
Hentakun
Borneo Tribune, Pontianak
Bertempat di Pendopo Gubernur Kalbar, Jalan A. Yani Pontianak, tanggal 12 Januari 2009 akan diadakan Natal gabungan Dayak se-Kalimantan Barat.
Menurut Karolin Margaret Natasa, selaku panitia penyelenggara, ketika ditemui seusai audiensi dengan Gubernur Kalbar, Cornelis di Pendopo, Jumat (2/1) perihal pelaksanaan Natal gabungan tersebut, bahwa diadakannya Natal gabungan tersebut sebagai wadah silaturahmi dan menjalin keakraban antar sesama sub suku Dayak yang tinggal di Pontianak.
Menurut Karol, diperkirakan 2000 orang lebih yang akan menghadiri Natal gabungan sub suku dari duaratusan sub suku Dayak di Kalbar itu.
Karol juga menjelaskan bahwa diselenggarakannya kegiatan tersebut berdasarkan aspirasi masyarakat, sehingga kegiatannya digabungkan saja di Pendopo, dan hal tersebut sudah lama tidak dilakukan di Kalbar.
Apalagi lanjutnya, orang-orang Dayak yang tinggal di Pontianak ini jauh dari keluarga dan kampung halaman, mereka perlu diakomodir. Karol juga menyampaikan bahwa selama ini Gubernur telah banyak menghadiri natal gabungan etnik lain.
Untuk itu Panitia Natal gabungan sub suku Dayak se-Kalbar mengundang seluruh keluarga besar sub suku Dayak yang tinggal di Pontianak untuk beramai-ramai datang ke Pendopo Gubernur Kalbar tanggal 12 Januari nanti untuk mengikuti Natal bersama Gubernur Kalbar, demi menjalin keakraban sesama suku Dayak yang tinggal di Pontianak.
Senin, 05 Januari 2009
12 Januari Natal Dayak se-Kalbar
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
02.03
0
komentar
Jumat, 02 Januari 2009
Setelah 42 Tahun, Rumah Itu Terbuka

Gubernur Cornelis membaur bersama rakyat membakar ikan di halaman pendopo gubernur Kalbar menyambut malam pergantian tahun dari 2008 ke 2009. FOTO Lukas
=================
Hentakun
Borneo Tribune, Pontianak
Siapa yang tak tahu rumah megah berdiri di Jalan A. Yani, lengkap dengan air mancurnya dan ornamen etnik nan indah? Di jalan masuk rumah tersebut tampak penjagaan petugas Satpol PP. Bila sudah begitu, lengkap sudah aturan protokoler yang memagari rumah dinas Gubernur Kalbar. Pengunjung atau tamu, mesti mendapat ijin dari petugas jaga. Dan tentu ada pertanyaan terkait maksud dan tujuan berkunjung. Bagi yang paham, itu wajar, karena tugas dan tanggung jawab menjaga orang nomor satu di provinsi ini harga mati, karena dia adalah pejabat negara.
Selama 42 tahun rumah tersebut terkesan angker bagi masyarakat awam. Wapimred Borneo Tribune, Tanto Yakobus mengatakan, sebelumnya rumah itu “sakral”. Hal senada dikatakan, Kabag Humas dan Protokoler Provinsi Kalbar, Hamdan Harun. “Ini baru pertama kali terjadi, pendopo terbuka untuk semua lapisan masyarakat, sebelumnya tidak pernah,” ujarnya.
Hamdan Harun, menjadi saksi hidup setiap pemimpin yang mendiami rumah itu, dia tahu persis berbagai karakter pemimpin Kalbar dari masa ke masa. Nasir, pegawai Humas Provinsi Kalbar juga menyampaikan hal yang sama, dia dan beberapa pegawai lainnya tidak bisa menyembunyikan kegembiraan dan kesenangan kepada pemimpin yang mau membaur dengan pegawainya.
Rumah tersebut, sebelum kepemimpinan Gubernur Cornelis, memang sakral, tidak semua orang bisa masuk. Hanya orang yang benar-benar perlu dan melalui banyak birokrasi baru bisa masuk, apalagi untuk bertemu gubernur. Namun, tahun 2008, aura rumah itu berubah, dia menempatkan dirinya sebagai rumah rakyat, sehingga, sejak Natal sampai Tahun Baru, rumah tersebut akrab dengan rakyat. Rakyat bisa masuk tanpa melalui pemeriksaan ketat, asal melapor saja.
Sejak masuk ke rumah dinas itu, Cornelis memang membuka pintu lebar-lebar bagi masyarakat luas, tampa melihat asal-usul, latar belakang. ”Silakan siapa saja yang ingin memakai pendopo, ini rumah rakyat,” ujar Cornelis suatu ketika.
Kejadian pertama kali dalam sejarah rumah mewah yang sakral tersebut mengundang beragam komentar masyarakat, ada yang mengatakan seperti mimpi bisa menginjakkan kaki di rumah yang lantainya dari kayu ulin tersebut, karena sebelumnya tidak pernah.
Malam pergantian tahun 2008 ke 2009, pendopo menggelar pesta kembang. Rakyat terkesan malu-malu masuk ke rumah itu, mungkin karena sindrom 42 tahun lalu membuat rumah itu angker dan terkesan menakutkan.
Saya mengamati masyarakat yang membawa serta keluarganya melihat pesta kembang api di rumah dinas itu, di tengah kemacetan Jalan A. Yani. Pertama, mereka hanya menyandar di pagar pintu masuk sebelah kiri rumah, pintu perlahan-lahan digeser, ujung roda depan motor perlahan masuk, seseorang dengan berani membuka pintu masuk rumah itu sebelah kiri selebar 1 meter, tanpa komentar.
Semua berjubel masuk, sampai mendekati kediaman gubernur yang waktu itu masih sibuk menerima masyarakat datang yang ingin bersalaman, sambil sesekali bersama istrinya mengipas-ngipas ikan bakar di pemanggang. Sepertinya, kerinduan masyarakat bertemu langsung pemimpin tercinta pilihan nurani mereka terobati. Kendaraan roda dua tadinya terparkir di trotoar A. Yani lengkap dengan pengendaranya memenuhi jalan masuk rumah itu, baik di pintu masuk sebelah kiri, maupun kanan. Sudah tidak ada batas lagi, memang harus di akui, itu rumah rakyat, Gubernur Cornelis pun sering mengatakan, “Ini rumah rakyat”.
Mengenakan kaos berkerah warna putih celana panjang hitam, didampingi isteri tercinta, Cornelis antusias menyambut masyarakat yang datang. Cornelis berharap masyarakat terhibur. Dia telah membongkar mitos rumah dinas Gubernur Kalbar yang selama ini sakral. “Berarti masyarakat belum pernah melihat bagaimana cara kita melepas tahun lama menerima tahun yang baru di rumah Gubernur,” ujarnya. Seiring bergantinya tahun, Cornelis berharap kedepan, sesuai dengan kembang api yang bercahaya itu agar kita lebih cerah lagi.
Mungkin itulah sosok pemimpin yang merakyat. Selain mencintai rakyatnya, dia sanggup mendengar keluh kesah rakyat di tengah keterpurukan hidup akibat krisis. Mereka tidak mengharapkan yang lebih dari sang pemimpin, hanya satu, bisa menjadi tempat berteduh manakala kemiskinan terus menggerogoti hidup mereka membuat mereka capek untuk melangkah. Rakyat Kalbar butuh pemimpin yang bisa diteladani, mudah-mudahan rumah yang indah tersebut sejak malam itu tetap terbuka untuk selamanya.
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
01.22
2
komentar
Kamis, 01 Januari 2009
Pesta Bersama Rakyat di Pendopo

KEMBANG API
Ribuan orang memadati pendopo Gubernur Kalbar menyaksikan atraksi Kembang api yang dilakukan selama dua jam Rabu (31/12). Atraksi ini dilakukan untuk menghibur masyarakat dalam acara pergantian tahun dari 2008 ke 2009. FOTO Lukas B Wijanarko
================
Andry
Borneo Tribune, Pontianak
Suasana jelang pergantian tahun baru 2009 di Pendopo Gubernur terlihat berbeda dari tahun sebelumnya. Langit di atas pendopo begitu indah bermandikan cahaya kembang api yang memancarkan sejuta warna-warni nan indah.
Letupan dan percikan kembang api semakin menambah indahnya pergantian malam tahun baru 2009. Ribuan masyarakat yang tumpah ruah memadati bahu jalan protokol Ahmad Yani dan pelataran pendopo seakan takjub menyaksikan pertunjukan itu. Suka ria pun menyertai mereka dimalam penghujung tahun itu.
Malam itu merupakan malam pesta rakyat penuh keceriaan tanpa sekat. Semua orang berkumpul di sana. Mulai dari yang tua, muda, kecil, besar, perempuan maupun lelaki bebas hilir mudik memasuki Pendopo Gubernur yang terletak di Jalan A. Yani.
Jalan Ahmad Yani yang merupakan salah satu jalan protokol di Kota Pontianak malam itu terlihat sangat padat. Bahkan kendaraan yang melintasinya harus rela berjalan dengan cara merayap alias hanya berkecepatan sekitar 5 sampai 10 kilometer per-jam.
Gubernur Cornelis beserta istri tercinta Frederika Cornelis terlihat sangat ramah dan bersahaja dengan para tetamunya yang berasal dari semua kalangan malam itu. Mulai dari para pejabat hingga rakyat biasa disambut dengan hangat oleh orang nomor satu di Kalimantan Barat tanpa perbedaan. Ternyata Cornelis merupakan sosok pemimpin yang sederhana yang apa adanya serta akrab dengan rakyatnya.
Cornelis berserta istri tidak canggung ataupun sungkan malam itu. Satu persatu masyarakat yang berada dekatnya lantas dihampiri dan disalaminya. Tak jarang mantan Bupati Landak itu terlihat berbincang hangat sembari bersenda gurau dengan rakyatnya. ”Pendopo ini dibangun dari uang mereka (masyarakat Kalimantan Barat). Dan siapa saja boleh ke sini. Karena ini rumah rakyat, siapa saja boleh ke sini. Kenapa jadi tidak boleh?!,” ujar Gubernur Cornelis ketika berbincang-bincang dengan saya.
Gubernur dan istri tercinta juga bukan orang yang manja. Mereka tidak suka asal perintah saja. Malam itu kedua mantan kekasih itu terlihat kompak membakar ikan di pelataran pendopo. Sang istri terlihat giat membalikkan ikan seraya mengawasi agar tidak hangus. Sedangkan sang suami dengan setia mengipaskan api dengan nyiru yang terbuat dari padan agar ikan yang dibakar menjadi matang secara sempurna. Keceriaan dan kesederhaan dari orang nomor satu di Kalbar itu pun kian terasa.
Sementara itu, langit di atas Pendopo Gubernur terus bermandikan cahaya dari percikkan kembang api yang sangat indah. Suasana itu tambah meriah dengan bunyi-bunyian terompet tahun baru yang sekan menggema di seantero Pendopo. Malam itu sungguh indah dengan bertabur keceriaan. Semua orang bersuka ria menyambut pergantian tahun 2009.
”Tiuuu... crak-crak-crak...”
”Tiuuu... crak-crak-crak...,” suara kembang api yang dilontarkan ke langit seraya memandikan langit dengan cahaya yang indah.
Seakan tak mau kalah. Bunyi terompet tahun baru pun menyertai percikan kembang api yang indah menghiasi langit malam itu. ”Peeettt.... Poottt ... Tooottt,” suara terompet tahun baru.
Gubernur Cornelis ingin dimalam penghujung tahun 2008 dan memasuki tahun 2009 disambut dengan kegembiraan bersama masyarakat Kalimantan Barat. ”Saya ingin malam ini menjadi pesta kita bersama. Pesta bersama rakyat Kalimantan Barat menyambut tahun baru 2009. Selamat tahun baru 2009,” ujarnya sembari tersenyum.
Tidak lupa Frederika Cornelis pun mengucapkan selamat tahun baru 2009 kepada semua masyarakat Kalimantan Barat. ”Selamat tahun baru 2009 ya,” katanya sembari tersenyum.
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
03.09
1 komentar
Gubernur Ajak Rohaniawan Mendoakan Kalbar

NATAL BERSAMA GUBERNUR
Natal Bersama Gubernur Kalbar dengan uskup, pastor, biarawan dan biarawati se-Kalbar, di pendopo, Selasa (30/12) . Misa ini di pimpin oleh Uskup Agung Pontianak, Hierenemus Bun bun Ofm, Cap . FOTO Lukas B Wijanarko/ Borneo Tribune
==============
Hentakun
Borneo Tribune, Pontianak
“Sebagai penganut Katolik, tidak salah mengundang para imam Katolik, para biarawan-biarawati hadir berdoa untuk kesejahteraan Kalbar. Sebagaimana tertulis dalam injil, siapa yang memberkati Yerusalem dia juga terberkati,“ ujar Gubernur Kalbar, Cornelis dalam acara Natal bersama Para para Uskup, Pastor, Biarawan/Biarawati se Kalbar di Pendopo Gubernur (30/12).
Misa dipimpin Uskup Agung Pontianak, Mgr. Hieronimus Bumbun, OFM. Cap., dan Uskup Sintang, Mgr. Agustinus Agus, Pr. Didampingi para Pastor.
Dalam sambutan seusai misa, Gubernur meninta Para Imam memberkati Kalbar. “Jadi bukan saya pribadi, Puji Tuhan kalau saya juga diberkati, puji tuhan kalau saya juga diurapi Karena saya tidak mampu untuk jalan sendiri tanpa ada kuasa roh kudus, serta kuasa Yesus. Oleh Karena itu, dengan tulus dan iklas kami mengundang para Imam Katolik untuk berdoa bersama, agar Kalbar damai sejahtera,“ akunya lugas.
Sementara itu, penggagas ide perayaan Natal Gubernur bersamka Imam Katolik, Biarawan/Biarawati, Pastor Matheus Juli, Pr., menyampaikan, Tujuannya diadakan perayaan ini, karena, Gubernur Katolik dan Wakil Gubernur Kristen Protestan. Mereka diajak untuk bersama-sama merayakan hari kegembiraan kelahiran Tuhan Yesus, karena tema Natal tahun ini “Hidup damai bersama semua orang“. Untuk itu diharap kelahiran Tuhan Yesus bisa dirasakan oleh, bukan hanya kaum Biarawan/Biarawati, juga semua umat Katolik di Kalbar.
Menurut Pastor Juli, acara tersebut seharusnya dihadiri Uskup, Pastor dan Biarawan/Biarawati se Kalbar, namun karena terutama para pastor punya agenda di paroki masing-masing maka banyak yang berhalangan.“Tahun depan akan dipersiapkan lebih baik lagi,“ ujarnya.
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
02.58
0
komentar
Cornelis Raih “Man of The Year 2008”

MAN OF THE YEAR
Dirut PT Borneo Tribune Press, W. Suwito, SH., MH., menyerahkan penghargaan “Man of The Year 2008” kepada Gubernur Kalbar, Drs. Cornelis, MH., di hotel Gajahmada (30/12). Penghargaan “Man of The Year 2008” Harian Borneo Tribune juga diberikan kepada Ketua DPRD Kalbar, IR. H. Zulfadhli, Anggota DPR-RI IR. Fanshurullah Asa, dan Dirut Bank Kalbar, Djamaluddin Malik. FOTO Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune
=================
Hentakun
Borneo Tribune, Pontianak
Tidak salah, kalau Anggota DPR-RI Fraksi Golkar, Yuddy Chrisnandi, mengatakan, Gubernur Kalbar, Cornelis, adalah solusi pembangunan Kalbar, dengan mengimplementasikan konsep kepemimpinan yang berakar dari rakyat, serta program-progam sosial ekonomi yang berbasis kepentingan rakyat.
Hal ini, diperkuat penilaian yang luar biasa dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan United Nation Development Program (UNDP) memberi nilai tertinggi terhadap proses demokratisasi di Kalbar sehingga Kalbar mendapat rangking pertama dalam demokratisasi, sehingga Pilkada dan Pilwako di Kalbar bejalan aman, tertib dan lancar, walau sebelum pelaksanaan, diakui sempat membuatnya deg-degan dan tidak nyaman tidur.
Tentunya, tahap kesuksesan kepemimpinan, Cornelis tidak berhenti di situ, pekerjaan rumah di tahun mendatang berat. apalagi kemiskinan di Kalbar memerlukan penanganan serius, ditambah mutu manusia yang masih harus ditingkatkan serta pembagunan infrastruktur sebagai pendukung semua itu juga harus berjalan bersama, agar tidak terjadi tumpang tindih, yang mengakibatkan pola pembangunan tidak seimbang.
Harian Borneo Tribune, menobatkan Cornelis sebagai Man of The Year 2008 bidang pemerintahan, menjadi motivasi baginya agar lebih baik lagi dalam memimpin masyarakat Kalbar, terutama menyelamatkan rakyat dari jurang kemiskinan.
Seusai menerima penghargaan yang dihelat di hotel Gajahmada (30/12) tersebut, Cornelis tidak bisa menyembunyikan rasa harunya, dalam sambutan dia mengatakan, “Saya belum layak menerima ini, saya belum terbukti, namun saya berharap ini memacu dan memotivasi kita untuk bekerja lebih baik, sehingga kita bersungguh-sungguh dan bertangung jawab mengelola negeri ini,” ujarnya.
Ny Frederika Cornelis, tidak menyangka kalau ada penilaian seperti ini. Namun, dia berharap, penghargaan ini menjadi motivasi agar Gubernur lebih baik lagi memimpin masyarakat Kalbar kedepan. ”Mudah-mudahan dengan penghargaan ini, Bapak punya motivasi tersendiri demi kesejahteraan masyarakat Kalbar,” ujarnya.
Beberapa konsep Gubernur Cornelis yang terkesan menggelitik, namun tepat sasaran, seperti perjuangan membangun toleransi antar umat beragama di Kalbar, dalam sambutan sebelum penganugerahan, dia menyampaikan bahwa ketika mau mencalonkan diri menjadi Gubernur mendapat rekomendasi Kyai NU, mengingat di Kalbar agamanya beraneka ragam, dan ini berlangsung sejak sebelum merdeka, bahkan ratusan tahun, dia menyayangkan kenapa setelah merdeka masalah agama sering diperdebatkan. Sehingga ketika pencalonan, Cornelis memisahkan urusan agama dengan politik, sampai sekarangpun, karena kepemimpinannya yang berlandaskan persatuan dan demokrasi untuk kesejahteraan rakyat Kalbar.
Bahkan sikap toleransinya ditunjukan dengan membuat sejarah baru, Gubernur Kalbar pertama mengantar dan menjemput langsung jemaah Haji asal Kalbar ke Batam. Untuk urusan satu ini, Gubernur sangat hati-hati, tak henti-hentinya dia berpesan kepada petugas yang mengurus Jemaah agar professional dan sabar mengurus jemaah, terutama yang sudah berumur, sehingga dari keberangkatan sampai kepulangan berjalan lancar.
Berkaitan masalah kesehatan, peringkat HIV/AIDS di Kalbar tinggi, menurut Cornelis, disebabkan kualitas iman terlalu rendah, selain itu, lalu lintas orang luar negeri terlalu tinggi, sehinga sulit dikontrol. Begitu juga dengan kemiskinan, akibat kesalahan masa lalu yang menyerahkan ribuan hektar HPH ke perusahaan, masyarakat Kalbar tidak mendapat apa-apa dari pengelolaan hutan tersebut. Padahal menurut Cornelis, aset hutan banyak, tapi rakyat miskin. “Anehnya, kita memikirkan dia miskin, tapi dia tidak befikir kalau dia miskin,” ujar Cornelis disambut gelak tawa hadirin.
Selain Cornelis, penghargaan Man of The Year 2008 juga diberikan kepada Ketua DPRD Provinsi Kalbar, Zulfadhli, Anggota DPR-RI Dapil Kalbar, Fanshurullah Asa, dan Dirut Bank Kalbar, Djamaluddin Malik. Masing-masing untuk kategori pemerintahan, pendidikan dan bisnis.
Sementara itu, dalam sambutannya, W. Suwito, Direktur Utama Borneo Tribune mengatakan bahwa satu hari sebelum tutup tahun dengan bangga Borneo Tribune bisa memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh yang selama tahun ini paling sering diberitakan media massa. Dan penghargaan itu sesuai bidang yang digelutinya masing-masing.
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
02.48
1 komentar
Gubernur Bantu Korban Kebakaran Sungai Kakap

BANTUAN
Gubernur Kalbar Cornelis dan Wakil Gubernur Christiandy Sanjaya menunjungi sekaligus memberikan bantuan kepada korban kebakaran di Pasar Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, Rabu (31/12). Kebakaran ini terjadi pada tanggal 27 Desember menghanguskan 22 buah Ruko. FOTO Lukas B Wijanarko/Borneo Trbune
=====================
Hentakun
Borneo Tribune, Pontianak
Menjelang tutup tahun 2008, tiga kebakaran hebat terjadi di Kalbar. Pertama di Sungai Pinyuh, disusul kebakaran Tanjung Satai Pulau Maya, dan terparah di Sungai Kakap yang melahap 22 rumah dan toko. Kejadian tersebut membuat Pemerintah Provinsi prihatin.
Sebagai ungkapan keprihatian, Rabu (31/12) lalu, Gubernur Kalbar, Cornelis, didampingi Wakil Gubernur, Christiandy Sanjaya, meninjau langsung lokasi kebakaran dan menyapa para korban sambil menyerahkan bantuan berupa; pakaian, selimut dan seragam sekolah. Selain itu, Gubernur juga menyerahkan bantuan alat-alat dapur dan 500 kg beras serta mie instan.
Persoalan surat-surat penting yang terbakar, Cornelis menyarankan agar korban membuat laporan polisi. “Jadi nanti harus buat laporan polisi terhadap barang berharga yang hilang, termasuk ijazah. Ini untuk memudahkan pergantiannya dan menghindari penyalahgunaan dari oknum yang tidak bertanggungjawab,” kata Cornelis.
Cornelis juga minta warga korban kebakaran agar tabah menghadapi musibah ini, tidak ada satu manusia pun di muka bumi ini berdoa untuk medapat musibah. “Karenanya, kita perlu memberbaiki kelalaian kita, kealpaan kita,” kata mantan Bupati Landak itu.
Dengan kondisi seperti sekarang ujar Cornelis, sudah saatnya dipikirkan bagaimana supaya masyarakat Kakap punya pemadaman kebakaran sendiri. Kalau mengharapkan pemerintah susah, pemerintah masih bergelut dengan soal kemiskinan. Bergelut soal pendidikan, kesehatan dan sebagainya.
“Kepada saudara-saudari supaya bersabar menghadapi cobaan ini. Kita pasrah kepada Tuhan apalagi sebentar lagi sudah menyambut hari raya Imlek. Kepada masyarakat sekitar, mohon bantuan menghibur saudara-saudara kita yang mendapat musibah ini,” pinta Cornelis.
Cornelis juga menyampaikan bahwa proses pengurusan ijasah, sertifikat, akan bicarakan dengan Kepala Dinas Pendidikan. Khusus untuk sertifikat tanah akan dibicarakan dengan Kepala Kantor Wilayah Pertanahan karena urusannya agak lain. Namun Cornelis berjanji akan mempermudah urusannya, mengingat korban sudah susah.
Camat Sungai Kakap, Bahtiar, melaporkan, kebakaran terjadi pukul 08.30 WIB. Sebetulnya tim pemadam kebakaran Kecamatan Sungai Kakap sudah berusaha namun karena keterbatasan peralatan sehingga tidak bisa menjinakan kobaran api. Menurut Bahtiar, bantuan mobil kebakaran bukan hanya dari Pontianak, tapi juga Jungkat. “Namun karena jarak tempuh jauh, maka api sudah terlanjur meluluhlantakkan 22 rumah toko. Dan 20 ruko betul-betul rata tanah,” katanya.
Camat juga minta instansi terkait agar dokumen-dokumen yang habis tebakar dapat difasilitasi dan dipermudah dalam pengurusannya.”Saya sebagai Camat Sungai Kakap memfasiltasi korban, yang akan mengurus dokumen seperti Kartu Keluarga, KTP, silakan ke kantor camat, semuanya gratis,” tegas Bahtiar.
Khusus untuk korban, Camat juga mengharapkan juga agar dokumen-dokumen yang diurus sampai ke Gubernur dapat di permudah, terutama sertifikat tanah, karena bgaimanapun datanya di BPN memerlukan birokrasi, untuk itu dimohon adanya keringanan, Ijin Mendirikan bangunan (IMB) dapat digratiskan, kepada para korban kebakaran.
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
02.41
0
komentar
Gubernur: Kiprah Kaum Ibu Luar Biasa

80 TAHUN HARI IBU
Ketua tim penggerak PKK Provinsi Kalbar Ny. Frederika Cornelis menerima karangan bunga dari Vania Larissa (13) peraih mendali emas lomba menyanyi solo di olimpiade seni siswa tingkat nasional 2008 di Bandung, dalam acara Peringatan 80 Tahun Hari Ibu di Pendopo Gubernur Kalbar, Selasa (30/12). FOTO: Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune
===============
Hentakun
Borneo Tribune, Pontianak
Gubernur Kalbar dalam peringatan Hari Ibu di Pendopo Gubernur (30/12) menegaskan nasib kaum itu bisa berubah tergantung kaum itu sendiri mau atau tidak merubahnya.
“Pemerintah sudah memberikan kesempatan yang sama. Kalimantan Barat, untuk demokrasi rangking tertinggi, ini semua tidak terlepas dari kerjanya kaum ibu. Peranan Ibu luar biasa. Kiprah Perempuan Indonesia sangat menunjang dalam membangun karakter Indonesia yang adil aman dan sejahtera,” ucap Cornelis.
Hadir juga anggota DPD-RI Hj Kadarwati, Danlanud Supadio, Yadi Indrayadi, Danrem 121/ABW, pejabat teras Pemprov dan beberapa Kepala dinas di Lingkungan Pemprov Kalbar.
“Berdasarkan angka statistik, kaum perempuan lebih banyak dari kaum lelaki, karena angka kematian kaum lelaki lebih tinggi dibandingkan kaum perempuan. Kenapa?, laki-laki mati perang, stress, macam-mcam dibandingkan dengan kaum perempuan. Persoalan ibu ini sampai ke jenewa sana, bukannya dekat-dekat, sampai diurus PBB nah itu berbahagialah kaum ibu. Perhatian terhadap kaum ibu luar biasa,” jelas Cornelis lugas.
Dalam kesempatan itu, Gubernur juga menyampaikan bahwa, Hari Ibu, di Indonesia dan selalu peringati, sudah ditetapkan dengan keputusan Presiden, dan hari ini peringati ke 80 di Pendopo Gubernur, di tempat yang terhormat milik rakyat ini. Keterwakilan Kaum perempuan di dunia politik masih kurang, belum memenuhi kuata 30 persen.
“Ketika saya menyusun daftar calon untuk legislatif baik DPR-RI, DPRD Provinsi, DPRD Kab/Kota pada pemilu 2009, kita tawari sama perempuan, pertama menggebu-gebu, oke, beres, siap, ketika sudah memasuki penyusunan berkas dan penyusunan nomor urut, timbul persoalan, ga bisa pak ngelengkapi, suami saya ga mau kasih duit, kami masih sibuk ini dan itu, sehingga kuota 30 persen tidak terpenuhi,” ucap Cornelis.
Hal ini yang membuat betapa penindasan terhadap kaum perempuan di Indonesia masih luar biasa. Bagaimana kaum ibu bisa lepas dari ini, ini baru satu persoalan dunia politik praktis, bagaimana bisa lepas, bisa keluar dari dunia politik yang penuh dengan tekanan.
Gubernur juga mengimbau bahwa, pekerjaan kaum perempuan, khususnya kaum ibu, masih berat. “Di kampung-kampung, kaum ibu luar biasa, pagi-pagi harus ke Ladang atau noreh Karet, di depan dia hamil di belakang dia bawa anaknya, jadi kapan kaum ibu ini mau menikmati kemerdekaan,” tegasnya.
Namun Gubernur meminta bahwa emansipasi kaum perempuan, tergantung pada kaum perempuan, terutama perempuan Indonesia, karena Pemerintah dengan keputusan presiden dengan segala macam peraturan peundang-undangan, sudah memberikan kesempatan kepada kaum ibu untuk berbuat maksimal. Gubernur juga meminta kepada kaum ibu agar membantu pemerintah dan KPU mensosialisasikan mekanisme Pemilu sehingga dimengerti oleh masyarakat, terutama dalam keluarga dulu.
Gubernur juga menyarankan kalau ibu-ibu agar percaya diri seperti pemimpin-pemimpin dunia, Benazir Bhuto, Hilary Clinton. Di Indonesia tidak berani, Kota Pontianak saja takut. “Kaum Perempuan tidak percaya diri di republik ini, ini persoalannya,” tegasnya.(Hentakun/Borneo Tribune, Pontianak)
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
02.36
0
komentar
Cornelis: 2009 Pengerjaan Jalan Selesai
Anda mau bepergian ke Ketapang, atau ke Kalteng lewat Jalan Trans Kalimantan? Sebaiknya kalau belum terlanjur, urungnya saja daripada menangis di jalan. Sebaba Jalan Trans Kalimantan penghubung Tayan-Balai Berkuak-Kalteng hancur total.
Namun Gubernur Kalbar, Cornelis, ditemui usai menghadiri acara Hari Ibu, Selasa (30/12) di Pendopo Gubernur, menghimbau masyarakat agar bersabar karena jalan masih dalam perbaikan. “Sekarang mereka sedang kerja, jalan memang rusak, apalagi sekarang musim hujan, saya minta pengguna jalan janganlah membawa truk melebihi muatannya, jalan cepat hancur,” papar Cornelis sembari mengatakan, tahun 2009 pengerjaan jalan dimaksud selesai.
Jalan Trans Kalimantan dikerjakan PT. Waskita Karya dengan dana APBN dan Asia Development Bank (ADB) Rp110.943.450.000,00. dengan konsultan dari China Engineering Consultant Inc. and ASS (CECI). Mereka memulai pekerjaan dua bulan terakhir ini, alat berat pun sudah beroperasi di beberapa titik jalan.
Menurut Anastasius Bantang, Anggota DPRD Provinsi asal Ketapang ketika dihubungi (29/12), mengatakan, pengerjaan Jalan Trans Kalimantan ini baru dimulai dua bulan lalu, padahal tendernya mulai Januari 2008. Anastasius mengatakan, pengerjaan jalan pada musim penghujan saat ini tidak tepat, karena sia-sia. Selain itu, diharapkan kepada pihak terkait seperti Komisi C DPRD Provinsi Kalbar agar melakukan pengawasan lapangan. “Saya sangat menyayangkan karena waktunya tidak pas, proses tender terlalu lambat, hal ini menunjukan kinerja instansi terkait kurang profesional,” kata Anastasius.
Camat Simpang Hulu, Ketapang, Hieronimus Tanam, juga menyayangkan waktu yang tidak tepat dalam mengerjakan jalan ini, senada dengan hal itu, tokoh masyarakat Balai Berkuak, Simpang Hulu, Maretho menyampaikan kinerja kontraktor terlalu lama, sementara masyarakat sangat membutuhkan jalan tersebut sebagai satu-satunya urat nadi perekonmian masyrakat di pedalaman Ketapang.
Christoporus, pengusaha asal Simpang Hulu menyampaikan, memang harga barang saat ini tidak terlalu berpengaruh dengan putusnya Jalan Ttrans Kalimantan, namun kalau ini berkepanjangan, maka akan menyebabkan biaya tinggi, mengingat stok semakin menipis, untuk mendatangkan sembako dari Pontianak, tidak bisa, karena jalan putus, seandainya dipaksa pun biaya operasionalnya tinggi. “Kami kesulitan menaikan harga barang, karena daya beli masyarakat rendah, namun kalau kami tetap dengan harga barang standar (kenaikan standar 2-3 persen) kami akan merugi,” keluh Christoporus lagi.(Hentakun/Borneo Tribune, Pontianak)
Diposting oleh
Drs.Cornelis,MH
di
02.31
0
komentar

Sep 2012
