Musyawarah Besar Timanggong Adat Dayak Kalbar yang pertama resmi ditutup. Mereka telah bermusyawarah mencari solusi dan masukan-masukan terbaik bagi eksistensi masyarakat adat selama empat hari. Kegiatan fenomenal tersebut ditutup di Pendopo Gubernur Kalbar.
Penutupan gelar akbar ini cukup unik. Kenapa? Karena dirangkaikan dengan perayaan hari ulang tahun orang nomor satu di Kalbar—Gubernur Cornelis—dan acara berjalan meriah serta semarak.
Acara yang didapuk Minggu, (28/7) itu dihadiri ratusan undangan yang sebagian besar adalah peserta dan panitia Mubes kegiatan yang baru pertama kali dirayakan secara spesial dan di tempat spesial itu mengundang decak kagum.
Warga Dayak yang selama bertahun-tahun sebelumnya seperti tidak berada di rumahnya sendiri malam itu berbahagia. Bersama warga lainnya dari berbagai komunitas etnis yang ada mereka mensyukuri kehadhirat Jubata (Tuhan), menikmati suasana penuh kekeluargaan dan persahabatan di Pendopo Gubernur.
Berbagai suguhan hidangan dan hiburan semakin menguatkan kesan sebuah pesta. Warga Dayak Kalbar memang patut bersyukur, selain sukses mengumpulkan para pemimpin dan tetua-tetua adat Dayak yang sebelumnya terserak, mereka bisa hadir merayakan pesta ulang tahun ke-55 seorang Putra Dayak terbaik. Malam itu Gubernur Cornelis yang berulang tahun terlihat berbahagia bersama sahabat, handai taulan dan orang-orang tercintanya.
Nyanyian selamat ulang tahun berkumandang memenuhi penjuru ruang. Saat Cornelis tiba memasuki ruangan bersama istri dan rombongan. Ia didaulat untuk tampil ke pentas dan memotong kue tart yang sudah disiapkan di atas pentas. Suasana gembira penuh sukacita memenuhi pendopo yang kini mulai penuh dengan ornament berlatar warna mewah.
Gubernur memotong kue ulang tahun. Potongan pertama ia berikan kepada sang wakil, Christiandy Sanjaya selanjutnya juga diberikan kepada Sekda Kalbar, Syakirman dan Ketua DAD Kalbar Thadeus Yus. Sementara potongan tumpeng diberikan oleh Gubernur kepada sang istri tercinta, Ny. Frederika. Hadirin bertepuk tangan gembira menyaksikan pemandangan mengharukan itu.
Yakobus Kumis, Ketua Panitia Mubes dalam laporan akhirnya mengaku gembira dan bahagia acara yang cukup penting itu bisa berakhir sukses. Menurutnya acara malam itu merupakan peristiwa bersejarah bagi warga Dayak Kalimantan Barat.
“Kita semua patut berbahagia karena malam ini kita menghadiri acara yang cukup bersejarah. Pertama kali dalam sejarah kita bisa melaksanakan acara di tempat paling istimewa ini,” ujarnya penuh semangat.
Yakobus Kumis mengabarkan bahwa kegiatan yang telah dilakukan selama empat hari tersebut memiliki makna yang sangat penting bagi kelangsungan kebudayaan masyarakat Dayak. Eksistensi budaya dan adat Dayak yang kian tergerus zaman sedikit banyak akan terbentengi dengan revitalisasi peran lembaga adat.
Lebih kurang empat ratus Timanggong hadir dalam Mubes yang pertama ini. Kehadiran mereka bukan tanpa perjuangan. Menurut Yakobus Kumis, para Timanggong yang rata-rata berusia lanjut itu menunjukkan semangat yang menyala-nyala untuk menjaga dan melestarikan adat dan budaya Dayak yang luhur.
Ada lebih dari 160 suku dan ratusan sub suku dalam komunitas masyarakat Dayak di Kalbar. Kehadiran para Timanggong dalam Mubes ini menurut Yakobus Kumis dalam tonggak sejarah penting bagi penduduk mayoritas di Kalimantan Barat ini.
Demikian juga dengan pembicara lain yang diminta mengemukakan isi hatinya di podium. Thadeus Yus, sebagai Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) juga mengungkapkan kebahagiaannya atas suksesnya perhelatan penting ini.
Sementara Cornelis ketika didaulat untuk berbicara atas nama Gubernur berbicara agak berbeda dengan pembicara sebelumnya. Dengan kemampuan retorikanya yang di atas rata-rata Gubernur semula hanya minta waktu lima menit untuk naik mimbar. Ia berbicara dengan kalimat yang tegas dan tajam tanpa teks.
“Adanya Timanggong, Domong dan istilah lainnya itu bukan dimulai pada zaman penjajahan Belanda. Jauh sebelum itu, istilah Timanggong, Domong itu dibawa oleh Raja-raja Islam. Mereka yang bawa dan perkenalkan ke Kalimantan Barat,” ujar Cornelis dengan suara lantang.
Gubernur yang memiliki gelar master di bidang hukum ini juga memberi ceramah hukum kepada hadirin. Menurutnya eksistensi hukum adat tidak bisa berlawanan dengan hukum positif yang dimiliki negara. Negara adalah pemegang otoritas tertinggi dari sebuah bangsa. Dengan kewenangannya yang bersifat memaksa, negara berhak mengatur banyak hal kata Cornelis.
“Nebis in idem, tidak boleh ada dua aturan hukum yang berlaku,” tegas Cornelis.
Meski berasal dari komunitas Dayak, Cornelis nampaknya tak ingin memanjakan saudara-saudaranya. Malam itu Gubernur Cornelis justru banyak melontarkan kritikan dan masukan bagi warga Dayak dan lembaga adatnya. Kepada pemangku adat Gubernur minta agar tidak lagi terjadi penyitaan dan penahanan alat produksi milik investor. Ia meminta para Timanggong menggunakan pendekatan diplomasi jika perselisihan dengan pihak perusahaan.
“Saya nda mau dengar lagi ada penyitaan alat berat lalu minta ganti rugi 800 juta, satu miliar,” kata sosok nasionalis ini.
Kepada warga Dayak yang kini masih banyak yang hidup bersahabat dengan kebodohan dan kemiskinan, Gubernur minta para Timanggong turun tangan memberi penyadaran. Menurut Cornelis anak Dayak harus sekolah, biar kejar pendidikan agar tidak terkejut melihat kemajuan yang didapat saudara-saudara yang lain. Selain itu mereka juga harus sehat.
“Ternak jangan dilepas nanti kalau dilepas berak sembarangan. Anak kita main bisa kena cacing. Kalau cacing sudah masuk ke darah, darah masuk ke otak. Kalau sudah ke otak bisa jadi idiot nanti anak-anak kita,” ujar Gubernur dengan nada bicara yang penuh gairah.
Mendengar Gubernur Cornelis berbicara hadirin terpana, larut dalam alur pembicaraan yang unik dan jauh dari kesan monoton. Setiap jengkal kalimat yang dilontarkan sarat dengan pesan. Waktu sepuluh menit yang semula diminta Gubernur ternyata kurang, hadirin minta Pak Gubernur meneruskan orasinya yang menghibur dan membangkitkan kesadaran. Kesempatan inipun dimanfaatkan Gubernur untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan. Tak hanya pembangunan fisik, pembangunan mental juga disampaikan oleh Gubernur Cornelis. Pada intinya Gubernur meminta warga Dayak bersama warga Kalbar lainnya bahu-membahu membangun Kalbar yang lebih maju. Lembaga adat diminta menjadi mitra pemerintah dalam pembangunan.
“Tidak bisa kita minta negara menyesuaikan dengan kita. Kita yang harus menyesuaikan diri dengan negara,” pesan Gubernur dalam salah satu petikan kalimatnya.□Budi Rahman/Borneo Tribune, Pontianak
Kamis, 21 Agustus 2008
Penutupan Mubes Timanggong dan Ultah Gubernur
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
06.24
0
komentar
Label: Budaya
Gubernur Tutup Mubes Timanggong
Dalam sebuah pertemuan, baik yang sifatnya besar maupun kecil, tidak terlepas dari dua kata yang berbeda. Yaitu pembukaan dan penutupan. Kata itu juga sering diistilahkan dengan jika ada pertemuan pasti ada perspisahan.
Demikian halnya dengan kegiatan Musyawarah Besar Timanggong I Se-Kalimantan Barat yang dilaksanakan di Wisma Nusantara mulai dari tanggal 24-28 Juli 2008. Tadi malam bertempat di Pendopo Gubernur kegiatan terbesar itu ditutup secara resmi oleh Gubernur Kalimantan Barat Cornelis.
Di acara yang sama, selain akan dilakukan acara penutupan Mubes juga akan dilangsungkan dengan acara syukur atas hari ulang tahun Gubernur Kalbar Cornelis yang ke-55. Acara tersebut dimulai pukul 18.00 WIB.
Inti dari acara penutupan itu menurut ketua panitia Yakobus Kumis, selain acara serimonial juga dilakukan dengan penandatangan nota kesepahaman antara timanggong dengan lembaga-lembaga adat. Selain penandatanganan nota kesepahaman dalam acara itu juga akan dilakukan dengan pernyataan sikap dari lembaga adat dan pemangku adat yang ada di Kalbar.
Menurut Yakobus Kumis, setelah hal itu dilakukan, maka akan dibawa ke pemerintah, lembaga adat bahkan hingga ke pusat. Seperti yang pernah dilontarkan oleh Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya di Wisma Nusantara saat memberi materi, mengusulkan agar hukum adat direkomendasikan menjadi perda.
Para petinggi lembaga adat Dayak juga mau, supaya adanya pengakuan dari lembaga formal terhadap keberadaan lembaga adat maupun pemangku adat serta hukum adat. Dari itu dalam pertemuan yang terakhir kemarin, berbagai agenda mereka gelar. Satu diantaranya rapat koordinasi pengurus DAD provinsi dengan pengurus DAD kabupaten/kota.
Hasil yang diharapkan selama 4 hari pelaksanaan Mubes, seperti dijelaskan Yakobus Kumis, selain ingin menyatukan persepsi dan rumusan mengenai timanggong atau domong, juga akan diterbitkan dua buah buku yang berbeda pula. Buku tersebut menurut Yakobus: Bunga Rampai Mubes Timanggong dan buku Katahanan Budaya Masyarakat Adat Dayak.
Buku itu lanjut Kumis, merupakan hasil dari beberapa makalah yang disajikan oleh beberapa nara sumber. “Buku ini nanti akan menjadi pedoman bagi seluruh lembaga adat dan pemangku adat,” paparnya.
Ketua Timanggong Sei Raya Dalam Eduardus, saat diminta komentar mengenai kegiatan itu, mengatakan sedianya sudah berjalan dengan sukses. Bahkan dia menilai dengan kegiatan seperti ini, dapat menyatukan semua suku Dayak yang berasal dari berbagai sub suku. Selain itu, membuktikan bahwa Dayak itu solid eksis, dan penuh dengan kekeluargaan.
Dari itu ia berharap, agar pengurus DAD tidak henti-hentinya melakukan berbagai terobosan baru demi perkembangan Dayak ke depan terutama untuk para timanggong. “Siapa lagi yang berbuat kalau bukan diri kita sendiri,” katanya.□Hartono/Borneo Tribune, Pontianak
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
06.22
0
komentar
Label: Budaya
FSBM Jadi Calender of Event

Pemprov Kalbar memiliki komitmen yang kuat untuk terus mendorong dan memberdayakan fungsi ketahanan budaya, agar tetap lestari, dan terus berkembang, dan sebagai wujud dari kepedulian tersebut maka FSBMKB telah menjadi Calender of Event Kebudayaan dan Pariwisata Daerah. Hal ini di ungkapkan oleh Gubernur Kalbar Cornelis saat membuka Festival Seni Budaya Melayu Kalbar ke-5 di Kabupaten Sanggau, Senin(21/7).
Gubernur juga mengatakan kepedulian pemerintah dalam melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya Melayu dalam rangka memperkuat budaya nasional tercermin dalam pasal 32 ayat 1 UUD 45 yang menyatakan negara menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara, mengembangkan nilai-nilai budayanya. Pemerintah juga menyadari masih banyak objek wisata yang masih belum terjangkau karena beberapa faktor seperti kurangnya sarana infastruktur.
Pada kesempatan ini Gubernur juga mengimbau kepada pihak swasta agar ikut membangun industri pariwisata dalam mensukseskan Visit Indonesian Year.
Di tempat yang sama Ketua Umum MABM H Abang Imien Thaha dalam sambutannya mengatakan tujuan Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat ke-5 tahun 2008 adalah menggali, melestarikan, dan mengembangkan khasanah Adat Budaya Melayu Kalbar sebagai salah satu komponen budaya daerah, menunjang pembangunan budaya nasional yang semakin berkembang dan integrasi nasional yang semakin kokoh secara berkesinambungan dan juga untuk membangun sektor kepariwisataan. Selain itu MABM yang dilahirkan sejak tahun 1997 oleh komunitas Melayu daerah ini menyadari kemajemukan suku, ras, bahasa, budaya dan agama di mana semua itu merupakan sunnatullah yang menjadi pendorong bangsa Indonesia untuk senantiasa meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan yang berlandaskan Pancasila dan UUD 45. Festival Seni Budaya Melayu yang diadakan setiap dua tahun sekali dengan tuan rumah Kabupaten Sanggau kali ini dihadiri sekitar 1200 peserta dari 14 Kabupaten dan Kota di Kalbar dan akan berlangsung hingga tanggal 24 Juli mendatang. Selain itu hadir pula para undangan dari Malaka, Brunai Darulsalam, Jogja, dan Bangka Belitung. Sedangkan FSBMKB sendiri diisi dengan berbagai kegiatan mulai dari pawai ta’ruf yang membawa gubernur, muspida, dan para undangan menuju keraton dengan menggunakan mobil hias sekaligus meresmikan pameran dan kerajinan daerah, serta memulai lomba dayung sampan, kemudian dilanjutkan dengan berbagai perlombaan seperti seni hadrah, menyanyi lagu daerah, baca syair Melayu, merias pengantin Melayu, sampan bidar naga, sampan bidar Daranate, busana Melayu anak, dan silat bunga. Selain itu juga dilakukan seminar busana Melayu dan adat Melayu serumpun dan eksibisi upacara adat tepung tawar dan eksibisi bertutur.
==========
Gubernur Kalbar Cornelis didampingi istri dan Ketua MABM H Abang Imien Thaha dalam pawai ta’ruf sebagai pembuka Festival Budaya Melayu ke-5 yang dipusatkan di Kota Sanggau, Senin (21/7) kemarin. FOTO Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
05.56
1 komentar
Label: Budaya
DUA PEMIMPIN
33333.jpg)
Gubernur Kalimantan Barat, Drs Cornelis, MH menerima Ketua MABM H Abang Imien Thaha di kediamannya kemarin. Gubernur memastikan akan hadir dan membuka acara Festival Seni dan Budaya Melayu yang akan digelar di Sanggau, 21-24 Juni. FOTO Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
02.18
0
komentar
Label: Budaya
Rabu, 20 Agustus 2008
Gubernur Buka Gawai Dayak Sanggau

Tarian koloborasi tiga etnis yakni Dayak, Melayu dan Tionghoa membuka secara resmi Gawai Dayak Kabupaten Sanggau 2008, Sabtu (5/7) kemarin. Tarian itu, melambangkan keakraban antar etnis yang mendiami Bumi Daranante sejak lama. Usai tarian acara dilanjutkan dengan pomang di temparok lokasinya tak jauh dari pentas. Pomang kali ini dipercayakan kepada DAD Kecamatan Kembayan. Berbagai ritual adat beserta perlengkapanya telah siap di Temparok. Tukang pomang tampak komat- kamit membacakan doa. Sejumlah pejabat dan masyarakat hadir dalam even itu tampak menyimak.
Momen gawai Dayak adalah sarana yang tepat untuk menunjukkan, mempertahankan dan melestarikan budaya Dayak Sanggau. Dilestarikan karena budaya Dayak harus dijalankan secara turun temurun biar tidak menghilang dari peradaban.
Gawai Dayak kali ini seyogianya dibuka Gubernur Kalbar Cornelis, namun karena ada kegiatan PON di Kalimantan Timur, acara pembukaan gawai diwakilkan kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Barat, Rehat Natsir Silalahi. Saat membacakan sambutan Gubernur. Ia menyampaikan permohonan maaf Gubernur karena tidak bisa menghadiri acara itu.
Menurutnya, gawai Dayak adalah merupakan bagian dari integral bangsa Indonesia. Masyarakat Dayak sejak lama masih mempertahankan serta memelihara adat dan budaya, baik dari musik, hukum adat maupun bidang lainnya. Budaya atau gawai Dayak Sanggau haruslah dilestarikan. Karana merupakan aset budaya bangsa.
“Masyarakat Dayak umumnya sudah lama memelihara budaya ini secara turun-temurun,” katanya.
Dengan kondisi yang ada saat ini, budaya mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi aset wisata. Untuk mewujudkan wisata budaya yang mempunyai nilai jual tidaklah mudah. Butuh kerjasama antarmasyarakat dan pemerintah.
Ketua Panitia Gawai Dayak 2008 Yordanus Pinjamin, S, Pd, mengungkapkan gawai Dayak Sanggau merupakan wujud syukur kepada Sang Pencipta atas segala berkah yang diberikan. Terutama saat panen padi pada musim tanam 2008 lalu. Di samping ucapan syukur kepada Sang Pencipta.
Gawai itu sendiri juga mempunyai makna untuk menggali dan melestarikan budaya yang diwariskan nenek moyang. Karenanya digagas beberapa even yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Dayak, yaitu lomba tari kreasi, lomba lagu daerah, memasak panco, mengayam ragak dari rotan, pangka’ gasing, menyumpit, memarut kelapa dan lomba domamankng-domia (Bujang-Dara).
“Dalam acara ini sebenarnya kita juga mengundang presiden Dayak Malaysia, sebentar lagi mereka datang,” kata Penjamin.
Ketua DAD Sanggau F Andeng Suseno, menjelaskan bahwa pemeliharaan budaya merupakan bentuk pelestarian. Sehingga jati diri bangsa bisa terwujud. Ia mengisahkan acara gawai Dayak dari tahun 2005 atau awal penyelengaraan.
“Kita berharap setiap tahunnya acara ini jauh lebih baik,” terangnya.
Ketua DAD Kalbar Thadeus Yus, menjelaskan tanpa budaya, Dayak akan kehilangan jati diri. Dengan adanya lembaga adat atau diharapkan budaya dayak dapat lebih hidup. Sebagai arah pelestarian itu DAD Kalbar merencanakan akan menggelar Mubes Timanggong se-Kalimantan Barat.
“Ini dimaksudkan agar budaya kita dapat dilestarikan,” terangnya.
Bupati Sanggau, Yansen Akun Effendi mengungkapkan bahwa gawai Dayak merupakan bentuk penggalangan nilai-nilai tradisional.□Herkulanus Agus/Borneo Tribune, Sanggau
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
19.17
0
komentar
Label: Budaya
Selasa, 19 Agustus 2008
PGD Topang Tahun Kunjungan Wisata Kalbar 2010
Perlu Multy Culture Center
Event budaya Pekan Gawai Dayak (PGD) memiliki peluang untuk menopang tahun kunjungan wisata Kalbar 2010 yang berbasiskan budaya etnis. Untuk itu diperlukan evaluasi yang mendalam terhadap manajemen penyelenggaraannya yaitu dengan mempertahankan yang sudah baik dan meningkatkan segala sesuatu yang masih dirasakan kurang. Demikian sambutan Wakil Gubernur Kalimantan Barat, yang diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata, Drs. Rihat Nasir Silalahi, M.Si, di Gedung Olahraga Pangsuma, Sabtu (24/5) malam.
Menurutnya, acara PGD yang telah dilaksanakan oleh Panitia, sebagai wujud dari rasa tanggung jawab komunitas etnis Dayak untuk senantiasa memelihara, melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya positif yang telah diwariskan oleh para leluhur. Nilai-nilai yang telah mengkristal dalam kehidupan masyarakat Dayak tambahnya, hakekatnya merupakan perwujudan dan refleksi warisan budaya yang sudah tertanam sejak lama.
“Sebagai bagian integral dari budaya nasional saya berharap masyarakat Dayak dapat memberikan konstribusi positif dalam pembentukan karakter dan pekerti bangsa yang tangguh, ulet, jujur, adil dan bersikap terbuka dengan etnis yang lainnya di Kalbar.”
Karena dengan sikap membuka diri terhadap budaya etnis lainnya menurutnya dapat menjalin persatuan dan kesatuan antarsesama komunitas. Hal ini sejalan dengan perjuangan dr. Wahidin Sudirohosudo pada satu abad yang lalu dalam upaya menumbuhkan semangat nasionalise yang menjadi kekuatan dasar untuk merebut kemerdekaan dan hingga saat ini masih sangat relefan untuk mengisi pembangunan.
Lebih lanjut dia meyebutkan, salah satu upaya untuk menciptakan persatuan dan kesatuan itu dapat diciptakan melalui pagelaran seni budaya. “Oleh karena itu tema yang diusung dalam penyelenggraraan PGD XXII 2008 ini yaitu menjadikan seni budaya sebagai media perekat persatuan dan kesatuan, saya nilai sangat tepat,” paparnya memuji.
Dia menjelaskan persatuan dan kesatuan bangsa hanya mungkin terlaksana apabila setiap komunitas mampu menempatkan budaya etnis dalam kontek multikulturalisme bangsa yang mengedepankan kebersamaan dan mengapresiasi perbedaan dalam kesederajatan.
Heterogenitas masyarakat Kalbar yang terdiri dari berbagai etnis merupakan aset yang tidak ternilai harganya apabila mampu dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
Dengan keanekaragaman suku bangsa yang ada, Kalbar berpotensi besar untuk menjadikan dirinya sebagai the truely Indonesia. Artinya untuk melihat seni budaya Indonesia para wisataman cukup hanya dengan mengunjungi Kalbar. “Untuk itu diperlukan pembinaan yang terarah dan sistematis terhadap seni budaya yang berbasis etnisitas serta ditunjang oleh wadah semacam Multy Culture Center yang memungkinkan pementasan atraksi seni budaya daerah secara rutin,” pintanya.
“Dengan cara demikian saya yakin dan percaya pada saatnya nanti PGD dapat menjadi daya tarik tersendiri dalam meningkatkan arus kunjungan wisatawan ke Kalbar,” katanya.
Sementara menurut ketua panitia Drs. Paulus Denggol, PGD XXII 2008 yang diawali dengan ritual “Ngampar Bide” dari Dayak Kendayan yang dibuka secara resmi oleh Gubernur Kalbar Drs. Cornelis, MH tanggal 20 Mei 2008.
Menurutnya pagelaran PGD tahun ini ternyata mendapat sambutan yang hangat dari seluruh masyarakat Kalbar baik yang berasal dari suku Dayak itu sendiri maupun yang bukan dari suku Dayak. Hal ini menunjukkkan kehidupam berbangsa dan bernegara di Kalbar dalam keadaan rukun dan damai. “Pekan Gawai Dayak XXII 2008 telah berlangsung sukses dan meriah,” katanya.□Naskah dan Foto: Hartono/Borneo Tribune
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
19.47
0
komentar
Label: Budaya
Gubernur Buka Gawai Dayak
Jangan Jadi Bangsa yang Manja
Gubernur Kalimantan Barat, Drs Cornelis, MM meminta rencana kenaikan harga BBM oleh pemerintah seiring tingginya harga minyak mentah di pasar dunia tidak selalu diikuti aksi unjuk rasa.
"Jangan jadi bangsa yang manja. Baru naik sedikit saja (harga BBM) sudah berdemo," kata Cornelis di pembukaan Pekan Gawai Dayak ke-XXII di Rumah Betang Pontianak, Selasa siang.
Menurut dia, pemerintah akan kesulitan membiayai pembangunan kalau harga BBM tidak disesuaikan. "Untuk mengharapkan pajak saja pemerintah kesulitan karena nilainya masih kecil," kata Cornelis.
Ia mengatakan, dibanding negara lain, harga BBM di Indonesia termasuk murah. Ia mencontohkan di Malaysia harga premium per liter mencapai Rp15 ribu. Di beberapa negara Eropa bahkan harga per liternya Rp 25 ribu.
Cornelis juga mengimbau masyarakat melakukan penghematan pemakaian BBM seperti tidak menggunakan sepeda motor untuk jarak tempuh yang dekat. "Kalau mandi ke sungai, jangan pakai motor. Berjalan saja," kata Cornelis dalam bahasa daerah.
Sebagian masyarakat Kalbar terutama di daerah bukan perkotaan masih mengandalkan sungai untuk aktivitas sehari-hari seperti mandi, cuci dan kakus. "Kecuali kalau sungainya jauh, sepuluh kilometer," kata mantan Bupati Landak itu.
Sementara untuk ketahanan pangan, ia mengharapkan masyarakat tidak malu dengan profesi sebagai petani. "Menjadi petani bukan pekerja hina, justru mulia. Tanpa petani, kita tidak akan makan nasi," katanya.
Masa tanam padi khususnya untuk masyarakat Dayak yang umumnya hanya satu kali setahun, perlu ditingkatkan menjadi dua kali. Keluarga petani yang membiarkan lahannya terlantar juga harus menanam kembali. "Ini untuk memenuhi kebutuhan pangan karena negara-negara pengekspor sudah menaikkan harga beras," kata Cornelis.
Wakil Ketua DPRD Kalbar, Arya Tanjungpura juga mengingatkan warga yang merayakan Gawai untuk tidak menimbulkan kesan pesta-pora. "Negara sedang dalam keadaan susah. Jangan sampai ada kesan seperti itu," kata Arya Tanjungpura.
Bagi masyarakat Dayak, Gawai menjadi sarana untuk mewujudkan rasa syukur ke pencipta atas hasil yang diperoleh saat musim tanam padi.
Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalbar, Thadeus Yus mengatakan, padi erat kaitannya dengan religiusitas masyarakat Dayak. "Kehancuran alam akan menjadi faktor serius yang mengancam kelangsungan kehidupan sosial masyarakat Dayak," kata Thadeus Yus
Pekan Gawai Dayak (PGD) Kalimantan Barat XXII yang diselenggarakan 20-24 Mei 2008 di Rumah Betang dan dibuka secara resmi Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH.
PGD ini lahir seiring dengan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 1986. Gawai ini sendiri merupakan pesta panen padi bagi masyarakat Dayak dan telah ditetapkan Gubernur Kadarusno pada tahun 1976 melalui SK pada tahun 1976 dan SK tersebut adalah untuk menyatukan keberanekaragam gawai yang ada di Kalbar ini.
Berbagai adat budaya tradisional yang merupakan warisan leluhur nenek moyang akan disajikan, seperti Balenggang atau Bari’, Nyangahat’t Balale, Nyumpit dan lain sebagainya, dengan harapan seni dan budaya yang belum tergali secara maksimal dapat dikenal secara luas oleh masyarakat Kalbar.
Seni dan budaya yang hidup dan berkembang di masyarakat Dayak merupakan sumber daya tarik wisata dan modal yang besar, artinya bagi pengembangan kepariwisataan. Untuk itu, perlu diupayakan agar seni dan budaya Dayak yang selama ini hanya dikenal pada kalangan tertentu dapat ditampilkan dalam acara khusus sehingga masyarakat luas dapat menikmatinya.
Ketua panitia Drs. Paulus Lukas Denggol mengatakan PGD Kalbar yang sudah menjadi event tetap kalender Pariwisata Nasional ini merupakan sarana untuk mengembangkan seni dan budaya Dayak sehingga menjadi atraksi yang memikat dan dapat dinikmati oleh wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Dengan demikian menurutnya, seni budaya Dayak diharapkan dapat terus berkembang sehingga mampu meningkatkan pendapatan daerah, pendapatan masyarakat dan peluang usaha.
Dalam sambutan singkatnya Ketua DAD Kalbar, Thadeus Yus mengatakan tujuan dilaksanakannya PGD ini untuk memperkuat sendi-sendi kehidupan budaya daerah dalam memperkaya kebudayaan nasional, menyukseskan program pemerintah dalam bidang kebudayaan seni dan budaya pariwisata,
Selain itu menurutnya, untuk menjaga kemurnian nilai-nilai kearifan budaya Dayak dari pengaruh budaya asing sebagai akibat konsekuensi logis dari arus globalisasi dan modernisasi dan mewujudkan visi misi Dayak bersatu, Dayak maju dan Dayak sejahtera sebagaimana yang sudah diamanahkan dalam Musyawarah Nasional II DAD Se-Kalimantan.
PGD tahun ini terlihat meriah. Dimana sebanyak tiga puluh delapan sanggar ikut ambil bagian. Mereka akan melibatkan diri dalam berbagai macam perlombaan. Mulai dari melukis perisai, menyumpit, memasak tradisional dan lain sebagainya.
Pembukaan PGDXXII dihadiri Kapolda Kalbar R. Nata Kesuma, Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Rihat Natsir Silalahi, Bupati Landak Andrianus Asia Sidot, Sekda Kab. Sanggau F. Andeng Suseno, Walikota Pontianak Buchary Abdurrachman, Ketua TP PKK Kota Pontianak Sri Astuti Buchary, Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak Hartono Azas, Ketua Bhakti Suci Lindra Lie, MABM, IKBM, MABT.
=========
GAWAI
Gubernur Kalbar Drs Cornelis, MH resmi membuka Pekan Gawai Adat Dayak ke 22 di Rumah Betang Pontianak ditandai pemotongan Rotan pada Upacara Nyangahatn, Selasa(20/5). Pekan Gawai Dayak ini akan berlangsung hingga 24 Mei mendatang. Foto Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune.
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
19.19
0
komentar
Label: Budaya
Gubernur Dijadwalkan Buka Pekan Gawai Dayak

SEKITAR 23 acara akan digelar pada Pekan Gawai Dayak Tahun 2008, 20 Mei besok. Beragam perlombaan, permainan rakyat, pemilihan Bujang dan Dare Dayak 2008. Persiapan acara sudah 90 persen rampung.
Rencananya acara dibuka secara resmi oleh Gubernur Kalbar. Upacara adat dari Kabupaten Sanggau akan mengisi acara seremonial tersebut yang dipusatkan di Rumah Betang. Penutupan dilakukan 24 Mei 2008 pukul 19 00 di GOR Pangsuma Pontianak.
“Penutupan merupakan puncak dari seluruh rangkaian acara,” ungkap Ketua Panitia Pekan Gawai Dayak Tahun 2008 Paulus.L. Denggol di Rumah Betang Sabtu(17/5).
Sementara itu menurut Tarsisius Ifan Sabandap selaku penanggungjawab kegiatan dalam Kepanitiaan Gawai Dayak 2008 mengatakan selain pembukaan juga akan ada pagelaran budaya yang melibatkan berbagai elemen masyarakat seperti MABT, MABM, Kerabat, Patimura dan yang lainnya.
Hal ini dilakukan agar budaya bisa mempererat persatuan dan kesatuan bangsa dan rencananya dibuka Wali Kota Pontianak H Buchary Abdurrahman.
Tarsisius juga mengimbau kepada seluruh sanggar agar bersungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan Gawai Dayak. Selain itu ucapan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Kalbar karena eEven ini merupakan kalender tetap Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pemerintah Kota dan Kabupaten atas kerja samanya, dan juga semua pihak yang telah membantu untuk kelancaran acara ini.
Sekjen Dewan Adat Dayak Kalbar Makarius Sintong mengatakan Gawai Dayak merupakan wujud nyata dari masyarakat adat Dayak dalam upaya untuk menggali,dan melestarikan nilai-nilai seni budaya adat istiadat masyarakat Dayak.
Pekan Gawai Dayak di Pontianak dilaksanakan oleh Sekberkesda. DAD Kalbar juga mendorong seluruh DAD Kabupaten dan Kota se Kalbar untuk melaksanakan Gawai Dayak di daerahnya masing-masing, dan mudah-mudahan pada tahun 2008 dapat terlaksana di daerahnya masing-masing.
“Setiap tahun penyelenggaraan Gawai selalu ada peningkatan, dengan muatan materi untuk melestarikan dan meningkatkan kualitas seni budaya Dayak. Setiap tahun kita berharap selalu ada improvisasi yang dinamis sehingga bukan hanya menjadi konsumsi masyarakat adat Dayak semata, tetapi menjadi konsumsi masyarakat Indonesia” ujar Makarius Sintong.
Selain itu menurut Floor Surya Darma dari Betang Center mengatakan peserta Gawai sendiri bukan hanya dari Kota Pontianak saja tetapi pada tahun ini kita membuka diri untuk seluruh Kabupaten dan Kota di Kalbar agar dapat berpartisipasi dalam acara ini, dan untuk penentuan peserta kita menyerahkan langsung ke DAD di daerahnya masing-masing.
“Saat ini sudah sekitar 80 persen peserta dari seluruh kabupaten dan kota telah mendaftar untuk mengikuti acara ini seperti Melawi, Sanggau, Landak, Sintang, Sekadau,dan kota Singkawang. Selain itu saat ini juga telah hadir di Pontianak Asosiasi Sarawak Dayak Iban yang akan ikut meramaikan Pekan Gawai Dayak ke-22 ini,” katanya.
Dalam Pekan Gawai Dayak yang dipusatkan di Rumah Betang ini, sedikitnya ada 23 stand termasuk posko. Pada 18 Mei hari ini, acara Adat Ngampar Bide dan gladi bersih.
“Dalam Pekan Gawai Dayak kali ini sengaja saat penutupan kita pilih di GOR karena keterbatasan tempat di Rumah Betang dan untuk kenyamanan pengunjung termasuk penobatan Bujang dan Dare 2008, dan khusus untuk juara Bujang dan Dara Dayak tahun 2008 ini, lebih kita arahkan agar dapat mensosialisasikan nilai-nilai seni dan tradisi Dayak”, ujar Sekjen Dewan Adat Dayak Kalbar Makarius Sintong.□Foto: Tanto Yakobus, Naskah: Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune.
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
19.11
0
komentar
Label: Budaya

Sep 2012
