
Setiap organisasi kemasyarakatan (ormas) memiliki peran dan fungsi yang besar dalam menggali potensi masyarakat sesuai bidang kegiatannya masing-masing yang tercantum di dalam Undang Undang No 8 Tahun 1985. Sebagai salah satu bukti dukungan Pemprov Kalbar adalah memberikan kantor operasional kepada Sekertariat DPD Wanita Katolik Kalbar beralamat di Jalan Daeng Abdul Hadi Pontianak.
Keberadaan kantor ini diharapkan dapat memperlancar operasional organisasi masyarakat berbasis keagamaan dalam menunjang kegiatannya.
Hal ini dikatakan Gubernur Kalbar Cornelis saat meresmikan kantor tersebut, Rabu (24/9) kemarin. Gubernur Cornelis mengatakan, organisasi seperti wanita Katolik memiliki peran penting dalam pembangunan daerah dan bangsa ini, sehingga perlu adanya kerjasama yang baik antarpengurus organisasi dalam menjalankan setiap kegiatan organisasinya.
Selain kerjasama dalam berorganisasi perlu juga mengeluarkan kinerja dan biaya, sehingga apapun yang menjadi tujuan dari berdirinya organisasi dapat di capai gubernur kalbar cornelis juga mengatakan organisasi juga memerlukan sumber daya manusia yang memadai untuk meningkatkan output yang dihasilkan dari prganisasinya.
Sementara itu menurut Pembina DPD Wanita Khatolik Kalbar Ny Frederika Cornelis mengatakan kita menyambut baik, adanya Kantor DPD Wanita Katolik ini yang juga digunakan untuk Sekretariat Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGIW) Kalbar, dan Sekretariat Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi).
”Mereka sudah 10 tahun menumpang di Keuskupan Jalan Imam Bonjol dan sekarang mereka telah memiliki tempat sendiri, selain itu saya juga berharap organisasi ini dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat daerah, terutama menyangkut masalah trafikking ” ungkap Ny Frederika.
==========
BANTUAN
Pembina DPD Wanita Katolik Kalbar Ny Frederika Cornelis saat meresmikan Kantor Sekretariat DPD Wanita Katolik Kalbar. FOTO Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune, Pontianak
Kamis, 25 September 2008
Pemprov Dukung Semua Ormas
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
08.01
0
komentar
Cornelis Setuju Perolehan Suara Terbanyak
Aturan internal partai politik (parpol) mengenai penetapan calon terpilih melalui suara terbanyak pada pemilu legislatif 2009 diprediksikan bakal mencuatkan soal ketidakpastian hukum. Dikhawatirkan situasi politik seperti ini akan berimbas pada penyelenggara pemilu alias KPU yang akan berhadapan dengan manuver invasi maupun gugatan parpol yang kadernya menolak dan tidak mau mengundurkan diri.
Oleh karena itu, sejumlah fraksi besar di DPR sepakat untuk melakukan revisi terbatas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilu terkait pasal 214 tentang penentuan calon anggota legislatif terpilih. Sebut saja Fraksi Golkar, PDIP, PBR dan lainnya yang setuju akan hal itu. “Kalau di sana setuju, kita setuju juga. PDIP-kan termasuk fraksi terbesar juga,” tegas Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Kalimantan Barat, Drs. Cornelis, MH di gedung DPRD Kalbar, Kamis kemarin.
Sekalipun sepakat terhadap revisi terbatas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilu, namun Cornelis belum mengetahui secara pasti entry point maupun pasal maupun ayat yang krusial yang bakal direvisi. ”Saya belum tahu secara pasti. Yang jelas mengenai perolehan suara terbanyak itu memang perlu dirubah. Kalau dulu-kan banyak orang yang hanya nenggek dengan partai,” cetusnya santai.
Cornelis yang juga merupakan orang nomor satu di Provinsi Kalimantan Barat ini menegaskan bahwa dalam suasana dan alam demokratis di Indonesia seperti sekarang ini perolehan suara terbanyak dalam pemilu legislatif merupakan sesuatu yang layak untuk diimplementasikan di republik ini. ”Peroleh suara terbanyak itu wajar. Jangan dia berada di nomor satu tetapi tidak ada orang yang kenal dia. Partainya yang terkenal. PDI Perjuangan setuju dengan perolehan suara terbanyak. Bahkan kami sudah bikin edaran,” ulasnya sembari berlalu.
Sementara itu di tempat terpisah, Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Kalbar, Ir.H. Zulfadhli menambahkan sejauh ini DPP Partai Golkar saat ini terus mendorong DPR RI untuk segera melakukan proses revisi terbatas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilu. Khususnya mengenai tata cara penetapan calon terpilih. ”Namun sejauh ini sejumlah fraksi besar di DPR sudah mendukung akan proses ini,” ujar Zulfadhli.
Revisi terbatas tersebut pada intinya adalah untuk memberikan legitimasi yang kokoh terhadap penentuan caleg dengan suara terbanyak dan menjadi alternatif penentuan caleg sebagaimana telah ditetapkan dalam Pasal 214 UU Pemilu (BPP minimal 30 persen). ”Dan nantinya akan ditambah satu ayat lagi. Selain berdasarkan BPP juga bisa menggunakan penetapan dengan perolehan suara terbanyak. Jadi diserahkan kepada partai mau menggunakan sistem yang mana,” ulas dia.
Sebab, apabila hanya dipergunakan mekanisme perolehan suara terbanyak saja maka perangkat perundang-undangan itu harus dirubah. Dan karena ini namanya revisi terbatas maka tidak mengubah UU tersebut, melainkan hanya menambah satu ayat saja. Sehingga dikembalikan kepada mau menggunakan mekanisme yang mana.□Andry/Borneo Tribune, Pontianak
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
07.56
0
komentar
Senin, 22 September 2008
Citrus Center Buktikan Industri Jeruk Sambas

Keberadaan Citrus Center sebagai pusat riset dan pengembangan komoditi jeruk di Kabupaten Sambas telah memberikan kontribusi yang tidak sedikit. Melalui fasilitasi dan bimbingan yang diberikan, banyak petani jeruk di Sambas yang bisa meraup keuntungan lebih.
Pada kegiatan safari Ramadan lalu, Gubernur Kalbar, Cornelis sempat meninjau langsung lokasi Citrus Center di Kecamatan Semparuk, Sambas. Meski masih dalam proses pengembangan dan pembangunan beberapa fasilitas pendukung lainnya, keberadaan Citrus Center sendiri sudah beroperasi beberapa tahun lalu.
Dengan seksama Gubernur mendengarkan penjelasan dari staf Citrus Center. Di ruang audio visual yang memiliki fasilitas seperti ruang teater gubernur mendengar presentasi tentang pengembangan komoditi jeruk di Sambas yang sudah memiliki brand secara nasional. Mulai dari proses produksi dan pengembangan tanaman hingga pemasaran dijelaskan kepada Gubernur.
Gubernur menanyakan kepada pihak Citrus Center apakah sejauh ini sudah dijalin kerjasama dengan para pemiliki modal. M. Budi Setiawan, Kabid Bina Produksi Hortikultura Dinas Pertanian Sambas mengaku hal tersebut belum terjalin.
“Coba cari jalanlah kerja sama dengan pemodal, petani dan pemerintah,” kata Gubernur Cornelis.
Setelah mendengar penjelasan tentang pengembangan teknologi pengembangan jeruk Gubernur bersama rombongan menyempatkan diri meninjau fasilitas pengolahan jeruk yang terletak di komplek Citrus Center. Di gedung ini telah terpasang mesin penghasil jus jeruk berkualitas tinggi karena cukup canggih.
Produksi jeruk Sambas sendiri saat ini menurut Budi Setiawan luas lahan kebun jeruk di Sambas mencapai 12.000 hektar. Dengan pendekatan teknologi yang tepat produksi jeruk di Sambas dapat ditingkatkan.
“Kita berupaya untuk meningkatkan mutu dan kualitas produksi,” kata Budi Setiawan.
Mutu produksi yang dimaksud adalah dengan melakukan penyilangan varietas jeruk unggul. Sementara untuk ekstensifikasi lahan sudah tidak lagi dilakukan demi menjaga pasar jeruk di musim panen raya.□
==============
KUNJUNGAN
Gubernur Cornelis meninjau mesin pengolah jeruk di Citrus Center. FOTO Budi Rahman/Borneo Tribune, Pontianak
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
19.16
0
komentar
Pegawai Tak Berdedikasi
Tajuk Harian Borneo Tribune, Tanggal 23 September 2008
Kekesalan – kalau bukan kemarahan Gubernur Kalbar Cornelis terhadap pegawai yang kinerjanya rendah saat kunjungan kerja ke Paloh Sambas menjadi pembicaraan banyak kalangan.
Peristiwa ini bisa membuat kita tersenyum. Ada hal ‘lucu’ di balik kejadian ini. Maklum seperti diberitakan gubernur marah setelah kembali dari WC yang katanya tidak ada air.
Tetapi, peristiwa ini juga bisa membuat kita ikut geram. Bagaimana mungkin para pegawai bisa lalai mempersiapkan penyambutan kedatangan gubernur? Bagaimana mungkin mereka tidak mempersiapkan segala sesuatu sebaik-baiknya?
Beginikah kinerja pegawai pemerintah kita? Sebegitu parahkah keadaannya? Apa yang mereka perbuat? Apa yang pemimpin (pada level tertentu) kerjakan? Di mana kordinasi?
Sesungguhnya banyak lagi hal yang ingin kita tanyakan. Jujur kita prihatin dengan situasi ini. Bayangkan saja, jika untuk menyambut kedatangan gubernur saja mereka begitu, bagaimana kalau tidak ada kunjungan?
Pada pendapat kita hal seperti ini tidak boleh dibiarkan. Para pegawai harus ditangani dengan benar. Para pegawai harus dibina. Bahkan jika perlu, mereka diberikan tindakan.
Semuanya. Bukan saja staf yang menangani pekerjaan itu, tetapi juga atasan mereka.
Gubernur, Bupati, melalui dinas yang ada di bawah kewenangan mereka, harus mengadakan evaluasi terhadap kinerja para pegawai yang ada. Bagaimana kehadiran mereka, bagaimana produktivitas kerja mereka, seharusnya dipantau dengan cermat. Tidak cukup lagi penilaian dengan hanya mencantumkan nilai pada daftar penilaian prestasi pegawai (DP3) yang kadang kala cara mengisinya tidak jelas. Bahkan tidak terukur. Penilaian yang mengacu pada DP3 yang digunakan sekarang ini tidak benar-benar adil dan baik. Pegawai yang baik tidak diberikan penghargaan seperti seharusnya, sebaliknya pegawai yang malas juga tidak mendapatkan balasan seperti yang harus diterimanya.
Penilaian yang berlaku pada lembaga yang biasanya disebut ‘ketat dan berdisiplin’ seharusnya sudah mulai diterapkan. Ketika pemerintah ingin memberikan layanan terbaik kepada masyarakat, ketika birokrasi ingin meningkatkan kinerjanya, standar-standar pelayanan global, bentuk pelayanan terbaik, harus diterapkan.
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
19.14
0
komentar
Gubernur Tidak Diskriminasikan Salah Satu Agama

Perbedaan latar belakang suku dan agama tidak boleh membuat seorang pemimpin berpandangan primordial. Ia harus bisa menempatkan diri di atas semua golongan. Hal inilah yang ditunjukkan Gubernur Cornelis kala melakukan perjalanan di bulan Ramadan.
Sikap toleran dan keterbukaan diperlihatkan Gubernur Cornelis saat melakukan kegiatan Safari Ramadan di daerah pesisir Kalbar yang mayoritas berpenduduk muslim. Saat tiba di Sambas, Jumat, (19/9) Gubernur tanpa canggung berinteraksi dengan warga Sambas yang hadir di Pendopo Bupati Sambas.
Dengan santai Gubernur mengaku tidak terlalu asing dengan Sambas. Meski ia bukan berasal dari daerah Sambas tapi kedekatan itu tetap ada pada diri Gubernur Cornelis.
“Kakek saya dari Landak ikut membangun kerajaan ini. Adik saya yang bungsu juga tinggal di Tebas. Sampai sekarang ndak pulang-pulang,” kata Cornelis bersahabat.
Kepada warga Sambas Gubernur mengatakan kegiatan safari Ramadan ini dimaksudkan untuk membangun silaturahmi dan mensosialisasikan hasil-hasil pembangunan. Berdasarkan arahan Presiden SBY, Gubernur juga mengaku mendapat instruksi untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan safari Ramadan. Beberapa waktu lalu, pemerintah pusat juga sudah melakukan kunjungan ke Kalbar dalam rangka safari Ramadan.
Sebagai kepala daerah Gubernur mengaku tidak membeda-bedakan suku dan agama warga Kalbar.
“Inilah hebatnya kita di Indonesia. Padahal di negara asal agama-agama, entah Kristen atau Islam di Arab sana masih terus berperang,” kata Gubernur disambut tawa hadirin.
Momen bulan puasa menurut Gubernur dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keamanan dan kesalehan sosial masyarakat. Selain itu dalam bulan suci ini juga banyak manfaat yang bisa diraih antar sesama umat.
“Jadi bulan Ramadan ini hari baik bulan baik kita bersilaturahmi. Bulan puasa ini kita berlatih sampai kita meraih kemenangan di hari lebaran nanti. Kita menang atas kuasa setan,” kata Gubernur Cornelis.
Pada kesempatan ini Gubernur memberikan sejumlah bantuan kepada warga Sambas. Bantuan rumah ibadah sebesar Rp. 5 Juta diserahkan kepada Camat Sambas. Bantuan peremajaan bibit karet unggul, bibit sayuran dan bantuan 100 lembar kain sarung dari saku pribadi Gubernur Cornelis juga turut diserahkan.
Kepada Sekda dan pejabat Pemkab Sambas yang hadir Gubernur Cornelis meminta maaf tidak dapat bermalam di Pendopo. Ia memilih menginap di Pastoran.
“Bukan apa, ngga enak. Soalnya waktu belum jadi Gubernur saya menginap di rumah pastor sekarang sudah jadi kalau tidak nginap di sana kesannya kurang bagus,” kata Gubernur Cornelis sambil pamit undur diri.□
===========
Gubernur Cornelis menyerahkan sejumlah bantuan kepada masyarakat di Sambas saat melakukan kegiatan safari Ramadan di Pendopo Bupati. FOTO Budi Rahman/Borneo Tribune,Pontianak
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
06.59
0
komentar
Percepat Kesejahteraan Rakyat Kalbar
Tajuk Harian Borneo Tribune
Tema kesejahteraan yang dibawa Gubernur Cornelis dalam safari Ramadannya bersama rombongan sangat tepat untuk kondisi kita. Sekarang terlihat betapa banyak rakyat hidup melarat yang ibarat puasa, sudah Senin-Kamis.
Ide dan gagasan Gubernur yang sesungguhnya tertulis di dalam visi-misi serta sudah dituangkan ke dalam APBD maupun RPJM hendaknya menjadi fokus perhatian para staf dan mitra Gubernur. Selain dinas, juga adalah para wakil rakyat di DPRD, karena di sana anggaran disusun, program diluluskan.
Katanya, jika kepala ke utara maka ekor ke utara. Jika kepala ke selatan, maka ekor juga akan ikut ke selatan. Nah, sekarang orang nomor satu di Kalbar ingin ada percepatan pencapaian kesejahteraan rakyat Kalbar, maka para staf harus membantu. Staf di birokrasi hingga ujung tombak di desa, hingga rukun-rukun tetangga.
Keinginan Gubernur Cornelis juga pasti adalah keinginan kita. Maka dengan momen safari Ramadan kita eratkan persatuan dan kesatuan, di mana program-program pemberdayaan di sektor usaha kecil menengah, pembukaan lapangan-lapangan kerja di sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perisndustrian, pendidikan, pariwisata, hingga berbagai bentuk jasa patut difokuskan kepada peningkatan daya saing dan nilai tambah. Ilmuan kerap kali menyebutkannya dengan comparative competitive dan competitive advantages.
Kita harus cerdas meninventarisir potensi, menyusun ide-ide kreatif dan kemudian meningkatkan daya tambah atas potensi SDA kita yang relatif kaya dan luas. Bahkan luas Kalbar saja 1,5 kali Pulau Jawa. Kekayaan itu terbentang dari langit sampai ke darat dan air.
Akibat kelemahan kita, miliaran bahkan triliunan harta karun kita dicuri pihak-pihak tak bertanggung jawab. Pada sisi lain, dikorup oknum pejabat.
Kita harus menyadari bahwa seruang Gubernur Cornelis sangat penting. Bukan sekedar jargon dan pepesan kosong. Terlebih di PT Aquarium Shrimp Gubernur Cornelis tegas menayakan adakah pungli dan taatkah bayar pajak? Jika izin dihambat, laporkan saja kepada Gubernur maka akan dipermudah serta tak perlu kasih uang! Ini jelas komitmen yang sangat keras!
Isu kesejahteraan adalah isu global. Lawannya adalah kemiskinan, korupsi dan kerusakan lingkungan. Kalbar turut merasakan keterkaitan itu.
Dengan kesejahteraan rakyat meningkat, maka kerusakan lingkungan akan perlahan teratasi, gizi rakyat meningkat, kesehatan meningkat, pendidikan pun meningkat. Dengan pendidikan meningkat, maka rakyat akan melangkah lebih jauh untuk hidup kompetitif di tengah daya saing global.
Menyoal isu kesra yang digaungkan Cornelis, kita menjadi fokus pada adagium universalitas. Sudah sama sekali tidak lagi memandang si A Kristen-Katolik, si B Muslim, si C Budha, Hindu, Kepercayaan dan lain sebagainya. Kita mesti belajar hidup dalam multietnis yang pluralis sehingga Gubernur Cornelis keluar-masuk masjid menjadi lumrah.
Jika ada sebagian muslim yang bertanya, bolehkah demikian? Maka bait puisi Muhammad Iqbal sebagai pujangga muslim patut direnungkan: “Saya seorang muslim, suku saya adalah bangsa, bangsa saya adalah manusia.”
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
06.54
0
komentar
Emosi Naik Lihat Pegawai Tak Berdedikasi

Pengalaman panjang Gubernur Cornelis di dunia birokrasi membuatnya mengerti akar persoalan yang dialami para pegawai. Sebaliknya, dia juga paham betul akal bulus dan ciri-ciri pegawai yang tak berdedikasi. Tak ayal, emosi Pak Gubernur pun meninggi ketika melihat sepak terjang bawahannya yang tak becus.
Kejadian kurang menyenangkan ini terjadi di Kecamatan Paloh. Gubernur terlihat kecewa dengan kinerja pegawai yang bernaung di Dinas Perhubungan yang terlihat tidak memiliki dedikasi dan tanggung jawab terhadap tugas dan kewajibannya. Perkara sederhana dan terbilang remeh yang mestinya tidak perlu terjadi justru terjadi secara gamblang di depan mata orang nomor satu di Kalbar ini.
Kejadian memalukan itu terjadi saat rombongan Gubernur tiba di Pelabuhan Paloh, Jumat, (19/9). Di pelabuhan yang baru selesai dibangun beberapa tahun lalu ini petugas yang harusnya bertanggung jawab di posnya justru terlihat abai. Dari awal aroma tidak beres itu sudah tercium.
Pertama, saat rombongan Gubernur menuju lokasi pelabuhan yang diproyeksikan menjadi pelabuhan nasional harus kesusahan menghadapi jalan tanah kuning yang berlubang-lubang. Truk pengangkut tanah terlihat sibuk menutup lubang yang sangat banyak itu. Tak sedikit mobil rombongan yang menjadi korban lubang tersebut. Satu pertanda kurangnya koordinasi dan persiapan terlihat jelas.
Saat tiba di Kantor Administrasi Pelabuhan (Adpel) yang masih baru dan kinclong suasana tak siap juga masih terlihat. Di depan kantor sejumlah pegawai dan petugas KPLP dengan baju necis dan stelan rambut gaul menyambut rombongan sambil cengar-cengir. Petaka tiba waktu Gubernur hendak buang hajat.
Sesaat setelah keluar kamar kecil, Gubernur menghampiri sejumlah pegawai dan Kepala Dinas Perhubungan, Ibrahim Basri dengan ekspresi menahan geram. Kepada Kepala Dishub yang menyertai rombongan ini Gubernur bertanya dengan majas ironi.
“Dibayar nda sih gaji mereka ini Pak?” tanya Gubernur pada Kadishub.
Ibrahim Basri menjawab dibayar dan lancar. Gubernur kesal. Kekesalan Gubernur disebabkan minimnya perhatian dari para pegawai kantor Adpel ini. Waktu buang air, ternyata di kamar kecil tidak tersedia air dan kondisinya juga jorok tidak terurus.
Kepala kantor juga tidak menampakkan batang hidungnya pada saat kejadian. Gubernur menanyakan sebab ketidak hadiran sang kepala kantor. Kadishub terkesan melindungi anak buahnya. Ia menyebut kepala kantor tersebut baru saja bertugas di Paloh, pindahan dari Melano.
Saking kesalnya pada para pegawai yang tidak bertanggung jawab ini, Gubernur sempat mengusulkan untuk memberhentikan para pegawai yang tidak berdedikasi ini.
“Coba diganti aja mereka itu. Daripada ngarap-ngarap, masih banyak orang yang mau menggantikan,” sungut Gubernur.
Gubernur mengaku kesal dengan kesan tidak bertanggung para pegawai yang bertugas di Pelabuhan Paloh ini. Ia menyayangkan banyaknya kerugian yang harus ditanggung negara akibat ketidakbecusan mereka mengelola aset negara ini.
“Macam mana ini? Coba wartawan-wartawan liat. Bukan sikit-sikit aset yang harus dipelihara, dijaga. Ini semua dibeli pakai uang rakyat,” kata Gubernur sambil menunjuk inventaris kantor yang masih baru tapi tidak terawat tersebut.
Saat disinggung tentang mentalitas pegawai yang tidak bertanggung jawab sebagai akar persoalan, Gubernur sepakat dengan hal itu.
“Betul kan, apa yang saya bilang. Ini soal mentalitet,” kata Gubernur menegaskan statemennya di awal-awal kegiatan Safari Ramadan.
Persoalan mentalitas memang menjadi perhatian tersendiri bagi Gubernur Cornelis. Ia mengaku resah dengan masih melekatnya sifat dan mental sebagai bangsa terjajah di kalangan rakyat dan para pamong. Beberapa kali Cornelis mengungkapkan hal ini dalam banyak kesempata. Gubernur bertekad mengikis mentalitas ini untuk meninggalkan keterbelakangan dan kemelaratan yang masih menjadi sahabat sebagian besar rakyat Kalimantan Barat.□
=========
SERIUS. Gubernur dengan serius menyimak penjelasan salah satu staf PT. Aquarium Shrimp tentang proses pengembangbiakkan benur di lokasi pembibitan di Tanjung Gundul, Bengkayang. FOTO Budi Rahman/Borneo Tribune, Pontianak.
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
06.48
0
komentar
Minggu, 21 September 2008
Cornelis Ingin Cepat Sejahterakan Rakyat
Kasi Izin, Tak Perlu Pakai Uang
Semangat untuk membangun dan mensejahterakan warga Kalbar sedang menyala-nyala di hati Gubernur Cornelis. Dengan visi kepemimpinannya yang tidak mensekat-sekat latar belakang agama dan etnis ia manfaatkan momentum Ramadan sebagai alat sosialisasi pembangunan.
Selama dua hari penuh Gubernur Kalbar pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat ini melakukan safari Ramadan di daerah pesisir utara Kalbar. Sebuah program yang identik dengan citra politis ciri keagamaan ini dilakoni Gubernur dan rombongan dengan penuh dedikasi.
Selama dua hari, sejak hari Kamis sampai Jumat malam, (18-19/9) Gubernur bersama rombongan meninjau langsung kondisi warga dan proses pembangunan yang telah dilakukan hingga ke pelosok kampung. Gangguan dan hambatan yang terjadi di jalan tak menyurutkan tekad tokoh nasionalis ini.
Diawali dengan kunjungan salah satu pabrik pengolahan udang di Batu Layang, Pontianak, Kamis (18/9). Rombongan Gubernur mengunjungi PT. Aquarium Shrimp, perusahaan pengolahan udang kualitas ekspor yang mendapat investasi dari Korea Selatan. Di pabrik yang memiliki 600 karyawan dan produksi tak kurang dari 20 ribu metrix ton/tahun ini Gubernur tanpa tendeng aling-aling menanyakan kontribusi perusahaan pada daerah ini.
“You setor pajak ngga’ ke negara?” tanya Cornelis.
Mr. Park See Woo, President Director yang mendapat pertanyaan tersebut sempat clingak-clinguk kebingungan. Lalu saat dijelaskan maksud pertanyaan Gubernur tersebut adalah tax Ia baru ngeh.
“O Bayar. 5 Juta US $ tiap tahun,” ujar ekspatriat ini dengan bahasa Indonesia logat Korea. Dari Jumlah yang disebutkan Mr. Park Gubernur menanyakan lagi berapa bagian yang didapat Kalbar. Gubernur benar-benar ingin mendapat informasi yang sahih tentang kontribusi yang diberikan perusahaan-perusahaan luar yang berinvestasi di Kalbar.
Dari slide yang ditayangkan salah satu staf perusahaan disebutkan bahwa pihak Korea berniat menanamkan investasi sebesar Rp200 miliar/tahun selama 4 tahun. Total ada Rp800 miliar yang siap digelontorkan negeri Gingseng tersebut ke Indonesia termasuk Kalbar.
“Kita berfikir sederhana saja. Apa yang didapat rakyat dari sekian banyak investasi yang ditanamkan?” kata Gubernur tak bertele-tele.
Mr. Park yang didampingi Mr. Lee Juh sebagai pimpinan tertinggi di PT. Aquarium Shrimp memaparkan manfaat timbal balik yang mereka berikan pada warga di sekitar perusahaan. Selain menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit, PT. Aquarium Shrimp juga membantu memberikan bimbingan teknis kepada warga yang berminat berbisnis tambak udang. Saat ini PT. Aquarium Shrimp juga sedang mengembangkan kacang koro di beberapa daerah Kalbar.
“Ini kan dilemparkan aja hidup Pak?” kata Cornelis memotong penjelasan Mr. Park yang cukup berliku.
Pada prinsipnya Gubernur berharap banyak dengan adanya investor-investor yang masuk ke daerah ini tingkat kesejahteraan rakyat juga ikut terdongkrak. Pihak PT. Aquarium Shrimp mengaku sedang merancang konsep tambak rakyat. Setiap KK akan diberikan lahan seluas tiga hektar, tapi dengan alasan kelestarian lingkungan hanya sepertiga saja yang boleh dikelola.
“Jangan sepertiga, lima puluh persen. Bila perlu nanti sepanjang garis pantai kita sampai Sambas kita bangun tambak,” kata Gubernur. Pihak Aquarium Shrimp mengaku terhambat masalah izin.
“Bilang saya, nanti saya yang kasi izin. Asal jangan hutan lindung, pokoknya syarat-syaratnya diurus. Nanti saya kasi izin, nda usah pakai-pakai uang,” tegas Gubernur.
Sebelum meninggalkan kantor dan pabrik udang ini Gubernur sempat menanyakan kepada pimpinan perusahaan tentang kesejahteraan pegawainya. “Dikasi THR nda ini karyawannya?” tanya Gubernur. Pihak perusahaan mengaku sudah barang tentu memberikan santunan tersebut untuk para pegawainya.
Kepada pimpinan PT Aquarium Shrimp dan para kepala dinas yang menyertai rombongan safari Ramadan, Gubernur mewanti-wanti agar pola pikir mereka benar-benar diatur supaya lebih pro rakyat.
“Manfaatkan sumber daya yang ada. Kita harus sejahterakan rakyat. Investor ini kan punya modal dan manajemen yang bagus, libatkan warga. Mental malas kita rubah,” seru Gubernur.
Dari kawasan Batu Layang rombongan meluncur menuju Kuala Mempawah, meninjau langsung lokasi tambak PT. Aquarium Shrimp. Tanpa canggung Gubernur menjala kolam-kolam tambak yang penuh udang. Sisa-sisa keterampilannya menjala sewaktu kecil masih terlihat. Satu kali dua melempar jala, baskom penampung telah penuh dengan udang yang jumlahnya memang melimpah di dasar kolam.
“Wah kalau begini hasilnya, pasti bisa sejahtera rakyat,” kata Cornelis sambil meraup udang-udang yang dilempar kembali ke kolam.
Sebelum meninggalkan lokasi tambak, Gubernur sempat beristirahat di pondok beramah tamah dengan para pekerja tambak dan rombongan safari.
Udang dan budidaya perikanan sepertinya menjadi fokus perhatian Gubernur dan jajarannya. Pada safari Ramadan kali ini rombongan memberikan perhatian lebih untuk pengembangan sektor perikanan. Di sepanjang daerah pesisir Kalbar potensi pengembangan sektor ini memang terbuka lebar.
Gubernur menyempatkan meninjau lokasi pembibitan benih udang (hatchery) di daerah Tanjung Gundul, Bengkayang. Di sini, dengan seksama Gubernur memperhatikan proses pembiakan benur udang yang siap disebar dan dipasarkan ke sejumlah tambak.
Mendapat Musibah
Tekad Gubernur untuk menebarkan syiar pembangunan di bulan Ramadan memang patut diacungi jempol. Sejumlah cobaan dan rintangan yang menghalangi tak menyurutkan tekad rombongan. Saat hendak menuju Sambas rombongan Gubernur mengalami musibah. Di salah satu titik jalan menuju Kota Singkawang, konvoi rombongan Gubernur yang berjumlah puluhan kendaraan itu mengalami kecelakaan, tabrakan beruntun.
Sebuah lubang di dekat Sekolah Calon Tantama (Secata) B Kodam Tanjungpura, Kawasan Pasir Panjang menjadi penyebab celaka. Lubang yang tahun lalu juga sempat membuat salah satu mobil peserta konvoi rombongan mantan Gubernur Usman Ja’far tertubruk itu kembali memakan korban. Kali ini jumlah korban lebih banyak dengan tingkat kerusakan lebih parah.
Empat buah mobil bertabrakan secara karambol akibat pengereman mendadak dari salah satu mobil di depannya. Total ada empat buah mobil yang saling berbenturan dan mengakibatkan luka-luka yang bervariasi. Nissan Terrano KB 1167 PS yang ditumpangi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Budi Haryanto menjadi pangkal tabrakan. Selanjutnya sedan KB 533 AK, Kijang Innova KB 1523 AV dan Kijang KB 1167 AS secara berurutan saling bertubrukan di belakang. Semua moncong dan kap mobil di belakang mobil Nissan Terrano ringsek tak dapat melanjutkan perjalanan.
Ada suasana panik dan nervous usai kejadian. Masing-masing saling memberikan bantuan kepada korban. “Mestinya yang di depan jangan ngerem kalau konvoi,” kata Kepala Dinas Pendidikan, Ngatman yang menjadi salah satu korban.
“Wah dua-duanya penyok ya,” ujar Gubernur yang langsung menjenguk korban dan melihat kondisi kendaraan yang mengalami musibah.
Meski mengalami kecelakaan yang cukup parah rombongan tetap melanjutkan perjalanan. Para korban dievakuasi ke Singakawang, sementara anggota rombongan yang lain bergerak menuju Sambas.
“Ini musibah. Tapi yang jelas yang sakit kita obati, yang rusak kita perbaiki,” kata Gubernur usai berbuka puasa di Pendopo Bupati Sambas.
Usai mengikuti acara buka puasa bersama Gubernur Cornelis menyampaikan pesan-pesan pembangunan dan menyerahkan sejumlah bantuan kepada warga Sambas. Keesokan harinya rombongan melanjutkan safari ke daerah Paloh.□Budi Rahman/Borneo Tribune, Pontianak
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
01.08
0
komentar

Sep 2012
