
Sedikitnya sepuluh provinsi mendapat perhatian khusus dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup terkait pemberian analisa mengenai dampak lingkungan daerah (Amdal) untuk berbagai proyek pembangunan berskala luas dengan intensitas tinggi.
"Terutama yang membutuhkan lahan luas seperti kelapa sawit, penambangan serta minyak bumi dan gas," kata Deputi Bidang Tata Lingkungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Hermin Roosita di Pontianak, Rabu.
Sepuluh provinsi tersebut Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Papua, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Riau dan Sumatera Selatan.
Menurut Hermin, Kementerian Negara Lingkungan Hidup selalu berkoordinasi dengan instansi terkait di 10 provinsi tersebut, memperkuat pengawasan Amdal, melibatkan pakar, untuk menilai suatu kegiatan berdampak luas dan penting.
Namun, ia melanjutkan, bukan berarti di provinsi lain tidak ada pembangunan. "Mungkin saja mereka lebih fokus ke bidang yang tidak membutuhkan lahan luas," kata Hermin.
Ia mencontohkan provinsi di Kalimantan yang cenderung mengandalkan sumber daya alam seperti lahan, batu bara dan minyak bumi dan gas untuk menarik investor.
Pemberian Amdal untuk suatu usaha berskala luas seperti perkebunan membutuhkan waktu berkisar enam bulan hingga satu tahun.
Menteri Negara Lingkungan Hidup telah menerbitkan dua peraturan Menteri nomor 05 dan 06 tahun 2008 yang isinya berkaitan dengan tata laksana lisensi komisi penilai Amdal dan tata laksana komisi penilai Amdal kabupaten/kota.
Aturan tersebut memungkinkan daerah dapat melakukan penilaian Amdal dengan syarat bentuk kelembagaan memadai, adanya tim teknis, mempunyai pakar yang berkompeten, akses laboratorium memadai serta melibatkan LSM.
Penilai Amdal selanjutnya harus mempunyai sertifikasi. "Ini berlaku satu tahun setelah Permen Lingkungan Hidup tersebut diberlakukan, yakni Juli 2009," kata dia.
Kementerian Negara Lingkungan Hidup juga akan melakukan pelatihan untuk penilai dan penyusun Amdal terkait terbitnya Permen LH itu. Rancangan Amdal yang selama ini diduga banyak sekedar "copy paste" dari proyek lain akan sulit ditemui karena nantinya ditangani orang-orang yang berkompeten.
Hermin Roosita juga mengharapkan penilai Amdal di daerah tidak gegabah dalam menerbitkan Amdal karena harus sesuai aturan yang ditetapkan.
"Libatkan stake holder untuk menyusun Amdal serta tidak menyimpang dari aturan," kata dia menegaskan. Ia mengatakan, ketidakpatuhan terhadap aturan saat membuat Amdal membuat ada pihak yang harus ditahan oleh aparat hukum. Setiap tahun ribuan Amdal diajukan dari seluruh Indonesia.
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kalbar, Tri Budiarto mengatakan, pengesahan Amdal merupakan tahap awal sebuah perusahaan saat melakukan konstruksi pembangunan seperti membuka lahan.
"Langkah selanjutnya yang tidak kalah penting adalah mengawasi dan mengontrol realisasi Amdal," katanya.
Permen LH No 05 dan 06 Tahun 2008 memuat dan mengatur tentang Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK) yang berkaitan dengan Amdal seperti yang diamanahkan oleh PP No 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota yang berkaitan dengan Amdal.□Antara/Borneo Tribune, Pontianak.
Sabtu, 23 Agustus 2008
10 Provinsi Jadi Perhatian Khusus Kementerian LH
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
03.05
0
komentar
Label: Lingkungan
Kamis, 21 Agustus 2008
Linda Duta Lingkungan Kalbar

Para juri malam grand final pemilihan duta lingkungan hidup Kalbar sepakat memilih Linda Kusumawati, sebagai duta yang baru. Duta lingkungan hidup dari Kota Singkawang ini berhasil menyisihkan 27 duta lingkungan lainnya.
Jumat, (2/7), bertempat di Function Hall, Kapuas Palace malam pemilihan duta lingkungan yang diprakarsai oleh Bapedalda Kalbar itu diakhiri. Hadir Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya bersama istri dan sejumlah pejabat Pemprov Kalbar serta sejumlah Bupati/Walikota.
Di antara sekian banyak duta-duta lingkungan yang tampil malam itu, Linda tampil cukup baik. Ia berhasil menyisihkan rekan-rekannya yang rata-rata memiliki kemampuan dan pemahaman lingkungan yang pas-pasan. Linda tampil cukup meyakinkan.
Tidak ada perubahan format yang cukup berarti dalam ajang pemilihan duta lingkungan hidup kali ini. Rangkaian kegiatan pun nyaris tak ada yang berbeda dengan kegiatan tahun sebelumnya.
Pembekalan dan pemberian materi yang diberikan kepada para peserta dilakukan di Hotel Kapuas Palace, Pontianak. Ada juga acara kunjungan ke TPA Batu Layang juga ke sekolah yang mendapat anugerah Adiwiyata.
Suasana malam penobatan duta lingkungan hidup sendiri berjalan cukup semarak dan meriah. Dekorasi ruang yang megah dan sorotan kamera dari berbagai kru stasiun televisi menambah semarak suasana.
Tiba saat acara pemilihan. Dua puluh delapan kontestan dipersilahkan naik ke panggung, utama. Duta-duta dari 14 kabupaten/kota yang ada di Kalbar pun berlenggak-lenggok menarik simpati dewan juri. Setelah dirasa cukup memamerkan penampilan fisiknya, para duta dibedah isi kepalanya. Isu tentang lingkungan ditanyakan kepada keduapuluh delapan kontestan.
Setelah dilempar beberapa pertanyaan seputar lingkungan oleh dewan juri terlihat kapasitas para duta itu. Tidak terlihat ada sesuatu yang istimewa dari pengetahuan para peserta. Dari 28 peserta tak sampai separuh yang menguasai isu lingkungan dengan baik.
Kebanyakan mereka menjawab pertanyaan dewan juri dengan kalimat singkat yang tidak terlalu ‘nyambung’. Isu lingkungan yang dipertanyakan antara lain soal global warming, air bersih, kebakaran hutan, abrasi dan kegiatan penebangan dan penambangan liar.
Dari sekian banyak peserta yang menjawab pertanyaan juri ada satu peserta yang cukup memukau ketika memberi jawaban. Bukan karena kualitas isi jawabannya tapi pada kemampuannya menguasai forum.
Deni Ardiansyah duta dari Kabupaten Pontianak tampil beda saat memperkenalkan diri. Ketika rekan-rekannya yang lain hanya menggunakan Bahasa Inggris dan Indonesia dia tampil beda dengan menggunakan Bahasa Arab. Spontan hadirin yang tidak menyangka kepandaian pemuda ini dibuat terperangah.
Kehadiran dua biduan di sesi hiburan cukup menambah semarak acara. Yang pertama, penyanyi lokal yang baru merilis single, Ratna Werry tampil dengan gitar akustiknya membawakan dua buah lagu. Lagu pertama bertemakan lingkungan yang berjudul Bumi Maafkan Aku. Karena penampilannya yang cukup apik di atas panggung dia diminta memainkan satu lagu lagi.
Usai Ratna Werry memuaskan hasrat penggemarnya, muncul penyanyi yang sudah tidak asing lagi di belantika musik tanah air. Dialah Katon Bagaskara, penyanyi pop yang kini diangkat menjadi duta lingkungan hidup nasional oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup.
Katon membius hadirin dengan hitsnya yang sudah akrab di telinga penikmat musik. Negeri di Awan menjadi pembuka kehadiran pentolan Kla Project malam itu. Tak puas hanya bernyanyi di stage, Katon turun menyapa tamu undangan. Satu per satu meja tamu undangan dihampiri. Cinta Putih menjadi tembang penutup yang dilantunkan oleh suami Ira Wibowo malam itu.
Sebelum turun panggung Katon dalam kapasitasnya sebagai duta lingkungan hidup nasional berpesan kepada seluruh undangan untuk bersama-sama menyelamatkan lingkungan.
Saat-saat yang dibuat mendebar-debarkan pun tiba. Pemilihan jawara duta lingkungan hidup Kalbar dilaksanakan. Dua puluh delapan peserta diperas menjadi delapan orang. kedelapan orang dipilih untuk menerima penghargaan. Mulai dari peserta favorit, harapan II, hingga juara satu.
Ketua Dewan Juri, Dra. Kresensina berdasarkan hasil poling menetapkan Kresensina Marjunita dari Kabupaten Landak sebagai juara favorit pilihan pengirim sms. Juara harapan II diraih Trisye Lahabu dari Kabupaten Kubu Raya. Deni Ardiansyah yang penampilannya cukup menghibur meraih harapan I.
Runner up II diraih Riana Wulandari dari Kabupaten Pontianak. Yasinta Nova Arizona meraih runner up I.
Tiba saat paling mendebarkan. Empat dari delapan peserta yang belum dapat nomor diminta maju ke muka panggung. Setelah berputar-putar dan berpura-pura mau meletakkan mahkota duta pada salah satu kandidat, akhirnya duta lingkungan hidup Kalbar tahun 2007 berhenti di tepat di hadapan Linda Kusumawati.
Dara berjilbab ini dianugerahkan gelar sebagai duta lingkungan Kalbar tahun 2008. Keputusan dewan juri yang memilih Linda Kusumawati dinilai tepat. Jika mengacu pada kriteria penilaian yang disebutkan 70 persen berdasarkan inteligensi dan pengetahuan seputar lingkungan, Linda memang layak. Meski tidak terlalu sempurna secara ragawi, gadis berjilbab ini memiliki aura pesona dan pengetahuan yang cukup soal lingkungan hidup.
========
DUTA LINGKUNGAN
Linda Kusumawati, duta lingkungan dari Kota Singkawang terpilih sebagai duta lingkungan hidup Kalbar pada malam grand final di Function Hall, Kapuas Palace. FOTO Budi Rahman/Borneo Tribune, Pontianak.
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
07.02
0
komentar
Label: Lingkungan
Selasa, 19 Agustus 2008
Borneo Orchid Show
Menuju Perdagangan Anggrek Dunia
Indonesia yang memiliki sumber daya lahan dan iklim yang sesuai untuk budi daya anggrek. Selain itu juga di dukung oleh kekayaan ginetik Anggrek yang sangat besar. Ini seharusnya menjadi modal menuju sebagai pemain utama di perdagangan Anggrek dunia.
Hal ini di ungkapkan Ketua Harian Pusat PAI Ny Rossi Anton Apriantono dalam sambutannya setelah melantik Pengurus DPD PAI Kalbar, Sabtu(17/5) di Pendopo Gubernur Kalbar.
“Pada kenyataannya perkembangan industri anggrek nasional masih belum menggembirakan kekayaan sumber genetik yang kita miliki belum dimanfaatkan secara optimal untuk menjadi produk massal yang komersial. Saya mengharapkan PAI Kalbar dengan organisasi anggrek serta tanaman hias lainnya dapat menjadi motor dalam membangun industri tanaman hias terutama anggrek di dalam negeri” ujar Rossi.
Rossi juga mengatakan dengan dilantiknya Pengurus DPD PAI Kalbar ini diharapkan ada suatu pencerahan dimana anggrek-anggrek yang belum terselamatkan di hutan agar dapat segera diangkut untuk dikembangkan di Laboraturium dan mengembalikan ke habitatnya
Selain itu melalui PAI Kalbar diharapkan akan muncul brider-brider baru mengingat Indonesia a masih banyak kekurangan species Anggrek dan untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan dengan cara perkawinan silang sehingga dapat menghasilkan anggrek-anggrek unggulan Indonesia dan dapat di nikmati oleh kita semua.
Sedangkan untuk mendapatkan anggrek unggulan Nasional harus dengan cara bertahap, karena kita menggunakan acuan dengan standar Internasional hal ini dapat dilakukan dengan cara menggunakan teknologi sehingga lebih optimal mulai dari Regulasi dan Sertivikasi juga peningkatan SDM nya.
Sementara itu Ketua DPD PAI Kalbar ibu Frederika Cornelis usai dilantik mengatakan dengan terbentuknya DPD PAI Provinsi Kalbar potensi anggrek yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal , baik untuk kepentingan penelitian maupun kepentingan bisnis.
“Saat ini kita akan segera lakukan koordinasi di kabupaten dan Kota untuk mengetahui berbagai permasalahan yang ada, terutama mengajak pengurus agar dapat bekerja keras dan kita juga akan melibatkan petani, pengusaha anggrek, pedagang, peneliti serta lembaga terkait untuk dapat bekerja sama mengembangkan anggrek yang hampir punah dan mengembalikan ke habitatnya” ujar Frederika Cornelis
Frederika juga mengatakan dalam waktu dekat kita akan melakukan Pertemuan pengurus DPD PAI untuk segera membuat program ke depan sehingga dapat menunjukkan kinerja secara nyata dalam pengembangan anggrek, khususnya di Kalbar.
Sementara itu Ketua Panitia BOS Dewo Sunarso saat ditemui mengatakan selama ini kita telah Spesifikasikan jenis anggrek ada banyak sekali dan ada dua jenis yang nanti akan kita jadikan unggulan di pameran ini sebagai Ikon Kalbar yang akan kita pelihara dengan baik dan di lestarikan sehingga habitat ini tetap terjaga dari kepunahan.
“Ini sekaligus dapat mendatangkan nilai ekonomis bagi masyarakat, dam BOS juga menjadi pusat pertemuan, interaksi, mulai dari pencinta anggrek, penangkar, peneliti,dan para pengusaha yang diharapkan akan menentukan perspektif market sehingga bernilai ekonomis” ujar Dewo
Borneo Orchid Show ke-7 tahun 2008 yang diikuti dengan serangkaian kegiatan, mulai dari pelantikan pengurus DPD PAI Kalbar, launching buku anggrek dan Nephenthes, peresmian bursa Anggrek Kalbar dan seminar anggrek yang akan mengupas masalah Budi daya anggrek dan marketnya.
==========
Pusat Bursa Anggrek Kalbar
Ketua Harian Pusat PAI ibu Rossi Anton Apriantono, didampingi oleh Ketua DPD PAI Kabar ibu Frederika Cornelis, beserta Ketua Panitia BOS Dewo Sunarso meninjau Pusat Bursa Anggrek Kalbar, Sabtu (17/5) Foto Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune.
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
19.15
0
komentar
Label: Lingkungan

Sep 2012
