Herkulanus Agus
Borneo Tribune, Sanggau
Pleno rekapitulasi perhitungan suara di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sanggau, Kamis (22/11) sudah final. Pasangan nomor urut 4 Cornelis dan Cristiandy menempati posisi pertama dengan perolehan 151.177 suara disusul pasangan UJ-LHK di urutan kedua dengan perolehan 43.748 suara, ketiga pasangan Akil-Mecer dengan 14.466 suara dan keempat pasangan OS-Lyong dengan 10.986 suara.
Sejak perhitungan secara resmi di KPUD Sanggau beberapa waktu lalu. Suara Cornelis sudah tampak dominan. Ia unggul di 14 Kecamatan atau PPK di Kabupaten Sanggau. Yaitu Kecamatan Kapuas 17.097, Meliau 14.478, Bonti 8093, Parindu 15.971, Jangkang 11.496, Kembayan 12.071, Beduai 4.845, Sekayam, 8.424, Entikong 5.443. Noyan 5.108, Tayan Hulu 15.396. Balai 13.163. Tayan Hilir 10.494 dan Toba 6077. Sementara Uj-LH unggul tipis di Kecamatan Mukok dengan 3.330 suara.
Kegembiraan terpancar dari wajah para pendukung kandidat Cornelis-Cristiandy. Termasuk Krisantus Kurniawan, S. IP, tim sukses Cornelis untuk wilayah Sanggau yang sempat menyaksikan perhitungan akhir. Hari itu adalah hari yang sangat bersejarah terutama bagi kandidat yang menang.
Tak hanya para saksi yang tampak lega. Namun KPUD Sanggau juga merasakan hal yang sama. Setidak-tidaknya untuk tahap pertama tugas mereka sudah selesai. Tinggal menunggu penetapan dari KPUD Kalbar tanggal 27 November mendatang.
Dalam pleno kemarin, selain Ketua KPUD Sanggau Aloysius Sandang, BA, anggota KPUD lainya, Sisilia Sisil, SE, Kristianus, SH, Dedi Hambali dan H. Sunadi Ismail, Sm.Hk.
Sementara saksi dari empat cagub juga turut hadir Zainuri SH, saksi pasangan UJ-LHK, Bernadinus Dino, S.Sos saksi pasangan OSO-Lyong, Urbanus Didi saksi Akil-Mecer dan Lucas Subardi, SE saksi pasangan Cornelis-Cristiandy
Meski ada yang kalah dan menang. Suasana akrab tetap terpelihara jabatan tangan menandakan persahabatan terlihat di ruang pertemuan kantor Pengolahan Data dan Informasi yang digunakan sebagai tempat dilaksanakannya pleno rekapitulasi perhitungan suara selama tiga hari.
Memang dalam situasi tersebut, dibutuhkan kebesaran hati bagi para pendukung, baik yang menang maupun yang kalah.
Sudah semestinya yang menang merasa puas dan yang kalah harus menerima seluruh hasil yang telah ditetapkan dan ditandatangani bersama.
Partisipasi Pemilih Kecil
Tingkat partisipasi pemilih di Kabupaten Sanggau masih sangat kurang dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat yang dilaksanakan 15 November silam.
“Kalau saya hitung sekitar 16,8 persen masyarakat yang telah terdaftar dalam DPT tidak menggunakan hak suaranya, dan ini sangat disayangkan,” jelas saksi pasangan UJ-LHK, Zainuri, SH, usai Pleno KPUD Sanggau, Kamis (22/11) kemarin.
Menurut Zainuri, minimnya partisipasi pemilih disebabkan oleh banyak hal. Diantaranya data pemilih yang banyak terdapat kekeliruan. Ternasuklah orang yang sudah meninggal pun tetapi masih terdaftar dalam DPT.
“Ini adalah sebuah persoalan. Saya tidak mau menyalahkan kinerja KPUD. Tetapi lembaga-lembaga lainnya yang terlibat,” papar Zainuri.□
Kamis, 22 November 2007
Cornelis-Cristiandy Peroleh Suara Terbanyak
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
17.05
0
komentar
Cornelis Pimpin Perolehan Suara Sementara
KPUD Sanggau Masih Tunggu Hasil Tiga PPK
Herkulanus Agus
Borneo Tribune, Sanggau
Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sanggau pukul 15.15 WIB, Rabu (21/11) kembali menunda rekapitulasi perhitungan suara. Karena belum diterimanya berkas surat suara dari tiga Kecamatan, yaitu Kecamatan Tayan Hulu, Mukok dan Kapuas.
“Untuk Kecamatan Tayan Hulu rencananya sore ini diantarkan. Sementara Kecamatan Mukok sedang berbenah dan Kecamatan Kapuas masih belum siap,” ungkap Ketua KPUD Sanggau Aloysius L Sandang ketika memimpin rapat pleno.
Untuk itu, rencananya pleno akan dilanjutkan kembali pada hari ini (Kamis) pukul 09.WIB. Rapat pleno penghitungan suara yang mulai dilaksanakan Selasa (20/11) lalu sempat mengalami beberapa kali penundaan. Akibat belum siapnya berkas surat suara. Meski demikian KPUD Sanggau masih mempunyai waktu dua hari lagi hingga tanggal (23/11) mendatang untuk menetapkan masing-masing perolehan suara para calon gubernur.
Berdasarkan penghitungan suara hingga Rabu (21/11) kemarin, terlihat pasangan Cornelis-Cristiandy memimpin pada urutan teratas dengan jumlah suara sebanyak 118.623 suara atau mencapai 75.97 persen dari 12 PPK yang telah menyampaikan rekapitulasi perhitungan suara.
Sementara pasangan incumbent UJ-LH berada pada urutan kedua dengan jumlah suara sebanyak 22.715 suara atau 14.55 persen disusul oleh pasangan Akil-Mecer di urutan ketiga dengan perolehan suara sebanyak 8.255 suara atau 5,29 persen dan di urutan keempat pasangan OSO-Lyong dengan jumlah 6,560 suara atau 4,20 persen.
Dilihat dari tingginya perolehan suara tersebut, menurut sebagian masyarakat yang hadir dalam pleno pasangan yang dikenal dengan C2 ini sepertinya sulit untuk dikejar. Karena hanya sisa 3 PPK yang belum menyampaikan rekapitulasi perhitungan suara. Itu jika dilihat dari asumsi, kemenangan pasangan nomor urut 4 ini sangat telak dengan jumlah perolehan suara yang cukup signifikan.□
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
17.02
0
komentar
Selasa, 20 November 2007
KPU Sambas-Pontianak Rampungkan Pleno
AA Mering
Borneo Tribune, Pontianak
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Daerah Kabupaten Sambas dan Kabupaten Pontianak telah merampungkan pleno perhitungan suara pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar, Selasa (20/11) kemarin.
Sebelum diteruskan ke KPU Provinsi, rakapitulasi suara yang dilakukan petugas mulai dari TPS, PPK hingga KPU mesti dilakukan pleno perhitungan suara untuk masing-masing kandidat.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Susanto, SE selaku saksi dari PDIP, Pleno KPUD Sambas yang dilakukan kemarin, dari 219.836 pemilih pasangan UJ-LHK memperoleh 106.585 suara. Suara terbanyak kedua OSO-Lyong 46.480 suara. Cornelis-Cristiandy memproleh 34.447 suara dan Akil-Mecer 32.324. Suara tak sah 3.607. Berita Acara Pleno tersebut ditandatangani Ketua KPU Sambas, Umi Rifdiyawati, SH dan anggotanya serta ditandatangani juga 4 saksi dari masing-masing kandidat.
Sedangkan di Kabupaten Pontianak, pasangan UJ-Kadir tetap unggul dibandingkan ketiga pasang calon lainnya. Incumbent ini dapat meraup 153.481 suara. Tempat kedua pasangan Cornelis-Christiandy dengan 75.334 suara, disusul pasangan OSO-Lyong 67.375 suara dan terakhir pasangan Akil-Mecer dengan 25.979 suara. Jadi total suara pemilih Kabupaten Pontianak 322.169 suara. Sedangkan suara tidak sah berjumlah 6.036 buah.
Berita Acara Pleno KPU Kabupaten Pontianak ini ditandatangani ketuanya, Idris Maheru, ST dan keempat anggotanya berikut 4 orang saksi dari masing-masing kandidat. Dengan demikian sudah tiga daerah yang telah merampungkan pleno di tingkat kabupaten/kota, yakni Kota Pontianak, Kabupaten Sambas dan Kabupaten Pontianak. □
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
19.55
0
komentar
Senin, 19 November 2007
Cornelis Kunjungi Gusti Syamsumin
.jpg)
Oleh: Tanto Yakobus
Empat hari pasca pencoblosan pemilu Gubernur dan wakil Gubernur Kalbar periode 2008-2013, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Daerah Kalbar menjadi sorotan publik. Pekan-pekan ini, perhatian masyarakat semua tercurah ke KPU.
Sementara kandidat gubernur nomor urut 4, Drs. Cornelis, MH tampak lebih rilek. Walau perhatiannya juga tetap ke KPU yang berkantor di Jalan A Yani Pontianak itu.
Minggu (18/11) malam kemarin, Cornelis sekeluarga menyambangi gurunya ketika bersekolah di SMA Kapuas tahun 1971/1972 silam.
Sang guru itu adalah Gusti Syamsumin. “Beliau adalah orang yang paling saya hormati. Beliau guruku sekaligus bapakku,” ujar Cornelis kepada saya, di kediamannya sekitar pukul 21.30 tadi malam.
“Beliau senang saya kunjungi. Beliau sekeluarga mengucapkan selamat kepada saya, yang sementara ini unggul dalam perolehan suara. Beliau senang dengan itu,” ungkap Cornelis menceritakan pertemuan dengan gurunya itu.
Lebih lanjut Cornelis yang sudah menganggap Gusti Syamsumin sebagai ayahnya itu mengatakan, sebagai murid, sebagai anak, dia wajib menjaga tali silaturahmi dengan beliau yang juga tokoh politik di daerah ini.
“Selain cerita nostalgia waktu SMA (maklumlah saya ini termasuk anak yang nakal di sekolah) sehingga akrab dengan beliau selaku kepala sekolah, kami banyak bertukar pikiran tentang pembangunan di Kalbar ini,” ungkap Cornelis.
Menurut Cornelis, selain mengucapkan selamat kepada dirinya, Gusti Syamsumin juga memuji pelaksanaan pemilu gubernur Kalbar yang berlangsung aman dan damai. “Beliau minta kondisi aman ini tetap terjaga sampai seterusnya,” ujarnya.
Sikap ke-bapak-an Gusti Syamsumin layak diteladani. “Beliau benar-benar menjadi soko guru yang mengayomi semua orang. Beliau tidak pernah membedakan siapa dan dari mana asalnya. Dan itu juga yang menjadi pegangan saya selama dipercaya menjadi pemimpin,” ucapnya.
Beliau berpesan sebelum kembali ke Jakarta besok (hari ini, red) agar kita rakyat Kalbar, entah dari posisi mana pun, termasuk lawan-lawan politik bersama-sama menjaga kondisi yang baik ini. “Sebab ini menjadi contoh untuk pilkada di provinsi lain. Dan Kalbar harus bangga bisa melaksanakan pilkada yang relatif bersih,” ungkap Cornelis menyitir ucapan Gusti Syamsumin yang juga anggota DPR-RI daerah pemilihan Kalbar itu.
Sementara itu, terkait dengan proses tabulasi suara yang dilakukan KPU, Cornelis minta semua pihak menghormati dan memberi ruang KPU bekerja.
Jangan ada intervensi apalagi ada upaya “main” dengan KPU agar ada perubahan suara. Itu tidak boleh terjadi. “Sekarang bukan zamannya lagi masyarakat dikibuli. Masyarakat dengan gampang dan leluasa mengakses informasi, terutama terkait dengan hasil perolehan suara pemilu gubernur ini,” kata Cornelis yang maju berpasangan dengan Christiandy Sanjaya. □
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
22.35
0
komentar
Minggu, 18 November 2007
Cornelis-Christiandy Menang di Delapan Kabupaten
Muhlis Suhaeri/Antara
Borneo Tribune, Pontianak
Dia terlihat santai. Gerak tubuhnya spontan dan reflek. Mengikuti intuisi yang mengalir. Ada sikap natural. Caranya mengungkapkan kalimat, tegas dan berkarakter. Vibrasi dan intonasi suaranya terdengar berat. Khas. Itulah calon gubernur Kalbar periode 2008-2013, Cornelis.
Cornelis menyatakan berdasarkan penghitungan suara yang diperoleh dari beberapa sumber di lembaga pemerintah, ia dan pasangannya, Christiandy Sanjaya telah menang di delapan kabupaten/kota dalam pemilihan umum gubernur-wakil gubernur Kalbar periode 2008-2013.
Sementara hasil perolehan suara yang didata tim Kampanye Cornelis - Christiandy Sanjaya, perolehan suara mencapai 924.418 suara pemilih, sedangkan pasangan Usman Ja`far-LH Kadir 646.080 suara, Oesman Sapta Odang-Ignatius Lyong 332.279 suara, dam M Akil Mochtar-AR Mecer 200.983 suara.
"Kami sudah memperoleh dukungan suara mencapai 43,94 persen. Kami menang di delapan kabupaten/kota," kata Cornelis saat memberikan keterangan pers, Minggu (18/11).
Delapan daerah pemilihan yang dimaksudkannya itu yakni Kabupaten Bengkayang, Landak, Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi, Kapuas Hulu dan Kota Singkawang.
Sedangkan pasangan incumbent, UJ-LHK menang di tiga daerah pemilihan yakni Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Sambas. Satu daerah pemilihan lain, Kabupaten Ketapang, dikuasai oleh pasangan Oesman Sapta Odang-Ignatius Lyong (OSO-Lyong).
"Menurut kami data tersebut sudah final, karena dalam pengumpulan data tidak hanya menggunakan satu sumber melainkan dari banyak sumber resmi," kata Cornelis yang juga ketua Dewan Pimpinan Daerah PDI Perjuangan Kalbar periode 2005-2011.
Ia menyatakan, sumber yang diperolehnya dari berbagai sumber pemerintahan. Setelah dicek ulang dengan sumber yang dimiliki timnya, hasilnya hampir sama.
Padahal dari awal pemilihan, ia tidak memberikan target, berapa persen suara yang bakal diraih. Terserah rakyat yang memberikan suara, kata Cornelis.
Mengenai isu yang beredar bahwa massanya melakukan intimidasi terhadap kelompok tertentu, ia mempersilahkan orang untuk membuktikannya. “Sepanjang Anda bisa membuktikan, silakan saja,” kata Cornelis.
Kepada wartawan ia menyatakan, kunci sukses meraih kemenangan itu, karena semangat dari jargonnya, "Bersatu Kita Menang". Jargon itu ia peroleh dengan memahami ideologi negara, Pancasila, dan UUD 1945. Makna dari sila-sila yang ada, sila pertama dan ketiga, kemudian menggali nilai yang terkandung dalam UUD 1945, yakni kesejahteraan rakyat.
"Itulah yang memunculkan kalimat `Bersatu Kita Menang` sehingga bukan asal saja," katanya.
Ia juga menyatakan bahwa rakyat sudah tahu, siapa kandidat yang berkualitas dan profesional. Berbagai pengalaman sudah terbukti dan sudah dipersiapkan oleh pemerintah melalui berbagai pendidikan pemerintahan. Jadi, tidak karbitan, kata Cornelis.
Cornelis juga menyatakan, kemenangan Cornelis-Christiandy Sanjaya merupakan kemenangan partai (PDI Perjuangan) dan koalisi rakyat. “Itu bukan kerja pribadi. Rakyat yang kerja keras,” kata Cornelis.
"Kalau tidak ada dukungan partai dan rakyat, kami tidak akan mampu melawan incumbent," katanya, juga menyebut, kemenangan itu karena peran Tuhan yang sangat besar. "Kemenangan ini adalah mukjizat," katanya.
Ia kemudian berpesan kepada mendukung dan simpatisannya agar tetap menjaga keamanan dan tidak mudah terprovokasi isu yang menyesatkan. Cornelis mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan berbagai informasi yang dikeluarkan berbagai pihak, mengenai perolehan suara sementara.
Ia mengemukakan, KPU juga menggunakan rasionalitas yang tinggi dan sudah bekerja untuk ini. Kalaupun KPU belum memberikan informasi dengan cepat mengenai perolehan suara, hal itu patut dipertanyakan, karena zaman sudah global. Sehingga arus informasi bisa dilakukan dan diperoleh dengan cepat.
Pengalaman ia menangani 9 kali pemilihan umum, dan dua kali pemilihan kepala daerah membuat Cornelis mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi selama pelaksanaan pemilihan umum tersebut.
Sementara keputusan untuk berpasangan dengan Christiandy Sanjaya yang beretnis Tionghoa, sehingga sangat berbeda dengan tiga pasangan calon gubernur lainnya, Cornelis menyatakan hal itu bukan menjadi landasannya.
Christiandy Sanjaya adalah seorang pendidik dan menguasai masalah ekonomi. Sedangkan saya menguasai urusan pemerintahan dan politik. "Dalam pemilihan, bukan hati nurani. Tetapi berdasarkan tingkat rasionalitas yang tinggi," katanya.
Ketika ditanya tentang kemungkinan merangkul kandidat lain dalam pemerintahannya kelak, ia menyatakan keterbukaan. Yang pasti, syaratnya harus bisa bekerja sama.
Mengenai kekhawatiran sebagian orang dengan naiknya Cornelis menjadi gubernur kelak, ia menegaskan, “Saya menjadi gubernur bukan untuk mengusir saudara saya orang Melayu atau orang Islam. Jadi, jangan berpikiran negatif.”
Cornelis menyatakan, orang tidak perlu khawatir dengan dirinya. Dia juga tidak anti dengan para pendatang. Asalkan mereka tidak datang untuk menjajah, katanya.
Bagaimanapun, ia telah berkiprah di pemerintahan selama 30 tahun. Mulai dari pegawai biasa, camat, hingga jadi bupati dua periode. Semua sudah ada peraturannya. Dan ia akan berpegang teguh pada peraturan yang ada.
Pemilihan umum gubernur - wakil gubernur Kalbar 2008-2013 yang berlangsung 15 November lalu, diikuti oleh empat pasangan calon, terdiri dari nomor urut satu (incumbent) Usman Ja`far - Laurentius Herman Kadir, dua Oesman Sapta Odang - Ignatius Lyong, tiga M Akil Mochtar - AR Mecer, empat Cornelis - Christiandy Sanjaya.□
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
20.16
0
komentar
Label: Pilkada
KPU Diharapkan Cepat Umumkan Hasil
Hanoto/B16
Borneo tribune, Pontianak
Timbulnya pemberitaan oleh berbagai tim media pasangan calon Gubernur dianggap dapat membingungkan masyarakat khususnya daerah pedalaman. Apalagi berbagai hasil tersebut timbul dengan saling klaim bahwa pasangannya yang unggul sementara.
Untuk itulah KPU selaku penyelenggara pesta demokrasi diharapkan dapat mempercepat pengumuman hasil pemilihan.
“Selain hasil cepat dapat memberikan kelegaan warga yang sudah menunggu, tentulah hal tersebut juga akan memberi ketenangan akan daerah Kalbar sendiri siapa pun yang keluar menjadi pemenang nantinya,” ujar Prof AB Tangdililing selaku tim pakar Aliansi Cornelis-Christiandy (ACC).
Namun sejauh ini tim ACC mengakui bahwa hasil sementara yang dikeluarkan KPU akurat. Hasil tersebut juga tak jauh berbeda dengan yang tim ACC peroleh.
Mengenai pemilu yang dilaksanakan pada 15 November kemarin Dekan Fisipol ini mengatakan telah berjalan dengan sah dan baik.
Berdasarkan hasil perhitungan yang masuk tim ACC, bahwa jumlah pemilih untuk seluruh wilayah Kalbar terhitung besar, berkisar pada angka 75 %. Ini merupakan hasil yang sangat baik, jika dibandingkan dengan Amerika saja 60%.
Bahkan dalam pemilu kemarin, masyarakat di pedalaman dianggap lebih sadar akan pesta demokrasi ini. Data yang diperoleh tim ACC menyebutkan angka di bawah 20% yang golput, sedangkan di daerah perkotaan justru terbilang besar dengan angka di atas 35%.
Dari hasil tersebut menyatakan bahwa masyarakat pedalamanlah yang lebih sadar akan hak pilihnya. Jadi untuk itu pemerintah jangan diam saja, karena dengan adanya pemberitaan yang simpang siur masyarakat pedalaman dapat berpikir macam-macam.
“Berdasarkan hasil tersebut dan dalam menyikapi adanya isu yang berkembang bahwa pemilu dapat diulang, hal tersebut dianggap merupakan hal yang lucu,” tambah tim pakar ACC lainnya, Prof Ir Alamsyah, HB yang mendampingi Tangdililing.
Pesta demokrasi telah berjalan dengan baik, jadi dengan hasil tersebut bahwa siapapun yang keluar sebagai pemenang, yang kalah harus siap berlapang dada, jangan melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyesatkan masyarakat khususnya daerah pedalaman.
Siapapun yang menang nantinya, Alamsyah mengatakan bahwa hal tersebut harus didukung oleh semua lapisan, karena semuanya sama saling bertujuan untuk membangun Kalbar menuju daerah yang lebih baik.
Seperti yang telah dilakukan oleh salah satu pasangan yang telah mengakui keunggulan para saingannya dengan lapang dada. Hal tersebutlah yang patut dicontoh, jangan malah mempolitisir hasil sementara, masyarakat akan bingung.
Namun dengan hasil yang telah dikeluarkan oleh tim ACC maupun KPU, dari hasil sementara tersebut, Tangdililing mengatakan bahwa pasangan Cornelis-Christiandy-lah yang sudah dapat dipastikan menang dalam pemilu ini. Jadi untuk itu aparat diharapkan dapat menjaga keamanan daerah Kalbar dengan baik mulai proses pemilihan yang lalu hingga pelantikan Gubernur nanti.
Sejukkan Suasana
Tim Pakar ACC menyampaikan beberapa poin penting yang pada prinsipnya menetralisir keadaan yang berkembang di masyarakat dan tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari.
Tangdililing yang juga Dekan Fisip Untan mengungkapkan dapat kiranya melihat secara objektif tentang berlangsungnya Pilkada Kalbar dengan proses yang sedang berjalan ini agar dapat dijalankan sesuai dengan UU. Ia juga menambahkan mengenai isu-isu yang muncul di kalangan masyarkat belakangan ini, hendaknya masyarakat dapat tenang dan bisa menilainya sehingga tercipta kondisi yang kondusif dan tak terpancing dengan pihak-pihak lain.
Tangdililing juga menambahkan mengenai adanya isu untuk melakukan pemilihan ulang secara tegas ia menolak itu, beliau beralasan pemilihan ulang melanggar Undang-Undang dan PP No.17, tapi tidak menutup kemungkinan pemilihan bisa diulang jika kondisi dalam keadaan luar biasa, dan di Kalimantan Barat ini kondisi tenang-tenang saja jadi tak mungkin pemilihan ulang dilaksanakan.
Sementara itu Prof.Ir.M.Alamsyah,HB mengatakan masyarakat pedalaman sekarang ini bingung dengan pemberitaan yang berkembang di media-media yang ada. Beliau juga mengungkapkan sekarang ini masyarakat kita sudah paham benar dengan demokrasi, ini terlihat dari antusiasme masyarakat dalam memilih.
Prof.Ir.M.Alamsyah,HB yang juga mantan Dekan Fakultas Pertanian Untan juga memohon kepada team kampaye pasangan lain untuk dapat kiranya bekerja secara proporsional dan objektif.
“Proses pemilihan di Kalimantan Barat ini sudah mencapai 70% itu tandanya sudah bagus,” tutur beliau menjelaskan.
Berdasar data yang dikeluarkan tim pakar ACC terungkap sebanyak 815.802 tidak mengunakan hak pilihnya dan yang terbanyak justru terjadi di Kota Pontianak sekitar 181.717 pemilih atau 34,52% dari jumlah pemilih Pontianak. “Masyarakat yang golput merupakan hak mereka jadi tak bisa dipaksakan dalam memilih.”
Di akhir permbicaraan baik Prof.Dr.A.B Tandililing,MA maupun Prof.Ir.M.Alamsyah HB menambahkan supaya isu golput janganlah dibesar-besarkan karena akan berekses buruk pada masyarakat nantinya. Mereka juga mengimbau kepada masyarakat Kalbar untuk bersama-sama menjaga dan menciptakan suasana yang kondusif. □
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
20.06
0
komentar
“Selamat Datang Gubernur Baru”

Tanto Yakobus
Borneo Tribune, Pontianak
Gawe besar pemilihan umum gubernur Kalimantan Barat periode 2008-2013 hampir memasuki babak akhir. Gambaran umum siapa yang bakal terpilih sebagai pemimpin Kalbar lima tahun kedepan sudah bisa ditebak, walau secara kelembagaan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) daerah Kalbar belum memberikan pengumuman resmi.
Tiga hari pasca pemilihan berlangsung, kandidat yang memperolah dukungan suara mayoritas pemilih semakin tampak.
Bahkan beberapa media baik cetak maupun elektronik sudah pula mempublikasikan perolehan suara dengan sumber yang beragam pula.
Radio Republik Indonesia (RRI) misalnya, mereka menghimpun data suara dari laporan reporternya di lapangan maupun langsung dari masyarakat memanfaatkan line telepon.
Begitu juga dengan Polda Kalbar. Sebagai penanggungjawab keamanan di daerah ini, pihak kepolisian juga membuka tabulasi data hasil pemilu gubernur yang dihelat 15 November 2007 dua hari kemarin.
Bahkan tabulasi data yang dilakukan Polda Kalbar lebih cepat, karena mereka menggunakan jasa personil mereka yang ditugaskan mengamankan TPS-TPS. “Satu TPS, satu personil,” ungkap Kabid Humas Polda Kalbar, AKBP Suhadi SW.
Dari personil yang ditempatkan langsung pada setiap TPS itulah yang menjadi sumber tabulasi data Polda. Mereka dilapangan wajib memberikan laporan perolehan suara masing-masing kandidat.
Dari laporan langsung via hand phone atau SMS itulah maka pihak Polda Kalbar cepat mengetahui hasil perolehan suara pada masing-masing kandidat di seluruh kabupaten/ kota se-Kalbar.
Karena cepatnya tabulasi data yang dihimpun Polda Kalbar, maka media pun ramai-ramai mengutifnya.
Demikian juga dengan tim sukses masing-masing kandidat. Mereka juga membuat laporan perolehan suara yang juga langsung dari TPS lewat saksi-saksi mereka. Belum lagi pemantau independen maupun lembaga-lembaga tertentu seperti pers misalnya, semua menyediakan layanan perhitungan cepat (quick count).
Dari berbagai sumber tabulasi perolehan suara tersebut, pasangan nomor urut 4: Drs. Cornelis, MH-Drs. Christiandy Sanjaya, SE, MM memimpin perolehan suara dengan jarak yang cukup signifikan.
Posisi kedua ditempati oleh incumbent, pasangan nomor urut 1: Usman Ja’far-Drs. LH Kadir lalu disusul pasangan nomor urut 2: Oeman Sapta-Drs. Ign Lyong, MM. Dan pasangan nomor urut 3: HM Akil Mochtar, SH, MH-Drs. AR Mecer menempati posisi juru kunci.
Sumber data dari RRI yang selama dua hari ini dilansir Borneo Tribune, perolehan suara sementara masih menempatkan pasangan Cornelis sebagai “pemenang” tujuh kabupaten yakni Landak, Bengkayang, Sanggau, Sekadau, Melawi, Sintang, Kapuas Hulu dan Kota Singkawang. Sementara pasangan UJ unggul di Kabupaten Sambas, Kota Pontianak dan Kabupaten Pontianak. Kabupaten Ketapang yang masih digabung dengan Kabupaten Kayong Utara milik Oesman Sapta.
Terhadap hasil sementara tiga hari ini, tim kampanye Cornelis-Christiandy yakin pasangan yang diusung PDI Perjuangan ini sebagai pemenangnya.
Bertempat di Sekretariat DPD PDI Perjuangan Jalan Ahmad Yani, Tim Kampanye Cornelis-Christiandy, Drs. Sebastianus Massardy Kaphat yang didampingi Ir. Miki Jeno dan Martinus Sudarno, SH mengklaim mereka sebagai pemenangnya.
“Sampai saat ini Cornelis-Christiandy telah unggul 43,26 persen dari 2.930.245 pemilih dengan suara sah 2.024.691 seluruh kabupaten/ kota se-Kalbar,” ungkap Kaphat.
Kaphat menjelaskan prosedur perhitungan suara yang dilaksanakan tim kampanye sesuai dengan surat legitimasi dari setiap tim yang ada di TPS.
“Karena pola perhitungan kita sama dengan yang tilakukan tim lain yang bertugas di tiap-tiap TPS, kita juga mempertanyakan hasil rekapitulasi data yang dilakukan KPUD Provinsi sangat lambat dan dikhawatirkan berpotensi menimbulkan berbagai interprestasi masyarakat,” tambah Miki Jeno.
“Sebagai Tim Kampanye Cornelis-Christiandy, kita menghimbau KPUD Provinsi untuk bekerja lebih professional, cepat dan akurat dalam menyajikan data suara yang masuk. Bagaimana pun masyarakat sudah mengetahuinya baik melalui media maupun dari partai pengusung dan sukses masing-masing kandidat,” kata Kaphat lagi.
Berdasarkan perhitungan sementara pilgub dan wagub Kalbar 2007 yang dilaporkan RRI Kalbar hingga pukul 23.00 WIB, Jumat (17/11), perolehan suara Cornelis-Christiandy melejit dengan 733.847 suara, UJ-Kadir 575.035 suara, OSO-Lyong 334.948 suara dan Akil-Mecer 148.157 suara.
Untuk Kota Pontianak, UJ-Kadir unggul dengan 120.109 suara, disusul OSO-Lyong dengan 54.376 suara, Cornelis-Christiandy 51.199 suara dan Akil-Mecer 18.593 suara.
Pasangan Cornelis-Christiandy mendulang suara di Kota Singkawang dengan 33.460 suara, UJ-Kadir 16.381 suara, OSO-Lyong 12.269 suara, Akil-Mecer 9.699 suara.
Kabupaten Pontianak, UJ-Kadir unggul dengan 120.385 suara, OSO-Lyong 72.177 suara, Cornelis-Christiandy 61.838 suara, Akil-Mecer 2.695 suara.
Kabupaten Bengkayang, Cornelis-Christiandy unggul dengan 65.439 suara, UJ-Kadir 20.341 suara, OSO-Lyong 9.287 suara dan Akil-Mecer 5.123 suara.
Kabupaten Sambas, UJ-Kadir memimpin dengan 99.737 suara, disusul OSO-Lyong 37.379 suara, Cornelis-Christiandy 30.180 suara dan Akil-Mecer 27.602 suara.
Kabupaten Landak, Cornelis-Christiandy unggul jauh dengan 154.812 suara, OSO-Lyong 9.284 suara, UJ-Kadir 8.632 suara dan Akil-Mecer 6.941 suara.
Kabupaten Sanggau, masih milik Cornelis-Christiandy dengan 129 suara, UJ-Kadir 35.085 suara, Akil-Mecer 11.982 suara dan OSO-Lyong 9.400 suara.
Di tanah kelahiran UJ Kabupaten Sekadau, juga milik Cornelis-Christiandy dengan 37.616 suara, UJ-Kadir 29.361 suara, Akil-Mecer 8.696 suara dan OSO-Lyong 2.967 suara.
Kabupaten Sintang, Cornelis-Christiandy memimpin dengan 36.671 suara, OSO-Lyong 24.567 suara, UJ-Kadir 21.167 suara, dan Akil-Mecer 7.434 suara.
Kabupaten Melawi, Cornelis-Christiandy unggul dengan 39.211 suara, UJ-Kadir 36.842 suara, Akil-Mecer 8.750 suara dan OSO-Lyong 2.941 suara.
Kabupaten Kapuas Hulu masih milik Cornelis-Christiandy dengan 45.233 suara, disusul UJ-Kadir dengan 39.237 suara dan tempat ketiga Akil-Mecer dengan 26.221 suara dan OSO-Lyong 5.997 suara.
Kabupaten Ketapang yang merupakan daerah kelahiran kandidat gubernur nomor urut 2, OSO-Lyong unggul dengan 94.305 suara, disusul Cornelis-Christiandy dengan 48.564 suara, UJ-Kadir 27.759 suara dan Akil-Mecer 14.421 suara. Jadi total suara yang masuk berdasarkan perhitungan cepat RRI Pontianak berjumlah 1.791.988 suara dari 2.930.245 pemilih Kalbar sebagaimana yang diumumkan KPU Provinsi Kalbar.
Jadi dari gambaran perolehan suara masing-masing kandidat, sudah ada gambaran siapa figur atau kandidat yang kana memimpin Kalbar lima tahun kedepan.
Pemilu gubernur yang berlangsung 15 November kemarin adalah suatu proses demokrasi untuk menentukan gubernur Kalbar periode 2008-2013.
Dimana, pemilu gubernur tersebut diikuti empat kontestan yakni pasangan Usman Ja’far-LH Kadir, Oesman Sapta-Ign Lyong, HM Akil Mochtar-AR Mecer dan Cornelis-Christiandy Sanjaya.
Setelah melalukan pentahapan pemilu yang sangat melelahkan, seperti proses pencalonan, penetapan balon menjadi calon, kampanye hingga pencoblosan suara yang dilakukan secara langsung oleh masyarakat Kalbar.
“Ini merupakan awal yang baik, mulai dari kampanye hingga proses pencoblosan dapat berlangsung dengan aman dan kondusif. Ketakutan-ketakutan orang selama ini ternyata tidak terbukti,” ungkap Kaphat salah seorang Tim Kampanye Cornelis-Christiandy, kemarin.
Kaphat berharap proses yang sudah baik ini, jangan lagi dikotori dengan permainan curang baik di tingkap PPK maupun KPUD. “Jangan sampai di tingkat akat rumput yang sudah berjalan dengan baik ini kacau di tingkat elit yang justru tidak berjiwa besar,” kata tokoh yang sudah kenyang makan asam garam politik ini.
Karena itu kata Kaphat, Tim Kampanye Cornelis-Christiandy menghimbau KPU Provinsi agar profesional dan cepat mengumumkan perolehan suara, untuk memberikan kejelasan tentang hasil pemilu gubernur ini kepada masyarakat luas.
“Ya kita ucapkan selamat datanglah kepada gubernur baru,” ujar Kaphat.
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
01.44
0
komentar
Pemilih Emosional Terbukti Menangkan Pilkada
*Kantung Gemuk Pecah Suara
Nur Iskandar
Borneo Tribune, Pontianak
Empat paket calon gubernur masing-masing UJ-LHK, OSO-Lyong, Akil-Mecer dan Cornelis-Christiandy telah melewati serangkaian proses panjang sehingga mematut diri layak menjadi Gubernur Kalbar 2008-2013. Dari sisi hukum dan UU, serta hak warga negara memang laik dan layak.
Keempat paket di atas telah melewati proses meniti karir emas di bidangnya masing-masing. Keempat calon lahir dan dibesarkan di Kalbar sehingga mengenal Kalbar dan terkenal di Kalbar.
UJ lahir di Sekadau. LHK Kapuas Hulu. OSO Ketapang dan Lyong Kapuas Hulu.
Akil lahir di Kapuas Hulu dan pasangannya AR Mecer Ketapang, sedangkan Cornelis di Sanggau dan pasangannya Christiandy, Singkawang.
Dilihat dari aspek kelahiran masing-masing kandidat punya kantong massa masing-masing. Tetapi untuk Kapuas Hulu dan Ketapang masih harus terbagi-bagi. Namun demikian pembagiannya diyakini tidak 50:50 apalagi daerah kantong suara juga ada yang gemuk dan ada yang kurus—bisa satu lebih besar dari yang lain. Begitupula terhadap Sekadau, Sanggau dan Singkawang, tergantung sebesar apa “magnet” ketokohan sang calon gubernur atau wakil gubernur.
Dilihat dari aspek kemampuan dalam memimpin, kesemua calon sudah membuktikannya piawai, hanya skopnya saja ada yang kecil, sedang dan besar. OSO pernah menjadi Wakil Ketua MPR RI. Akil Wakil Ketua Komisi III DPR RI. UJ CEO A Latief Corporation dan incumbent Gubernur Kalbar. Cornelis Bupati Landak dan Ketua DPD PDIP Kalbar.
Dilihat dari pendamping—dalam hal ini Cawagub—LHK incumbent Wagub dan pernah menjabat sejumlah posisi penting di pemerintahan, seperti Biro Pembangunan Pedesaan; begitupula Ignatius Lyong yang terakhir menjabat Asisten 1 Sekda Pemprov Kalbar.
AR Mecer adalah dosen matematika di FKIP Untan sekaligus pencetus lembaga ekonomi kerakyatan bernama Credit Union yang amat kesohor hingga mancanegara. Sementara Christiandy Sanjaya adalah guru, Kepala Sekolah dan Yayasan YPK Imanuel. Ia juga pernah menjadi anggota DPRD Kota dari Partai Bhinneka Tunggal Ika.
Sejak awal memilih pasangan semua kriteria pasti telah dihitung plus-minusnya. Partai sebagai “perahu” yang akan membawa kandidat juga pasti sudah memberikan pertimbangan-pertimbangan rasional. Konsideran ekonomi, sosial, politik hingga budaya sudah dikalkulasi bersih.
UJ-LHK menyebut diri sebagai pasangan harmonis. Di masa kepemimpinan dua tokoh ini memang selalu seiring. Maka prestasi demi prestasi dapat diraih jika dibandingkan sejumlah kepala daerah dan wakil yang disharmoni. Bahkan di Ketapang Morkes sudah “cerai” dengan Madjun karena tidak cocok paham, lantas masing-masing “berlomba” merebut simpati warga kendati akhirnya incumbent Morkes terpilih kembali.
Di Sambas juga demikian. Terjadi “disharmoni” antara Burhanuddin dan Prabasa. Pada gilirannya di dalam Pilkada langsung Burhanuddin menang mayoritas.
Tanpa perlu mengupas sejumlah kepala daerah di kabupaten-kota, kita melihat harmonisasi itu penting. Jika harmonisasi tak terjadi, maka rakyat jadi korban. Ibarat dua nahkoda yang berebut jentera. Perjalanannya bisa menabrak karang dan penumpang bisa celaka.
Dengan landasan itu pula OSO memilih Lyong. Ia yakin TOSS (simbol kemenangan dengan pertemuan dua buah gelas berisi minuman kegembiraan). TOSS juga berarti Tim Oesman Sapta Sukses.
Akil Mochtar memilih Mecer. Ia yakin inilah pasangan terbaik. “Tak perlu banyak bicara, tapi banyak bekerja,” ungkapnya di mana-mana.
Cornelis memilih Christiandy. Lepas dari tokoh politik dan kependidikannya, Christiandy beretnis China/Tionghoa dan Protestan sehingga yakin dengan jargon, “Bersatu Kita Menang”.
Dan saya berpendapat bahwa kemenangan dalam pilkada gubernur ini amat sangat ditentukan oleh pasangannya masing-masing. Sejauh mana pasangan bisa memainkan peran mengisi kekosongan dari sang Calon Gubernur yang sudah rerata menjadi pemimpin di bidangnya masing-masing.
Adalah menarik di sini mematut Cagub-Cawagub berdasarkan etnisitas dan agamanya. Kendati paham etnis maupun agama lebur dalam simbol NKRI Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu jua, yakni Indonesia. Namun pemilih kita di Kalbar masih besar tergolong pemilih emosional ketimbang rasional.
Nilai-nilai etnis dan agama belum tentu dinalar sebagai nilai-nilai universal yang mengerucut pada toleransi, kasih sayang, bertindak jujur dan adil. Melainkan sekedar sama, langsung coblos tanpa wira-wiri lagi.
Eriyanto salah seorang pakar riset publik yang kerap meneliti peluang kemenangan calon kepala daerah di Indonesia mengatakan kemenangan dominan diraih oleh mereka yang sensitif dengan pemilih emosional ini. SBY salah satu contohnya. Ia terpilih karena sebagian besar warga bersimpati kepadanya lantaran “teraniaya” di Kabinet Megawati. Ia juga dinilai “ganteng” oleh sebagian pemilih ibu-ibu. Tutur katanya yang cantik memikat hati para intelek.
UJ memilih LHK karena sentuhan emosionalnya harmonis. Konsideran Melayu-Dayak sudah masuk dalam hitungannya. Konsideran Islam-Katolik sudah direken. Termasuk capaian visi-misi harmonis dalam etnis masih laku dijual dalam kampanye. Tentu logis menunjukkan keberhasilan karena dalam 5 tahun kepemimpinannya Kalbar aman, sementara provinsi lain yang masih bergolak amat pahit untuk suksesnya pembangunan seperti Poso dan Ambon, serta Papua. UJ-LHK juga dengan bangga mengampanyekan 12 prestasi nasional yang dicapai semasa kepemimpinannya sehingga sesumbar mengatakan, “Kami tidak mengumbar janji-janji tapi sudah terbukti. Oleh karena itu tinggal melanjutkan agenda besar bisa dicapai ketimbang calon baru dengan konsep baru. Pasti butuh penyesuaian lagi.”
OSO memilih Lyong juga dengan pertimbangan emosional etnisitas, religiusitas, selain intelektualitas. OSO dengan segala nama besarnya, hotel besarnya, bahkan juga “terkaya” dengan dana yang diumumkan KPK sebesar Rp 186 miliar menjamin akan memberantas korupsi. Ia menjual emosi kemarahan rakyat karena korupsi makin menjadi-jadi sembari menawari pendidikan dan kesehatan gratis.
OSO amat yakin menang seiring dengan banjirnya massa selama masa kampanyenya. Termasuk trend yang ditunjukkan sejumlah lembaga survey. Trend OSO-Lyong naik.
Akil juga sadar akan peran “emosi” dalam meraih kemenangan. Untuk itu ia menunjukkan keseriusannya dengan menggalang kekuatan sejak dini. Ia paling dini dan getol berkunjung ke desa-desa. Tak kurang dari 1300 desa dikunjunginya untuk tiga tahun terakhir. Ia membantu dan menarik simpati rakyat kecil di seantero Kalbar.
Akil memilih AR Mecer juga dengan pertimbangan yang amat matang. AR Mecer adalah “Bapak CU”. Asset yang terkumpul sudah ratusan miliar. Jumlah anggota Credit Union ratusan ribu KK.
AR Mecer juga dapat penghargaan di Swedia laiknya peraih nobel. Di kalangan masyarakat Dayak AR Mecer adalah bapak pembangunan. Dialah aktor intelektual yang banyak bekerja daripada umbar kata-kata.
Cornelis memilih Christiandy dengan pendekatan profesional dan pendidikan. Keduanya bergelar master.
Dalam perhitungan Cornelis yang dapat rekomendasi Dewan Adat Dayak untuk menjadi Gubernur pilihan masyarakat Dayak, dengan bergabung dengan konstituen China/Tionghoa maka kemenangannya meraih suara terbanyak sudah di depan mata.
Hitungan matematika dari perahu PDIP ini adalah Dayak plus China/Tionghoa sama dengan bersatu kita menang. Data survey LSI yang dilansir secara berkala menunjukkan trend etnik dan agama solid buat pasangan ini.
Jadi, faktor emosional yang manakah yang akan berhasil keluar sebagai pemikat hati 2.9 juta rakyat pemilih? Cornelis memang paling sensitif dan peka membaca situasi. Ia yakin dengan menjadi nomor satu dia bisa membangkitkan emosi kepemimpinan Gubernur beretnis Dayak pada 41 tahun silam: JC Oevaang Oeray.
“Kini saatnya untuk Dayak tampil sebagai nomor satu. Untuk jadi nomor dua sudah pasti. Dan kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi. Saat sekarang adalah kondisi yang paling baik.” Demikian jurkam “jualan” dalam arena kampanye.
Berdasarkan kenyataan memang terjadi konsolidasi dan soliditas suara Dayak. Terlebih dengan sudut pandang ini, totalitas suara kandidat yang muslim sebagai Cagub (muslim identik dengan melayu, pen) menjadi pecah tiga. Maka dengan rumus kemenangan 25+1, Cornelis paling berpeluang menjadi Gubernur Kalbar 2008-2013.
Tetapi matematika kemenangan tidak semudah hal itu, masih banyak faktor yang menjadi variabel penentunya karena hingga kini dari 2,9 juta pemilih sebagian besar adalah floating mass, atau massa mengambang. Terlebih massa pemilih resmi di kantong-kantong suara yang dikuasai Cornelis (Landak, Bengkayang, Sanggau, Sintang, Melawi) bukanlah kantong suara gemuk. Yang paling gemuk adalah Kubu Raya, Sambas, Kota Pontianak dan Kabupaten Pontianak. Mereka inilah yang “under limit” akan menentukan kemenangan pasangan Cagub-Cawagub. Jika suara di kantung-kantung gemuk dikuasai UJ, maka incumbent akan tetap terpilih. Begitupula jika seluruhnya ke OSO atau IM3.
Pada akhirnya, dari berbagai sudut pandang, mulai dari fisik jasmaniah hingga mental ruhaniah maupun manuver politik, upaya menuju KB1 sudah punya kekuatannya masing-masing, tergantung retak tangan keberuntungannya masing-masing pula. Tergantung pula kepada siapa akhirnya Tuhan menggerakkan hati setiap pemilik suara untuk mencoblos nomor berapa.
Jika diibaratkan dengan final bola piala dunia, tim-tim yang berlaga antara 1, 2, 3, 4 sama-sama punya nama tenar. Masing-masing punya reputasi dan kans untuk keluar sebagai pemenang utama.
Namun bola itu bundar. Dalam waktu injuiry time pun masih bisa tercipta peluang sehingga yang under-dog pun bisa menciptakan gol sehingga tampil sebagai jawara.
Kantung Gemuk Pecah Suara
Pertanyaan paling mendasar masyarakat hari ini selain keamanan, juga adalah siapa dari kandidat yang bakal keluar sebagai pemenang. Prediksi-prediksi selama ini sudah banyak beredar. “Namun soliditas 100% nyaris tak akan terwujud melainkan semua membentuk irisan-irisan persinggungan. Dengan demikian sesungguhnya semua kelompok akan pecah,” ungkap pakar sosiologi asal Universitas Indonesia yang menyelesaikan program doktoralnya di Den Haag-Belanda soal konflik di Kalbar, M Iqbal Jayadi saat hadir berdiskusi di Harian Borneo Tribune.
Berdasarkan pendapatnya itu prediksi kemenangan dapat ditelusuri dari 2.930.245 pemilih tetap bakal mengarah kepada siapa. “Siapa dari empat pasangan kandidat yang berhasil menguasai kantung-kantung suara yang “gemuk” maka dia akan dapat diterka bakal memenangkan Pilkada yang menerapkan rumus kemenangan 25% plus 1,” timpal Sujadi, anggota KPU Kota ketika diskusi soal prediksi siapa yang bakal keluar sebagai pemenang dalam Pilgub Kalbar hari ini, Kamis (15/11).
Sebaran suara dengan urutan dari gemuk ke kurus adalah Kabupaten Pontianak, Kota Pontianak, Sambas, Ketapang, Sanggau, Sintang, Landak, Kapuas Hulu, Bengkayang, Singkawang, Sekadau dan Melawi.
Keempat kandidat masing-masing Usman Ja’far-Laurentius Herman Kadir, Oesman Sapta-Ignatius Lyong, Akil Mochtar-AR Mecer dan Cornelis-Christiandy tentu saja sudah memperhitungkan “merebut” simpati suara di kantung-kantung gemuk tersebut. Oleh karena itu sasaran kampanye paling besar disasarkan kepada kantung-kantung suara gemuk tersebut dengan berbagai pendekatan.
Pada umumnya kantung-kantung gemuk ini terdiri dari orang-orang yang terdidik dan terpelajar sehingga mudah menangkap apa yang dikampanyekan, bagaimana gerak dan aktivitas serta track-record dari masing-masing pasang calon.
Dari sisi suara memang banyak, tapi ke mana mereka menentukan pilihan juga tidak mudah ditebak akan menuju kepada siapa. Masing-masing kandidat punya plus-minusnya.
Oleh karena itu menarik membandingkan pemilih di kantung gemuk dengan kurus. “Yang kurus-kurus bersatu juga bisa jadi gemuk sehingga potensi kemenangan tinggal ditambah sedikit saja dari kantung-kantung gemuk,” timpal Sujadi. Dengan demikian yang paling masuk akal adalah kandidat yang menguasai dominan daerah gemuk kemudian ditambah sedikit dari kantung-kantung suara daerah kurus.
Kantung-kantung gemuk relatif berada di pesisir. Jika ditotalkan antara Kabupaten Pontianak, Kota Pontianak, Sambas dan Ketapang sudah berjumlah 1.550.614. Ini melebihi 50% suara total pemilih. “Logikanya, siapa kandidat yang menguasai kantung gemuk tersebut maka dia akan keluar sebagai pemenang,” timpal Sujadi.
Tapi di kantung-kantung gemuk ada tiga pasangan yang “berebut” massa. Di sinilah dinilai potensi suara akan “pecah” sehingga berbagi 1/3. Atau sekitar 500-an ribu suara. Entahlah jika ternyata pecahnya ada yang berat sebelah, atau tidak merata.
Kantung-kantung kurus juga tidak bisa dianggap remeh. Jika soliditasnya utuh, bisa mengungguli perolehan suara dari kantung daerah gemuk. “Kalau kantung daerah gemuk kalah, ya mestinya evaluasi di Pilkada yang akan datang,” komentar pengamat sosial, Marzuki Pasaribu. Sosok yang satu ini lebih mengajak masyarakat memilih secara rasional daripada emosional. “Membangun Kalbar mesti bersama-sama. Mestinya para kandidat juga berpikir begitu terlepas dari siapa pun yang menang,” ungkapnya.
Kata Marzuki yang menang mesti didukung. Yang kalah juga diberdayakan untuk bersama-sama membangun Kalbar. “Inilah pesta demokrasi,” ujarnya.
Dari berbagai analisa, mulai dari kantong suara parpol, aktivasi etnis, dukungan organisasi agama, pemilih rasional dan emosional hingga kantung-kantung gemuk-kurus tak lebih daripada analisa-analisa belaka. Tetap saja bukti konkretnya ditentukan oleh para pemilik suara hari ini. Itu pun jika tidak banyak yang golput.
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
01.40
0
komentar

Sep 2012
