginya.
Karol, panggilan akrab puteri pertama Cornelis-Frederika ini mengaku paling cerewet dengan kesibukan sang ayah. Terutama yang berhubungan dengan kunjungan tamu yang hampir tidak pernah berhenti.
”Biasanya tamu itu datang sampai larut malam. Kalau sudah begitu saya yang cerewet, karena bapak kan perlu istirahat,” ujarnya.
Walaupun secara medis sang ayah sampai saat ini menurutnya memang tidak mempunyai penyakit yang mengkhawatirkan.
Menurutnya hal-hal yang tidak terlalu mendesak untuk dibicarakan bisa dilakukan di lain waktu
Karol juga menceritakan jika ia punya keinginan dan perlu dana, maka ia harus membuat rincian kebutuhannya.
”Kalau tidak realistis, pasti bapak akan tanya dan bisa saja tidak dikabulkan,” katanya.
Begitu demokratisnya sang ayah, menurutnya dalam setiap kesempatan Cornelis selalu memberikan waktu kepada anak dan istrinya untuk memberikan kritik.
”Bapak tu kalau kita protes didengarkan juga, baru kemudian diklarifikasi. Kalau salah beliau minta maaf, tapi kalau benar ya kita yang minta maaf,” tuturnya.
Sebelum maju menjadi salah satu kandidat gubernur, sang ayah juga menurutnya mengajak diskusi intern keluarga. Begitu banyaknya dukungan dari masyarakat kepada untuk maju, maka membuat putri sulungnya pun memberikan izin.
”Karena niat bapak untuk memenuhi dukungan masyarakat, makanya kita dukung dan restui beliau untuk maju,” katanya.

Angelina Fremalco (puteri kedua)
”Komentar saya tentang bapak sama saja lah dengan kakak dan mama saya,” ungkap Angelina yang tengah mengandung anak pertamanya.
Hal terpenting yang diajarkan oleh sang ayah kepadanya adalah larangan untuk bohong.
”Jangan bohong, Bapak paling tidak suka dengan orang bohong,” katanya
Kalau sudah dibohongi, Cornelis menurutnya akan sangat marah, selanjutnya hilanng sudah kepercayaannya. Hal itu menurutnya juga berlaku kala tamu datang ingin menemui sang ayah. ”Kalau bapak ada ya harus bilang ada, kalau sedang tidur ya bilang tidur,” ujarnya.□

Baca Selengkapnya...

Semua Bergerak dalam Satu Hati


Oleh: Tanto Yakobus

Dalam setiap kesempatannya tampil di depan publik, ia selalu menyuarakan persatuan dan demokrasi untuk kesejahteraan rakyat Kalimantan Barat. Untuk menuju impian rakyat yang sejahtera itu, maka “bersatu kita menang” yang disuarakan dari hati kehati (sehati) adalah jalannya.
Itulah yang dilakukan kandidat Gubernur Kalimantan Barat nomor urut 4, Drs. Cornelis, MH saat berkeliling daerah Kalimantan Barat—dari kampung masuk kampung dan ke kampung lain lagi untuk mensosialisasikan diri menghadapi “pertarungan” politik pada tanggal 15 Nopember 2007 mendatang.
Selain menyuarakan persatuan dan demokrasi, Cornelis berupaya merangkul semua etnis, agama dan kelompok kepentingan yang ada di Kalbar ini. Semua perbedaan itu dirangkul menjadi satu. Ia paham betul bahwa persatuan itu adalah pilar demokrasi untuk mensejahterakan rakyatnya.
Cornelis yang maju berpasangan dengan Christiandy Sanjaya itu dalam setiap kesempatan mengunjungi daerah, termasuk kawasan perbatasan selalui mengingatkan masyarakatnya untuk setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Bagi saya, NKRI itu harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kita wajib menjaganya,” tegasnya dalam setiap orasinya.
Lelaki yang punya pendirian dan bicaranya tegas dan lugas ini setelah ditetapkan sebagai calon Gubernur Kalbar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Kalbar beberapa waktu lalu, rajin mensosialisasikan dirinya ke daerah-daerah.
Bahkan menjelang pelaksanaan kampanye, pasangan yang menumpang perahu PDI Perjuangan ini telah mempunyai grand strategi politis yand dideklarasikan di Pontianak Convention Center (PCC). Grand strategi itu bernama “Tim Thung Sim” atau Sehati.
Sehati adalah jawaban atas sikap diam Cornelis yang selama ini seakan tidak “bergerak” setelah deklarasi politik pasangan mereka di depan halaman Korem 121 Alambhana Wanawai, 27 Agustus 2007 lalu.
“Saya berharap masyarakat jangan terkecoh, hanya memandang calon dari segi agama bukan kredibilitas”, “kita maju tidak didukung oleh partai lain seperti calon gubernur lainnya. Oleh karena itu mari kita bersatu untuk menang”, “Mari kita bersama-sama memajukan Kalbar yang akan datang dengan revolusi, yaitu memilih pemimpin yang peduli dengan kemajuan Kalbar,” tegasnya di hadapan sekitar 10 ribu pendukungnya kala itu.
Sejak resmi sebagai calon Gubernur Kalbar, Cornelis dan pasangannya, Christiandy Sanjaya, rating politis sesuai survey lembaga tertentu cendrung naik, bahkan kini sudah melampaui 27 persen.
Kecendrungan positif tersebut karena Cornelis mulai mendapat simpati—sebagai tokoh politik yang berjiwa nasionalis. Jadi benarlah secara politis bukan lagi persoalan keyakinan “agama” bukanlah masalah “kombinasi etnisitas” atau masalah “sectarian”, melainkan karena kredibilitas figure yang nasionalis itu.
Turiman Fachturahman Nur, Pengamat Psikologi Hukum dan Hukum Tata Negara Universitas Tanjungpura (UNTAN) menyatakan, bahwa simpul-simpul politik di masyarakat belum sinergis dengan “kecepatan membaca secara cerdas” seperti apa yang dimaui UU No. 32 Tahun 2004 dan PP No. 6 Tahun 2005 sebagaimana telah diubah dengan PP No. 17 Tahun 2006, bahwa proses Pilkada bertujuan menghasilkan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang mempunyai peran yang sangat strategis dalam rangka pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan, pemerataan, kesejahteraan masyarakat, memelihara hubungan yang serasi antara Pemerintah dan Daerah serta antar Daerah untuk menjaga keutuhan NKRI
“Maka kita butuh figure Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang mampu mengembangkan inovasi, berwawasan ke depan dan siap melakukan perubahan ke arah yang lebih baik,” tegas Turiman yang rajin menulis opini di Borneo Tribune.
Kata Turiman, mengapa PP No. 6 Tahun 2005 menggunakan istilah “Figur Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah” ini bermakna, bahwa eliminasi politik Pilkada saat ini masih memilih figure KD, WKD, sedangkan “budaya politik” atau “alur berpikir politik” karakteristik sebagian elit politik Kalbar masih terjebak dengan “psikologis etnisitas”, sehingga jika rating politis dari beberapa pasangan calon menurun secara signifikan, maka salahsatu faktor politisnya adalah “alur pikir atau pola pikir politik” yang direkonstruksi PP No. 6 Tahun 2005 jo UU No. 32 Tahun 2004 berbanding lurus dengan kecepatan membaca secara cerdas “pendulum politik” dari pasangan yang tampil beda, yakni seperti mengajak masyarakat membuat revolusi pola pikir untuk merubah keadaan ke arah yang lebih baik.Sekarang kata Turiman, bandingkan dengan cerdas, pasangan Cornelis-Cristiandy “BERSATU KITA MENANG” ini bukanlah sebuah program tetapi misi yang visinya belum jelas secara politis, ada kecenderungan “dipassword” dahulu dan baru terjawab di PCC misi itu ternyata dikemas dengan grand strategi politis, “Sehati” yang diberi nama “Tim Thung Sim” dan Suhu Ong turut serta di dalamnya. Jadi “bersatu kita menang” secara politis dikemas dengan “sehati” inilah bahasa ruh yang cerdas atau semua bergerak dalam satu hati dalam pencapaian kemenangan, jadi grand strategi politisnya yang berbasis pada “kekuatan kecerdasan emosional” dan efeknya “like and dislike” suka atau tidak masyarakat Kalbar diajak untuk “thawaf politik”, walaupun sendirian atau bersama-sama, karena pasangan ini dianggap lebih mudah menggerakan “satu pesawat” politik yaitu PDI Perjuangan untuk mencapai tujuan kursi Gubernur Kalbar.□

Baca Selengkapnya...
 
Copyright  © 2007 | Design by uniQue             Icon from : FamFamFam             Powered by Powered By Blogger