
RUMAH Betang yang terletak di Jalan Sutoyo berhias diri sebagai tempat turunnya mempelai pria. Betang digunakan sebagai perwakilan kediaman mempelai pria yang berada di seberang pulau (Jawa).
Unsur-unsur adat Dayak kental di dalamnya. Di perkarangan yang bersih tampak bambu yang dirajut seperti rambut (Pabayo). Ia merupakan perhiasan yang selalu digunakan setiap kali ada upacara adat. Itulah yang disebut dengan pabayo.
Umbul-umbul atau pabanji juga memenuhi halaman. Pabanji ini, pada zaman dulunya dibuat dari daun pisang muda, tetapi yang sudah terbuka.
Atribut adat yang digunakan juga tampak amas-amas atau biasa disebut janur. Pada zaman dulu dan sekarang amas-amas terbuat dari daun enau.
Tiang Kenyalang atau tanda juga tampak kokoh. Ia menunjukkan suatu kebanggaan. Zaman dulu, tiang ini dikhususkan untuk orang-orang berkenamaan. Pernikahan Karol-Adhy masuk kategori ini karena ayahanda dr Karol adalah Gubernur Kalbar, Drs Cornelis, MH.
Walau sederhana, namun yang diharapkan adalah dengan dekorasi yang demikian akan memberikan pelajaran bagi kaum muda, terutama kedua mempelai mengenai kebudayaan Dayak. Ritual ini dilaksanakan Sabtu (5/4) sebelum matahari melewati jam 12 siang. Karena ada anggapan jika matahari sedang naik, maka kelak diharapkan kelak rezeki yang diperoleh kedua mempelai juga lebih baik. Tidak hanya harta dan tahta, tapi juga keturunan.
Mempelai pria bergerak dari Betang menuju Pendopo yang jaraknya hanya sekitar 300 meter. Mempelai tampak anggun dengan mengenakan pakaian adat.■Krisantus/Borneo Tribune
Minggu, 06 April 2008
Terik Matahari, Terik Rizki
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
07.16
1 komentar
Label: Pernikahan
Sabtu, 05 April 2008
Khusuk di Gereja, Membludak di Pendopo
Pesta Rakyat Pernikahan Karol-Adhy
DIIRINGI paduan suara yang melantunkan madah pujian dengan merdu membuat misa pemberkatan yang dipimpin Pastor Paulus Kota, Ofm.Cap berlangsung khusuk. Walau tak ada umat yang berdesakan dalam ruangan, tetapi semua bangku terisi sehingga keadaan gereja penuh.
“From This Moment On “ lagu Shania Twain yang dinyanyikan Koor Gereja Katedral St.Yosep Pontianak, mengiringi langkah kaki Karolin Margret Natasa menuju ke Altar. Sementara di depan Altar telah menunggu Pastor Paulus Kota,OFM.Cap, Ayahanda serta Ibunda Tercinta dari Karol dan Adhy.
“Yang terhormat Bapak Pastor Paulus Kota, kami sekeluarga datang mengantar kedua anak kami sebagai calon mempelai, yaitu Karolin Margret Natasa dan Andreas Adhy Nugroho. Mohon kesediaan Bapak Pastor selaku pejabat gereja untuk memberkati dan meresmikan putra-putri kami ini, yang saling ingin mengikatkan diri dalam sakramen perkawinan suci menurut tatacara gereja Katolik” ungkap Cornelis saat penyerahan keluarga, dan dimulainya Misa Perkawinan yang dilangsungkan di Gereja Katolik Katedral Santo Yosep, Jalan Patimura Pontianak, Jumat (4/4) kemarin.
Ikatan Sakramen Pernikahan Suci Karol dan Adhy telah menjadi tanda resmi Karol-Adhy sebagai pasangan suami dan istri. Tarian kolaborasi Dayak dan Jawa turut memeriahkan suasana di gereja saat itu.
Christiandy Sanjaya beserta Karyanti Tjung tampak hadir sebagai saksi dari Misa Pernikahan ini.
Tampaknya, umat benar-benar ingin menyaksikan moment awal kebahagian putri sulung Gubernur Cornelis itu. Pemberkatan dimulai pukul 09.00 WIB dihadiri sejumlah umat katolik dari berbagai kalangan.
Dekorasi ruang di mana rangkaian bunga ditempatkan di antara bangku sebelah kanan dan kiri paling depan membuat suasana yang khas. Altar juga dipenuhi bunga-bunga dan kain putih yang menghiasi tiang-tiang dalam Katedral.
Berbeda dengan keadaan di luar, sambil menanti selesainya misa pemberkatan, panitia terlihat sibuk dengan aktivitasnya. Bagian konsumsi misalnya, mereka yang sebagian besar ibu-ibu itu berada di posisinya masing-masing tepat di hadapan nasi kotak yang akan dibagikan kepada umat. Sementara, pelataran parkir di Katedral tidak mampu menampung banyaknya mobil hingga terpaksa jalan utama Pattimura digunakan sebagai tempat parkir. Petugas keamanan dibuat sibuk dengan padatnya arus lalu lintas, mereka bertugas dengan baik. Tak ada kemacetan berarti.
Misa pemberkatan berakhir sekitar pukul 11.30. Tetapi kedua mempelai dan orang tua tidak serta merta meninggalkan gereja. Umat yang hadir diberi kesempatan untuk mengabadikan moment tersebut dengan berfoto bersama pasangan. Setelah itu baru pulang.
Pukul 16.00 WIB rangkaian resepsi dilanjutkan di pendopo gubernur. Nuansa merah mendominasi tempat itu. Umbul-umbul, permadani sebagian besar ruangan, tenda-tenda penyambut tamu begitu semarak.
Para tamu mulai berdatangan sejak pukul 16.00. Lokasi parkir gedung-gedung sekitar pendopo dipenuhi kendaraan, rata-rata roda empat. Di halaman museum tampak beberapa bis berderet rapi. Agaknya mengangkut massa dalam jumlah besar asal berbagai kabupaten. Mereka terdiri dari kalangan kecil hingga kalangan elite berasal berbagai daerah.
Kedatangan tamu disambut dengan mesra oleh para penyambut tamu yang juga terdiri dari berbagai kalangan. Tidak hanya dari kalangan masyarakat biasa, tetapi juga beberapa pejabat provinsi seperti Sekda H Syakirman, Kepala BKIKD, Herry Djaoeng. Kadis Pendidikan, Ngatman. Kepala Badan Statistik, Nyoto Widodo, anggota DPRD Kalbar, Khatarina Lies. Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalbar, Thadeus Yus, dan beberapa yang lainnya. Tampak hadir memenuhi undangan antara lain Bupati Kapuas Hulu, Sambas, Bengkayang, Sintang, Melawi dan Landak.
Ribuan tamu memenuhi pendopo. Mereka disuguhi hidangan sambil menunggu atau sekedar ingin melihat kedua mempelai. Lalu-lintas sangat padat dan macet. Polisi dan petugas lainnya dibuat bekerja ekstra keras.
Pesta Rakyat
”Saya sangat terkesan, ini benar-benar pesta Rakyat,” ungkap Katharina Lies salah satu panitia yang juga anggota DPRD Provinsi saat melihat ribuan manusia memenuhi Pendopo Gubernur. Tidak ada perbedaan, semua diundang dan mereka merasa Pendopo Gubernur juga milik mereka.
Tiga ruang VIP dan tiga untuk umum juga terlihat penuh bahkan sebagian undangan harus makan sambil berdiri. Antrean panjang untuk bersalaman dengan gubernur dan pengantin seolah-olah tak berujung.
Sementara itu menurut Ignasius Lyong salah satu panitia pelaksana, sebenarnya tempat ini dibagi menjadi dua jalur, yaitu jalur di dalam pendopo dan samping. “Saat kita melihat kondisi Pendopo dipenuhi undangan, kita buat menjadi tiga jalur, tetapi rakyat yang terus berdatangan menjadikan semua jalur penuh. Jika ada kekurangan dalam hal pelayanan kami mohon maklum,” imbuhnya.
Para undangan dari berbagai kalangan ini juga dihibur oleh tiga artis ibukota yaitu Tia AFI, Rini AFI, dan Ruth Sahanaya.
Menyambut rangkaian acara besok (hari ini, red) Rumah Betang berbenah diri karena mempelai laki-laki (dr. Adhy) akan meminang (Matonde) mempelai wanita (dr. Karol) di pendopo. Ritual adat ini merupakan ritual yang dilaksanakan secara adat Dayak.■Krisantus, Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
04.21
0
komentar
Label: Pernikahan
Jumat, 04 April 2008
Pernikahan Karol-Adhy

Siraman, Harus Bersih Jiwa Raga
SUARA alunan gamelan mengiringi para undangan yang datang di Pendopo Gubernur, Kamis (3/4). Nuansa Merah Putih terlihat mendomianasi tempat berlangsungnya Pesta Rakyat Adat Siraman. ”Makna dari pesta adat siraman untuk membersihkan jiwa dan raga. Pesta siraman adat Jawa ini biasanya dilakukan pada siang hari, sehari sebelum acara pernikahan,” ungkap Awang Hermawan, S.Sn, Panitia Adat Siraman di Pendopo.
Acara dimulai dengan Pemasangan Blek KTP di depan rumah oleh ayahanda Karolin, Cornelis dilanjutkan dengan Tuwuhan oleh Cornelis dan Ny Frederika Cornelis. Makna dari Blek KTP dan Tuwuhan adalah pendekatan umat kepada Tuhannya, jadi segala sesuatu yang akan dilakukan harus didasari dengan pendekatan diri kepada Yang Maha Kuasa.
Di hadapan para undangan acara dilanjutkan dengan penuangan air siraman yang berasal dari 7 sumber oleh Cornelis kemudian air diambil untuk diantar kepada calon pengantin pria. Tujuh dalam bahasa Jawa disebut pitu artinya pitulungan yaitu memberikan pertolongan kapada calon mempelai.
Setelah itu calon mempelai wanita, Karolin Margret Natasa melaksanakan sungkeman kepada Ayahanda Cornelis dan Ibunda Frederika. Cornelis kemudian menggandeng Karol ke tempat siraman dan menyiram pertama kali disusul ibu.
Setelah siraman Cornelis dan Frederika kembali ke tempat siraman Tirto Purwito Sari, dilanjutkan dengan Memecahkan Kendi oleh Ny Cornelis. Hal ini dilakukan agar manusia hidup tidak salah melangkah atau salah berbuat, agar tidak celaka.
Acara terakir adalah Pemotongan Rambut Karol oleh Yanda dan Bunda, masing-masing tiga kali. Kemudian potongan rambut diletakkan di dalam bokor. Maksud dari pemotongan rambut adalah setiap manusia pasti memiliki sifat yang buruk, maka dengan dipotong rambutnya, sifat-sifat buruknya dihilangkan, sehingga menjadi baik. Selain pihak calon mempelai wanita siraman juga dilakukan pihak calon mempelai pria.
Acara pemberkatan penganten akan dilaksanakan hari ini, Jumat (4/4) bertempat di Gereja Katedral Jalan Patimura Pontianak yang dilanjutkan dengan resepsi bertempat di Pendopo.■Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
01.09
0
komentar
Label: Pernikahan
Kamis, 03 April 2008
Gawe Besar di Pendopo
Resepsi Pernikahan yang Merakyat
RESEPSI pernikahan dr Karolin Margret Natasa putri sulung dari dua bersaudara (bungsu sudah menikah, red) pasangan Drs Cornelis, MH dan Fredika, S.Pd pada hari Jumat (4/4) dengan dr. Andreas Adhy Nugroho, anak bungsu dari J.C. Sayoto dan Maria Sri Maripah dipusatkan di pendopo. Penggunaan pendopo ini bertujuan agar masyarakat dapat melihat, dan berkunjung secara langsung di kediaman Gubernur yang mungkin selama ini beberapa kalangan masyarakat tidak dapat dengan mudah berkunjung ke Pendopo Gubernur. Ini yang dimaksud dengan pernikahan merakyat.
Rangkaian acara berlangsung selama tiga hari dimulai dari Kamis,(3/4) di Pendopo Gubernur dengan acara Adat Jawa “Siraman”. Siraman bertujuan untuk saling menghayati makna kehidupan. Karena pada dasarnya tujuan dari pada pernikahan untuk menciptakan rumah tangga yang harmonis dan serasi.
Jumat (4/4) bertempat di Gereja Katedral Santo Yosep pada pukul 09.00 pagi dilangsungkan acara pernikahan yang dilanjutkan dengan resepsi bertempat di Pendopo Gubernur mulai 16.00-21.00.WIB.
Salah seorang anggota panitia Pernikahan Karol dan Adhy, Kartius, undangan sudah disebar. Selain itu kerabat Bapak Cornelis, sahabat dari dalam maupun luar negeri juga diundang.
Puncak acara ini dilakukan pada hari, Sabtu (5/5) yaitu Gawe Adat Panganten. Ritual ini dimulai pada jam 07.00 pada dua tempat. Untuk mempelai pria di Rumah Betang, dan mempelai wanita di Pendopo.
Setelah Ritual Nyangahan atau Pembacaan Mantra kepada Jubata untuk rumah tangga yang harmonis, mempelai laki-laki turun dari Rumah Betang menuju Pendopo. Setelah itu dilanjutkan dengan Berapat Pengenk atau Duduk Bersanding.
Acara adat masih berlanjut dengan Berbagi Peraga Adat kepada kedua belah pihak. Usai adat tersebut disambung dengan pemberian Petuah dari Orang Tua dan Tetua Adat dan Acara diakhiri dengan Bacancak atau makan bersama (saprahan).
Menurut Kartius acara adat ini dilakukan dengan tujuan menghidupkan kembali adat dan budaya Dayak, khususnya perkawinan. Selain itu juga menampilkan ciri khas dalam berpakaian adat Dayak.□Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
00.49
1 komentar
Label: Pernikahan

Sep 2012
